- Kolom Esai

Sing Salah Seleh.

Oleh Benny Benke.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Berkelahi melawan sepi dan ketidakpastian adalah perkelahian dalam rupa yang berbeda. Sangat tidak mengenakkan. Hanya manusia tertentu yang sanggup menghadapi hal itu, dan mengubah kesepian dan ketidakpastiannya menjadi sesuatu yang berarti dan luar biasa.

Bagainana caranya? Saya tidak tahu. Meski tiap orang pernah melewati fase ini. Karena memang tidak ada yang baru di bawah matahari.

Saya pernah menyimak pengalaman orangorang dan kawankawan yang pernah menginap di hotel prodeo, bahkan untuk alasan kriminal, maupun politik. Waktu berjalan merambat di sana. Sangat lambat sekali, katanya.

Bahkan halaman koran yang sudah dibaca, akan kembali dibaca ulang, termasuk halaman iklannnya. Semua telah dibaca, kembali lagi dibaca. Demikian seterusnya sampai mata menyerah, kalah karena tusukan perulangan. Bagi yang mempunyai buku, atau kemampuan menulis yang baik, bersyukurlah. Ketekunan berkawan dengan buku, sangat menolong di sana. Selain kelenturan hati bersahabat dengan sesama napi.

Jika kemampuan beradaptasi Anda lemah di sana, selamat tinggal. Wassalam. Selesai nasib Anda bukan hanya dibully sesama napi. Lebih dari itu, menjadi sapi perahan lahir batin! Jadi, bahkan ketika berada di penjara sekalipun, insting perkelahian Anda malah semakin diuji, diasah dan dikembangkan.

Saya pernah hanya 24 jam menginap di hotel prodeo karena alasan politik. Dalam 24 jam itu, saya harus mengisi berlembarlembar pertanyaa dari aparat. Ihwal nama lengkap, tanggal lahir, nama orang tua kandung, ibu kandung, alamat rumah, jumlah saudara, nama saudara dan seterusnya.

Begitu jawaban yang ditulis tangan ini purna. Akan ada berlembar lembar kertas lainnya, yang draft pertanyaannya sama. Dan kita, lima mahasiswa Undip yang terjaring aparat saat hendak melompat di Kedubes Prancis, dalam rangka menuntut referendum di Timor Leste, harus melakukan prosesi yang sama: menjawab berlembar lembar pertanyaan yang sama.

Demikian seterusnya. Sepertinya aparat ingin mencari konsistensi jawaban kita. Bukan apakah jawaban kita benar atau salah. Konsistensi jawaban. Kalau di awal jawaban kita sudah berbohong, maka berbohonglah dengan konsisten untuk selamanya!

Pertanyaannya, sejauh dan sekuat apa manusia konsisten melakukan kebohongan? Begitu dia membangun dan menciptakan kebohongan, pada detik itu juga, dia harus bersiap menyusun arsitektur kebohongan lainnya. Sampai kebohongan itu benarbenar kokoh adanya. Laksana kebenaran saja, yang berdiri dengan natural, organik dan tak tergoyahkan.

Sekali kebohongan terlihat cacatnya, sedikit saja. Maka akan ambruklah arsitekturnya, dengan sangat cepatnya. Hanya orangorang yang mempunyai keberanian dan teknik perkelahian yang luar biasa dalam kehidupan, yang mampu menciptakan dan membangun arsitektur kebohongan dengan nyaris sempurna.

Nyaris!
Karena betapapun hebatnya kebohongan itu, hanya masalah waktu dia akan ambruk dengan sendirinya. Betapapun kokoh dan sombong kebohongan itu berdiri dan ditaja. Betapapun kebohongan itu, dibangun oleh rezim yang acap mengaku paling Pancasila sekalipun. Paling religius nasionalis sekalipun. Paling Bhineka Tunggal Ika sekalipun.

Entah bagaimana caranya, kebenaran akan menemukan caranya sendiri meruntuhkan kebohongan. Kebenaran akan berkelahi dengan caranya sendiri, menghantam kebohongan. Betapapun kebohongan itu dengan cara jenius dan terhalusnya disembunyikan di bawah tilam para agamawan. Dan dijaga secara berlapis oleh aparatur dan perangkat negara. Bahkan melibatkan hewan peliharaan mereka sekalipun. Karena sunnatullahnya, hukum alamnya, kebenaran akan mengalahkan kebohongan, entah bagaimana caranya.

Bukankah hidup itu maha ajaib. Dan lewat keajaiban yang banyak di sekeliling kita itulah, kebenaran akan bekerja dengan cara laten dan misteriusnya. Incognito.

Lalu apa yang akan terjadi, jika perkelahian terjadi diantara orangorang pemberani. Denga keyakinan kebenaran masingmasing. Yang sangat meyakini kebenaran masingmasing, dan mendaku kebenaran hanya ada di pihaknya. Yang lain adalah keliru saja?

Ihwal perspektif kebenaran yang sangat subyektiif, anak kemarin sore yang baru belajar bandel dan menyabetkan parang atau clurit secara random kepada orang lain yang ditemuinya, juga tahu itu.

Subyektifitas itu makin sempurna karena perspektifnya dalam menimang dan menimbang kebenaran juga berbeda. Kebenaran verzi rezim dengan kebenaran versi publik dalam banyak hal acap berpungggungan. Kebenaran dari penguasa adalah kebohongan bagi kalayaknya. Demikian sebaliknya.

Lantas kapan ketemu titik damainya?

Tidak akan pernah ketemu, mungkin. Karena kumpulan dan pendukung rezim yang pemberani dan lihai berkelahi juga tidak sedikit. Demikian sebaliknya, barisan siap mati di kalangan publik sebagai pemilik syah republik, dengan segala keberanian dan pengalaman melewati gelanggang perkelahian, juga tak kalah jumlahnya.

Jadi saat dua sisi ini bertemu. Yang terjadi adalah kurusetra. Sebuah palagan yang mahadahsyat, yang tidak akan pernah terbayangkan akibatnya. Bisa jadi yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Binasa duaduanya. Dan kebenaran entah pergi ke mana. Perkelahian menjadi semacam siasia.

Kebenaran bisa tumpas akibat palagan semacam ini. Atau lahir kembali dengan tafsir barunya. Kebenaran menjadi milik pemenangnya. Untuk kemudian para pemenang akan membangun kisah kemenangan dengan bumbu kebenaran versinya. Meniadakan kebenaran pihak yang kalah. Karena memang demikianlah sejarah ditulis dan ditafsir pemenangnya. Di era mana saja. Oleh rezim siapa saja.

Sebagai pencatat kisah perkelahian. Saya telah membaca, menyimak dan mengalami sendiri perkelahian yang diawali dengan latar belakang perebutan klaim ke-be-na-ran.

Sayangnya dan hebatnya, kebenaran bisa datang dari mana saja. Bahkan dari publik yang mululu di matamatai oleh penguasanya. Dan dikte kebenaran datang dari satu arah: penguasa. Di luar kekuasaan adalah hoax, radikal, makar, inskontitusional, mengganggu ketentraman dan melawan negara. Oleh karenanya pantas diciduk ke penjara.

Bayarannya, Anda tahu sendiri. Penjara dengan pasal berlapis yang mengangkangi akal sehat. Lantas, sampai di mana para pemberani dan tukang kelahi mengenakan tanda kabung di kepala, melihat dan menyaksikan ketidakberesan ini?

Kegilaan ini akan ditoleransi sampai di mana? Kegilaan ini akan dibebaskan sampai kapan. Dibiarkan saja, sampai kegilaan itu menelan dirinya sendiri?

Membiarkan kegilaan masuk ke ruang privat kita, bahkan mengatur cara beribadah dan melarang kita masuk ke urusan politik negara. Karena urusan politik negara biar yang kuasa yang mengaturnya sekena dan seenaknya udelnya, adalah kegilaan yang tidak mungkin ditoleransi lagi.

Jadi, samasama dimatikan pada akhirnya, jauh lebih dramatik jika kita sahid di kurusetra. Binasa di palagan yang kekuasaan ciptakan dengan kegilaannya. Mati terhormat. Sekali berarti sudah itu mati. Berkelahi dulu dengan segenap keberanian kita, setelah itu menyerah kalah, mati. Karena memang tidak akan pernah imbang berkelahi dengan kekuasaan.

Tapi paling tidak perkelahian kita akan mengantarkan kita ke aras kehidupan yang sebenarnya. Arsi. Firdaus. Wangi kematian orangorang yang berkelahi dan mati mempertaruhkan kebenaran adalah surga. Meski surga acap diolokolok oleh penguasa, karena surga sebenarnya, katanya, hanya milik mereka, bukan milik lawan politiknya. Bahkan tafsir surga sudah mereka akuisisi. Perduli setan. Para pemberani mati sekali. Pengecut mati berulang kali!

Jadi, berkelahilah sampai nanti, sampai mati. Berkelahi dengan siapa saja. Bahkan dengan orangorang atau rezim yang gemar mengakuisisi kebenaran dan membohongkan yang lain. Membohongkan yang berada di luar lingkar dan dukungan kekuasaan. Kalau bukan berkawan dengan kami adalah musuh kami. Demikian kirakira slogan penguasa.

Jadi, masih takut berkelahi? Takut sudah lama dimatikan di negeri ini. Takut sudah lama kalah dengan kegilaan yang tak berkesudahan di negeri ini. Takut sudah lama pergi dan tak akan pernah kembali. Takut sudah lama musnah, dan harus kita gantikan denga kegairahan melawan kesewenangan.

Karena ini bukan masalah 01 dan 02 lagi. Ini masalah kekuasaan yang bisa dipegang siapa saja. Tapi menghilangkan kebijaksanaan di singgasanya. Demi memperpanjang durasinya. Dengan cara apa saja. Membabi buta. Untuk kemudian menggantikannya dengan kesewenangan sesuka udelnya.

Siapapun yang sedang di sisi kekuasaan, dan dia menyelewengkan kekuasaannya, kita harus melawannya. Apapun bayarannya.

Jadi sing salah seleh, yang salah menyerah. Bukan yang salah makin menjadi kegilaannya. (BB-69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *