Yoni Wijoyo. Dari ABRI ke Lighting Designer.

Jakarta, Suaramerdeka.News–Siapa menyangka Yoni Wijoyo, atau biasa disapa Cak Yon, kelahiran Surabaya, 24 Juli 1981, yang pada masa kecilnya bercita-cita menjadi tentara, masuk ABRI, akhirnya kini menjadi salah satu lighting designer terkemuka di tanah air?

Meski sepenceritaanya, dunia panggung sebenarnyaa bukan sesuatu yang baru dalam benaknya. Paling tidak setelah Yoni kecil masuk sekolah SD, atau pada kelas 3, dia gemar membuat mainan yang kemudian dia tata membentuk sebuah panggung pertunjukan, “Sambil saya nyanyi teriak-teriak. Saat itu lagu yang selalu saya nyanyikan adalah lagu “Kuserahkan,”ciptaan Johanes Purba, dan dinyanyikan oleh Bintang Rock Indonesia seperti Ahmad Albar, Ikang Fauzi, Anggun C. Sasmi, Renny Jayusman, Freddy Tamaela, Cut Irna,” kata Yoni melempar kenangan.

Yoni menambahkan, sebagai bocah dia adalah pengagum para penyanyi-penyanyi rock legendaris Indonesia tersebut.

Panggung pertunjukan yang ditata dari barang-barang mainan tersebut yang membuat daya kayal dan imajinasi Yoni mewujud sekarang ini, di dunia panggung pertunjukan.

“Bermain dengan kayalan, berhayal dan berimajinasi itulah, yang sampai sekarang masih saya pakai ketika harus mendisain tata lampu pertunjukan di panggung,” katanya.

Konser Tulus, satu dari sekian banyak yang didisain pencahayaannya oleh Yoni. (SMNews/Danny Ve)

Anak ke 3 dari 4 bersaudara ini meski satusatunya anggota keluarga yang tidak mendapatkan gelar sarjana, tetap tidak menyesali keputusannya berkecimpung di dunia lighting designer. Meski orang tuanya adalah seorang Konsultan Pajak.

Yang menjadikannya bahagia, karena pilihan hidupnya itu mendapatkan dukungan dari istrinya. Juga kedua buah hatinya.

“Istri mendukung apapun yang saya lakukan selama itu di jalan yang benar dan tidak merugikan dari semua sisi, termasuk waktu. Karena dari sisi waktu pada awalnya berat, istri dan anak-anak di Surabaya sedangkan saya di Jakarta. Tapi akhirnya sekarang ini saya tarik istri dan anak-anak ikut di Jakarta,” katanya.

Bahkan anak keduanya, yang masih berusia 6 tahun, dalam sebuah kesempatan mengatakan, “Aku ingin kaya bapak”, katanya, yang pelanpelan mulai memperkenalkan piranti console kepada anaknya.

Selain itu, Yoni juga mulai mengajak bicara anaknya, ihwal dunia tata panggung teristimewa tata sistem pencahayaan, atau lighting. Termasuk kapan mulai melibatlan emosi, dan persoalan teknis maupun non teknis lainnya.

“Bagi saya pola mendidik anak jaman sekarang harus mengubah kebiasaan, atau lebih tepatnya menambahkan, bukan mengubah. Kalau orang tua jaman dulu kan..”pokoknya harus sekolah”, “yang penting nilai raport harus bagus”. Nah kalau saya lebih memilih pola, “harus kreatif dulu”, katanya sembari menambahkan, jika kreatifitas anak sudah dilatih dari awal, serta diberi tantangan, ke depannya, si anak akan lebih berkembang dari orang tuanya.

Salah satu disain tata lampu Yoni. (SMNews/Doc)

Yoni yang sempat mengenyam jenjang pendidikan di Fakuktas Sastra Inggris di Universitas Dr. Sutomo Surabaya tahun 2000, dan hanya bertahan selama 1 semester, karena sibuk nge-band, dan bikin lagu dengan UKM Kampus, justru berprestasi. Dengan membawa nama kampus melalui festival-festival tingkat Nasional, dan menempatkan namanya sebagai The Best Drum. Hingga mendapat beasiswa dari kampus.

Tapi jalan nasib memang mempunyai caranya sendiri menuntun ke masa depan seseoranf. Setelah sempat mengajar drum serta les musik. Yoni juga sempat menjadi PNS dan malah sudah dilakukan pengangkatan, “Saat itu saya sebagai Guru Seni Musik di salah satu SD Negeri di Surabaya. Itu gak berlangsung lama, karena kemudian saya tinggal karena band-band-an. Ketika pamit-pun saat itu karena saya harus berangkat ke Jakarta bikin album,” katanya mengenang.

Setelah itu, alihalih menjadi drummer, Yoni pelan dan pasti mengawali karir sebagqi Lighting Designer.

Meski pada awal mengawali karir ini, bahkan ada “perlawanan” dari kawankawannya. “Kon ikuu ngopoo koq tukang lampu, weiss genah-genah dadi drummer”,” katanya mengenang dalam logat Suroboyoan, Yoni menjawab : “Di delok aee 5 tahun ke depan, aku weeis bisa mocoo rekk”.

Dan benar saja yang terjadi. Seiring waktu, kawankawannya akahirnya berkomentar positif. “Gendheeng kon, Suroboyo gak ono musisi anyaar tapi onoo seniman lighting..salut Yon”.

Tapi semudah itu membangun karirnya? Tentu tidak. Pencapaian selama berkarir sebagai Lighting Designer menurut hingga kini belum maksimal.

“Saya merasa pencapaian secara signifikan belum tercapai, sampai sejauh ini yaa paling ada aja job, networking juga semakin terbangun dengan kuat dan lebih luas dengan para EO, Promoteur dan klien lainnya,” katanya. Dia menambahkan, pencapaian yang diainginkan belum tercapai. Karena impiannya menjadi seorang International Lighting Designer, belum terwujud.

Yoni Wijoyo (SMNews/Doc)

“Saya pengen keliling dunia dengan pekerjaan saya ini. Karena saya melihat band bule yang memiliki tim produksi sendiri. Menjadi tim, bagian dari mereka siapapun itu band kelas dunia untuk tur keliling dunia,” tekannya.

Satu lagi impian Yoni adalah menjadi sosok yang gemar berbagi seperti para nabi. sosok yang sharing di bidang ilmu tata cahaya. “Entah itu jadi guru, atau apapun yang bisa bermanfaat untuk orang banyak,” harapnya.

Siapa idola Yoni atau orang yang berpengaruh dalam berkarir di profesi yang sekarang ini?

“Banyak. Saya mengidolakan banyak orang, walaupun bukan dari orang lighting. Seperti Lars Ulrich, Kurt Cobain, Dave Grohl, Sid Vicious..itu para musisi, tapi saya suka dari attitude nya yang terkesan berantakan, tapi itu adalah atau menunjukan karakter yang be your self,” katanya.

Kalau dari dunia lighting, dari awal Yoni belajar, mengidolakan Leroy Bennet. “Dia adalah lighting designer untuk Bruno Mars, Nine Inch Nails, Rammstein, Madonna, banyak lah yang di tanganinya. Dia sangat senior,” katanya.

Banyak sosok lagi yang Yoni kagumi dan jadikan mentor, seperti istrinya, orang tuanya dan banyak mentor-mentor yang membuka pintu untuk berbagi ilmu. “Karena saya typical yang suka mendengar dan suka mencoba melakukan apa yang diomongin ke saya. Selama apa yang saya dengar itu memang cocok untuk saya,” katajya.

Apa pesan Cak Yon untuk generasi penerus penata cahayaan di Indonesia?

“Ada satu pepatah yang disampaikan ke saya, dari almarhum guru saya.. Lemi Sopian , “Loe jangan takut untuk berbagi, karena ketika loe memudahkan jalan orang, jalan loe akan dimudahkan”, katanya.

Orang tua Yoni juga pernah berpeasan, “Yoni..work hard and work smart”. Jadi kamu jangan cuma kerja keras, tapi kamu juga harus kerja secara cerdas,” ujarnya.

Lalu dia memperkaya nasehat orang tuanya, yang berbunyi, “Jadi kita berbuat baik aja sama orang siapapun itu, niat baik aja”.

Jadi bagi siapapun, generasi muda yang ingin belajar atau mau mencoba menekuini profesi penata cahaya ini, selain belajar tehnis, harus juga belajar merasakan apa yang kita mainkan. Biar dapat feel nya. Bekerja sama itu sangat penting, tapi jangan tergantung kepada siapapun. Karena dalam bekerja sama kita tetap mendapat ilmu baru, kebiasan baru, pelajaran baru dan wawasan. Tapi dengan tidak bergantung kita akan tetap memiliki ciri kita sendiri,” tekannya.

Di atas itu semua, “Lakukan yang terbaik, bikin klien happy, lakukan semua dengan pikiran positif. Karena dengan pikiran kita positif, energy yang mengalir dari FOH sampai ke panggung akan positif semua,” katanya sembari membagikan pesan penting.

Jika suatu saat bertemu klien yang “ribet”, “Anggap lucu aja, anggap senang. Yaa di jadikan hiburan aja. Penerimaannya di balik supaya energy kita positif. Kalau suka nya yaa sebagai seniman tata cahaya yang seperti sekarang ini padahal tidak pernah terpikir sebelumnya,” pungkasnya menutup pembicaraan. (benny benke-69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *