- Kolom Esai

Wayang Tradisional sebagai Wahana Komunikasi (3-Habis)

Oleh Kanti Waluyo (dosen Univ Indonesia Esa Unggul) dan Irfan Fauzi Arif (pegiat sosial dan budaya Sunda)

Dalang Wayang Cepak dari Anjun Paoman Indramayu, pemilik kesenian tradional Wayang Cepak “Sekar Harum”. Ki Ahmadi adalah generasi ke-5 dari penerus dalang wayang cepak, leluhurnya yaitu Ki Pugas, Ki Warya, Ki Koja, Ki Salam. Namun sayang Ki Ahmadi tidak memiliki anak laki-laki, sebagai penerus dalang. . Hingga saat ini ilmu dalangnya belum diturunkan kepada siapa pun karena tidak ada anak muda yang mau mempelajari seni wayang cepak dari daerah Indramayu. 

Padahal di Universitas California Santa Cruz terdapat guru besar pedalangan wayang golek Sunda dan Wayang Golek cepak, yaitu Prof.Dr. Kathy Foley. Ia seorang wanita yang belajar mendalang dari almarhum Ki Sunarya dalang wayang Golek Sunda yang terkenal. Jadi sebetulnya bukan alasan kalau tidak ada penerus mendalang karena anaknya tidak ada anak laki-laki.  Mahasiswa-mahasiswa yang belajar mendalang dan menabuh gamelan sebagaian besar laki-laki dan wanita berasal dari Amerika, Eropa, Australi, Jepang, Korea, dan Cina. Bahkan di Universitas California Berkeley ditawarkan mata kuliah menabuh gamelan Jawa yang tahun 1982 dipimpin oleh ki Tjokro Wasitadipura.

Cerita utama wayang golek cepak berasal dari kisah para menak atau bangsawan di negeri Arab hingga berkembang ke nusantara. Oleh karena itu wayang ini disebut dengan wayang Menak karena isi ceritanya bersumber dari menak (cerita-cerita Amir Hamzah), namun karena bentuk kepala wayang rata maka disebut papapak atau cepak.

Kisah perjuangan Amir Hamzah (paman Rasullulah) merupakan menu utama penyajian cerita wayang golek Cepak. Menu lainnya diambil dari Babad |Tanah jawi, Babad Indramayu dan babad Cire Wayang Menak menceritakan cerita-cerita heroik perbuatan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad. Amir Hamzah dan para pengikutnya menemukan banyak tantangan dari orang-orang kafir (orang-orang kafir dalam Islam). Tantangan-tantangan ini mengakibatkan pertempuran di mana orang-orang kafir kalah dan kemudian mengadopsi Islam sebagai agama mereka. 

          Pada akhir siklus Menak wayang cerita, setelah semua musuh-musuhnya telah dikalahkan, Amir Hamzah kembali ke Madinah dan bertemu dengan Muhammad. Amir Hamzah memasuki medan perang untuk membela Madinah melawan serangan dari Medayin (sebuah kerajaan di masa kini Irak). 

Dewasa ini kehidupan seni wayang semakin terpuruk, karena anak-anak muda sekarang lebih senang dengan musik-musik dari luar negeri seperti reggae, punk, pop, korea dan musik lainnya, begitu juga dengan masyarakatnya yang lebih suka dengan musik organ tunggal dibandingkan dengan mempelajari kesenian tradisional. Dia mempunyai keinginan untuk mendirikan sanggar seni wayang cepak agar kesenian tradisional ini tidak punah. 

    Wayang-wayang koleksi Ki Ahmadi sebagian besar dibuat tahun 1890an. Semuanya tertulis rapi dalam huruf Jawa serta terdapat catatan kisah cerita wayang cepak itu sendiri. Catatan tersebut berisi nama wayang, tanggal pembuatan wayang dan sebagainya.Namun sayang karena kebutuhan hidup yang semakin berat, apalagi ketika ki Ahmadi sakit sehingga beberapa wayangnya terpaksa dijual ke dalang atau kolektir baik dalam negeri maupun luar negeri.

Ki Ahmadi, dalang ternama di Indramayu menampilkan cerita Babad Dermayu, yaitu kisah tentang terbentuknya wilayah Indramayu. Jalan cerita dimulai dengan kedatangan Endang Darma, pendekar perempuan dari Palembang ke lembah Cimanuk. Diakhiri dengan pertarungannya dengan Pangeran Wiralodra, penguasa di lembah itu.

Cita-cita luhur  Ki Ahmadi dengan melestarikan wayang golek Cepak kepada para pelajar Indramayu, agar wayang g Menurut Ki Ahmadi, sebelum pertunjukan, cerita dalam wayang golek cepak kebanyakan diambil dari cerita rakyat dan dongeng asal usul sebuah daerah, seperti Babad Dermayu atau Babad Cirebon. Di sela-sela pertunjukakkan, sinden mengundang penonton untuk nyawer. Tradisi ini sudah jamak dilakukan di masyarakat pesisir Indramayu dan Cirebon dalam tiap pementasan wayang 

.    Walaupun untuk satu kali pertunjukan secara lengkap, si pengundang harus mengeluarkan uang sebanyak 8 juta rupiah untuk wilayah Indramayu sementara untuk wilayah lain ditambah dengan biaya transportasi. Tetapi semua bisa diatur kalau untuk kepentingan pendidikan.

Faktor-faktor penyebab punahnya wayang golek Cepak Indramayu 

    Banyak faktor penyebab punahnya pagelaran wayang golek cepak, yaitu

Minimnya perhatian masyarakat terhadap kesenian wayang cepak Indramayu. Kalau dahulu setiap ada hajatan, masyarakat menanggap wayang, apakah perkawinan atau khitanan. Sekarang kalau ada peringatan ulang tahun desa atau ulang tahun partai tertentu baru menanggap wayang,Jaman dulu orang tua selalu mendongeng tentang cerita-cerita yang disampaikan sang dalang dalam setiap pertunjukkan. Dengan demikian anak-anak sudah mengenal jalan cerita wayang yang akan dipentaskan.,Dewasa ini banyak tontonan lain yang mudah dicerna dan sangat menarik bagi kaum muda. Misalnya band, orkes dan layar tancap. Apalagi dengan munculnya internet, hamper setiap anak mengenal internet. Sayangnya yang dipelajari di internet bukannya ilmu pengetahuan, namun hal-hal yang bersifat hiburan belaka,.Waktu pertunjukkan lebih singkat yaitu 2-3 jam saja, sementara pertunjukkan wayang semalam suntuk.,.Bahasa yang digunakan dalam pertunjukkan wayang golek cepak Indramayu masih menggunakan bahasa daerah, sementara anak-anak muda sekarang banyak yang tidak pandai berbahasa daerah. Umumnya mereka menggunakan bahasa Indonesia, bahasa prokem dan lebih banyak belajar bahasa asing dari pada belajar bahasa daerahnya sendiri, Jumlah dalang wayang golek cepak Indramayu semakin sedikit penerusnya,Pembinaan dalang-dalang muda perlu pelestarian dengan kerjasama dengan pemerintah dan swasta.

Kesimpulan

Wayang Golek Cepak Indramayu merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan masyarakat Indonedsia khususnya masyarakat Indramayu. Apalagi wayang golek Cepak ini merupakan salah satu budaya yang tertua di Indramayu. 

2.Wayang golek cepak Indramayu  mulai ditinggalkan masyarakat penontonnya, karena mereka beralih pada tontonan dan hiburan yang mudah dicerna.

3. Wayang golek cepak indramayu perlu melalui sekolah Dasar hingga perguruan tinggi.

4 Nilai-nilai universal yang terkandung dalam pagelaran wayang perlu disebar luaskan kepada khalayak karena syarat pendidikan moral bangsa..

Saran-saran

1Perlu pengenalan wayang golek cepak Indramayu kepada murid-murid dari SD hingga Perguruan Tinggi,Pada acara hari ulang tahun kemerdekaan dan acara yang sering dilakukan di sekolah-sekolah perlu tampil wayang golek cepak Indramayu, agar masyarakat cinta terhadap seni budaya sendiri.,Perlu pembinaan dalang cilik wayang golek cepak Indramayu,Perlu bantuan dana dari pemda setempat dalam pelestarian seni budaya wayang golek Cepak Indramayu.(bn/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *