Yanni: Sampai Nafas Terakhir.

Yogyakarta, Suaramerdeka.News — Penyair ulung berpikir dan berkomunikasi dengan pilihan kata illahiahnya. Pelukis hebat berpikir dan berbicara dengan goresan dan sapuan gambar menggetarkannya. Komposer, keyboardis dan pianis sohor dunia Yanni berpikir, merasakan, dan mengkomunikasikan hidup dan kegelisahannya, via musik penuh kedalamannya.

Demikian yang terjadi saat maestro asal Yunani, Giannis Chrysomallis (64) tampil di panggung Loro Jongrang, Candi Prambanan, sebagai bagian dari gelaran Prambanan Jazz Festival 2019. Tampil di hari kedua PJF #5, Minggu (6/7) mulai pukul 21.00 WIB Yanni benarbenar menunjukkan kebesarannya.

Sebagaimana galibnya konser Yanni di sejumlah landmark dan situs bersejarah di seluruh dunia. Dari Taj Mahal, Acropolis, Forbidden City, Burj Khalifa, Kremlin, Istana El Morro, Piramida dan Sphinx of Giza, di selasar Candi Prambanan, Yanni menjelma pesulap sekaligus pembius agung. Dengan menggubah musik menjadi wahana mengunjungi diri sendiri, liyan, alam semesta dan Tuhan.

Yanni di PJF #5. (Suaramerdeka.News/ Bb).

Dengan melaraskan genre musik jazz, klasik, soft rock, hingga world music berlatar Timur Tengah sampai China, Yanni menciptakan musik instrumental — yang banyak diamini kritikus musik — untuk mengembara ke semua wilayah kejiwaan manusia. Dari nuansa keheningan, kekosongan, komtemplasi, kesedihan, hingga keriangan. Musik Yanni mengembalikan fungsinya ke aras paling azasi: alat komunikasi paling universal. Menenggelamkan kendala bahasa. Dari sini kita tahu, mengapa musiknya sangat diterima di semua kebudayaan dunia. Dan membuatnya mendapatkan julukan, “true global artist”.

Dengarlah dan saksikanlah saat Yanni meracik dan melaraskan musik elektronik synthesizer, dan symphony orchestra-nya. Didukung 11 musisi yang selesai dengan urusan teknis, dari berbagai belahan negara di dunia. Yang memainkan instrumen drum, bass gitar, violin, cello, terompet, trombone, keyboard, synteziser, hingga perkusi.

Mengenakan pantalon putih, baju linen berlengan panjang, yang melapisi kaos biru muda, dipadukan dengan sepati kets sewarna, Yanni menyeruak ke atas panggung berlatar belakang Candi Prambanan yang bermandi cahaya, sembari melambaikan tangan kehadapan ribuan pencintanya. Yang telah mengular antri masuk arena pertunjukan sejak pukul 19.30 WIB.

Setelah menghantarkan komposisi For All Seasons dan Keys to Imagination, Yanni baru membuka dialog. “Hallo Jogja. Saya senang di Jogja. Apa kabar,” katanya dalam bahasa Inonesia, sembari duduk di kursi grand pianonya. “Malam yang indah. Ini waktu dan momen yang istimewa dalam hidup. Saya akan berbicara lewat bahasa musik (kepada Anda). Berikut ini, saya akan membawakan komposisi berjudul Felitsa. Bercerita tentang cinta tanpa syarat,” kata Yanni.

Yanni di PJF #5. (Suaramerdeka.News/Bb).

Sejenak kemudian, jarinya menari di atas tuts grand piano. Komposisi Felitsa bernuansa nglangut, menempatkan piano dan violin sebagai instrumen utama komposisi. Sehingga melahirkan suasana syahdu.

Nomor ini purna. Tepuk tangan membahana. Sejurus kemudian When Dreams Come True, The Rain Must Fall, Réflection of Passion dan Vertigo menyusul di belakangnya. Di setiap komposisi berdurasi antara 4 menit hingga 8 menit itu, Yanni senantiasa memberikan kesempatan setiap musisi pendukungnya melakukan atraksi solo. Sehingga makin menerbitkan kekaguman penikmat musiknya. Sembari Yanni memperkenalkan para musisi pendukungnya. Dari Gabriel Vegas, Lindsay, Alaexander Zerov atau Sasha, Ming Freeman dan beberapa nama lainnya, setelah mereka melakukan aksi solo.

Demikian halnya saat Nightingale diabawakan, Yanni yang memainkan piano mempersilakan Lauren mendampinginya dengan cello-nya. Nomor sohor ini tentu saja, lagilagi mendapatkan respon luar biasa penonton. Yang ratarata didominasi penonton paruh baya. Yang terlihat sudah selesai dengan persoalan ekonomi. Terlihat dari dandanan necinya. Dan ratarata penotonnya dari kawasan Asia.

Nightingale purna, Acroyali dan Desire menyusul di belakangnya. Setelah itu, Yanni membuka dialog lagi.

“Satu yang membuat saya sembuh (dari cideranya beberapa waktu lalu). Sebuah foto bergambar Candi Prambanan yang dikirimkan kepada saya, dari salah satu fans. Sehingga membuat saya berpikir, saya akan dan harus baikbaik saja,” katanya dengan intonasi bercerita yang cenderung datar, disambut tepukan meriah. Mendapatkan sambutan hangat, Yanni melanjutkan, “Orang Indonesia adalah manusia paling manis yang pernah saya temui di dunia. Anda adalah manusia yang indah. Dari cara bertatap muka, tersenyum, dan menyambut lawan bicara Anda, ” katanya.

Setelah itu, sebagaimana tabiatnya di sejumlah konsernya di banyak tempat, Yanni berkisah tentang nilainilai kebajikan. “Ayah saya pernah bercerita kepada saya, tentang kesederhanaan, penerimaan dan nilainilai kehidupan lainnya. Hidup, kata ayah saya, sangat pendek dan cepat berlalu. Maka hargai hidup itu, ” kata Yanni sambil memperkenalkan komposisi, “Until the Last Moment” .

Di nomer kalem dengan tempo lambat, yang melaraskan bunyi piano dan violin ini, pada momen gesekan violin, suara yang ditimbulkanya laksana suara orangorang soleh yang sedang mengadu dan menangis, sembari melangitkan doa kepada Tuhannya. Menyayat sekaligus suwung. Seperti suara persona yang sedang merintihkan beban persoalan hidup yang tak tertanggungkan. Membuat orang yang mendengarnya menjadi turut terbawa dan terlena dalam kesedihan itu.

Dan suara menyedihkan itu, hadir dari gesekan violin Samuel Gabrieni dari Armenia. “Jadi komposisi ini bercerita tentang esensi hidup, sampai momen terakhir, sampai napas terakhir,” kata Yanni setelah nomor ini purna, dan sambutan penontonnya, lagilagi, masih luar biasa.

Ya, Yanni memang bukan sekedar musisi handal. Dia sekaligus pemikir dan filsuf paruh waktu. Tidak berlebihan di setiap konsernya, dia seperti sedang berkotbah, layaknya pemuka agama. Yang berbicara tentang nilainalai kesejatian dalam hidup, kebaikan, kasih sayang, cinta, welas asih, penerimaan dan integritas, sebagaimana diajarkan ayahnya. Budi pekerti itulah yang coba diamanesfestasikan dalam musiknya. “Filosofi hidup saya, tercermin dalam musik saya, ” kata Yanni dalam sesi temu wartawan, Kamis (4/7) di hotel Tentrem, Yogyakarta.

Maka tak mengherankan pula, sarjana Psikologi yang lebih mencintai Filsafat ini, bisa dengan enak berbicara tentang Socrates dan kebenaran sejati, seni dan filsafat. Sehingga filsuf paruh waktu yang “nyaru, ” jadi komposer dan pianis handal ini, bisa malih rupa menjadi persona yang berbeda, dengan segenap keagungannya, saat sudah berada di atas panggung.

Keagungan itu mewujud saat komposisi terkenal berjudul Santorini dibawakan dengan segenap kemegahannya. Nomor lawas yang melegenda, dan telah wara wiri dalam memori kolektif ini, membuat panggung Roro Jonggrang seolah meledak. Sehingga konser yang merupakan bagian dari “25th Anniversary Acropolis,” inisiasi Rajawali Indonesia ini, menemui puncak kemegahan dan keagungannya. Pepak dengan citra indah dan bersejarah bangunan Candi Prambanan di belakangnya.

Santorini memang pas dan pantas menjadi pilihan pamungkas konser luar biasa ini. Sampaisampai tepuk riuh membahana untuk waktu beberapa lama. Saat Yanni undur ke belakang panggung untuk beberapa saat. Meninggalkan kebesarannya terlanjur menancap dalam di hati penikmat musiknya. Sehingga gema, “We want more”, membuat Yanni harus memberikan encore, atau tambahan penampilan.

Dan benar saja. Beberapa jenak kemudian dia jelma ke tengah panggung, sembari berkata, “Penontonnya luar biasa, tempatnya luar biasa. Fantastik. Sangat menyembuhkan (very healing). Saya akan bercerita kepada Anda. Betapa pentingnya arti sebuah mimpi. Sebagaimana saya terus bermimpi untuk bisa bermain di tempat ini. Dan sampai sekarang, seperti bermimpi bisa tampil di candi Prambanan. Saya akan kembali lagi ke Yogyakarta,” katanya datar tapi penuh kesungguhan.

Sejurus kemudian, sebelum benarbenar mengakiri pertunjukannya, yang terasa seperti melipat waktu, padahal berjalan selama 120 menit lebih, komposi tentang makna mimpi, berjudul, “One Man’s Dream,” dan “Nostalgia,” diahadihkan kepada penontonnya. Yang kemudian meninggalkan arena pertunjukan dengan impresi kekaguman masingmasing, kepada guru Yanni. (benny benke – 69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort