- Kolom Esai

Wayang sebagai Media Komunikasi Tradisional(3):Kanti Walujo(Dosen Fikom Esa Unggul),Irfan Fauzi Arif(Pegiat Sosial dan Peduli budaya Sunda)

    Dalam kamus bahasa Indonesia, diperoleh arti kata pelestarian sebagai berikut: 1 proses, cara, perbuatan melestarikan; 2 perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan; pengawetan; konservasi: ~ sumber-sumber alam; 3 pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya;~ .

Metode penelitian ini menggunakan  gabungan antara metode library research atau studi kepustakaan  dengan penelitian kualitatif. Mengingat waktu dan dana yang terbatas, jadi penelitian ini menggunakan materi-materi yang sudah dilakukan para ilmuwan terhadap wayang golek cepak Indramayu.

Penelitian awal dilakukan dengan library research atau penelitian kepustakaan, dengan  brosing di internet, untuk mencari segala macam informasi termasuk hasil penelitian terdahulu  yang berhubungan dengan dalang Wayang Golek Cepak Indramayu. Juga melakukan wawancara dengan instansi di Sekretariat pewayangan Nasional Indonesia (Senawangi) di Taman Mini.  Penelitian selanjutnya akan dilakukan ke Indramayu dengan mewawancarai para dalang wayang golek cepak yang masih ada baik masih mendalang mauun sudah tidak mendalang lagi.

    Menurut Noeng Muhadjir penelitian kepustakaan itu lebih memerlukan olahan filosofis dan teoritis daripada uji empiris dilapangan (Noeng Muhadjir, 1996:169). Karena sifatnya teoritis dan filosofis , penelitian kepustakaan ini sering menggunakan pendekatan filosofis (philosophical approach) daripada pendekatan yang lain. Metode penelitiannya mencakup sumber data, pengumpulan data, dan analisis data.

Profil Wayang Golek Cepak Indramayu

    Wayang Golek Cepak Indramayu merupakan salah satu peninggalan kesenian wayang yang tertua di Indramayu. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya artefak wayang milik dalang Akhmadi yang telah berusia 300 tahun. Wayang Golek Cepak Indramayu sudah mengalami kepunahan, tidak ada dukungan baik dari masyarakat maupun pemerintah setempat. 

Wayang Cepak merupakan suatu seni pertunjukkan yang menggunakan wayang golek sebagai lakonnya. Hanya bedanya pada bagian kepalanya tidak seperti wayang golek pada umumnya, wayang cepak bentuknya papak atau rata sehingga disebut wayang cepak. 

Dalam setiap pertunjukkan Wayang Golek Cepak Indramayu memiliki 7 tokoh kesatria yang diperankan tokoh Panji. Misalnya Panji Songsomg merupakan salah satu tokoh yang sangat disakralkan oleh para dalang, karena tokoh Panji memiliki nilai-nilai Ketuhanan. Disamping itu tokoh Panji sering digunakan untuk mendatangkan roh-roh leluhur. 

Tokoh Panji merupakan salah satu tokoh dalam pewayangan Jawa, bukan dalam tokoh Ramayana dan Mahabharata yang aslinya dari India. Dalam Babad Tanah Jawi muncullah tokoh Panji ini. Adapun kharakter tokoh Panji adalah halus, luwes dan bersih. Dalam setiap lakon dalam wayang jawa tokoh panji selalu tampuil sebagai kesatria yang berhati bersih dan suci. 

Wayang Cepak mulai dikenal orang pada masa pemerintahan Gunung Jati (1479-1568). Menurut penuturan Ki Tanggal Gunawijaya, salah seorang dalang Wayang Cepak di Desa Sumber, Kecamatan Babakan, Cirebon, Pangeran Sutajaya yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Papak, pernah memberikan seperangkat Wayang Golek Cepak kepada Ki Prengut, dengan pesan untuk digunakan sebagai sarana dakwah agama Islam. Kini wayang itu tidak berkembang, mungkin karena bentuk wayang itu agak kaku, tidak seindah Wayang Golek Purwa Sunda.

Adapun susunan adegan wayang cepak  secara umum sebagai berikut :Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer / kawit, murwa, nyandra, suluk / kakawen dan biantara

2.    Babak unjal, paseban, dan bebegalan;

3.    Nagara sejen;4. Patepah;5 Perang gagal;6.   Panakawan / Goro-goro;,7.    Perang kembang;8.    Perang Raket;9.    Tutug.

Cerita utama wayang golek cepak berasal dari kisah para menak atau bangsawan di negeri Arab hingga berkembang ke nusantara. Oleh karena itu wayang ini disebut dengan wayang Menak karena isi ceritanya bersumber dari menak (cerita-cerita Amir Hamzah), namun karena bentuk kepala wayang rata maka disebut papapak atau cepak.

Kisah perjuangan Amir Hamzah (paman Rasullulah) merupakan menu utama penyajian cerita wayang golek Cepak. Menu lainnya diambil dari Babad |Tanah jawi, Babad Indramayu dan babad Cire bon Wayang Menak menceritakan cerita-cerita heroic.  

Sunan Kudus, salah satu dari sembilan wali sanga yang menyebarkan Islam ke Jawa pada abad kelima belas dan keenam belas Masehi, diyakini telah menciptakan bentuk teater boneka Indonesia yang dikenal sebagai wayang golek bercerita di siang hari (sebagai lawan untuk wayang kulit yang dilakukan sepanjang malam). Di wilayah pantai utara Cirebon bentuk regional ini disebut wayang golek cepak (selanjutnya disebut wayang cepak). Cepak, berasal dari kata “papak” (berarti “datar” atau “level”), mengacu pada bentuk wayang dengan hiasan kepala dipengaruhi oleh agama Muslim (bandingkan mahkota yang diturunkan dari India wayang golek purwa, yang melengkung dan berbentuk busur). Hiasan kepala boneka wayang cepak dapat dalam bentuk destar (kain katun yang dililitkan pada bagian atas kepala) atau Bendo (topi kain batik yang dikenakan oleh kaum bangsawan Sunda), di antara bentuk-bentuk lain. 

Wayang cepak pakem cerita adalah cerita sejarah lokal (babad), cerita-cerita Jawa legendaris (misalnya, Panji dan Damar Wulan), serta cerita-cerita Menak (wayang Menak). Wayang Menak adalah cerita tentang sejarah raja-raja Arab (karena alasan ini, wayang Menak juga disebut wayang Arab) yang datang ke wilayah Indo-malay melalui India, Persia  . dan para pengikutnya menemukan banyak tantangan dari orang-orang kafir (orang-orang kafir dalam Islam). Tantangan-tantangan ini mengakibatkan pertempuran di mana orang-orang kafir kalah dan kemudian mengadopsi Islam sebagai agama mereka.

Wayang Golek Cepak dalam perkembangn selanjutnya tidak hanya untuk keperluan ritual namun juga dimanfaatkan untuk hiburan dan sarana dakwah dalam penyebaran agama Islam. Oleh karena itu wayang golek cepak Indramayu dapat memberikan tontonan dan sekaligus tuntunan bagi khalayaknya.   

Seperti yang dikatakan Widjanarko dalam bukunya Selayang Pandang Wayang menak, dikatakan bahwa fungsi wayang sebagai sarana untukmemenuhi kebutuhan spiritual manusia yang tertinggi yaitu kebutuhan religious, yang artinya mendekatkan diri pada YME, karena tataran yang ingin dicapai adalah manunggaling kawula Gusti. Dengan demikian wayang merupakan lahan subur dalam penyebaran agama melalui garapan seni yang sangat mempesona yang dapat melintasi batas-batas agama, adat istiadat, etika masyarakat tertentu dan sebagasinya (Widjanarko, 1991:8). 

Namun dengan kemajuan teknologi informasi maka wayang golek cepak |Indramayu mulai ditinggalkan penontonnya dan beralih ke tontonan yang lebih mudah dicerna dan lebih menarik perhatian khalayak Dengan demikian banyak generasi muda yang tidak mengenal keseniannya sendiri.Kondisi Dalang wayang Golek Cepak Indramayu

Ki Warsad Darya.

    Ki Warsad Darya merupakan salah satu dalang Wayang Golek Cepak  yang masih ada. Beliau tinggal di Desa Gadingan, Sliwet, Jawa Barat. Pemilik wayang cepak Jaka Baru. Pernah mendapat tanggapan 125 kali dalam setahun pada tahun 70 an sampai tampil di 4 desa.. Namun sekarang sudah sepi penonton atau tanggapan (wawancara dengan liputan 6). Selama 36 tahun mendalang, ia selalu berimprovisasi agar khalayak tetap mencintainya. Bahkan dengan instrument modern untuk melengkapi sanggarnya. Ia mempunyai sanggar yang diberi nama Sanggar Warsad.  Ki Warsad mengaku mengusai 100 macam cerita atau kisah wayang . 

Ketika dalang Warsad berusia 24 tahun, karir sebagai dalang mulai menanjak.. Menurut Warsad, wayang cepak mulai tergerus berbagai  pengaruh. Wayang cepak atau pak-pak ini diperkirakan sudah berumur sekitar 700 tahun. Di masa Wali Songo, wayang cepak sebagai media penyebaran ajaran Islam. Oleh sebab itu banyak tokoh-tokoh seperti Sunan Gunung Jati dan Kali Jaga menjadi bagian dari wayang cepak. Dari sisi penceritaan, seni wayang cepak berbeda dengan wayang purwa (orang) yang hanya berbasis mitos Mahabharata dan Ramayana..Wayang pak-pak menampilkan babak atau sejarah berbagai kerajaan di Pulau Jawa, termasuk asal muasal sejumlah tempat di Jabar. Tokoh Lamsijan digunakan untuk menggantikan tokoh  Cepot dalam wayang purwa.

Ketika wayang cepak terus tersingkirkan, konsep penceritaan di panggung pun tak sepenuhnya menjadi milik dalang. Sang tuan rumah pemangku hajat bebas menentukan cerita dan ki dalang harus siap menyajikannya. Seperti saat Warsad diminta pemangku hajat melakonkan babak Kerajaan Galuh di masa kebesaran kerajaan di Jawa. Namun pentas wayang cepak tak selalu mulus. 

Cerita babak sejarah Warsad tak mengalir lancar karena sejumlah penonton, khususnya kalangan muda meminta dilantunkan beberapa nomor lagu khas Cirebon atau Cirebonan. Akibatnya Warsad pun terpaksa harus memenggal ceritanya.. Permintaan demi permintaan terus disampaikan penonton, sehingga tokoh-tokoh wayang cepak dari Sunan Gunung Jati hingga para bupati-nya hanya terdiam di atas bantalan batang pisang. Sementara sinden memenuhi lagu permintaan para tamu, Warsad pun menjadi penonton. 

Pergeseran keinginan penonton ini diantisipasi kelompok wayang cepak dengan menyediakan instrumen modern, semacam drum. Alhasil, ketika sebuah lagu dinyanyikan, nuansa tradisional pun ikut terpinggirkan. “Di saat saya sedang bercerita, anak muda kirim surat minta lagu. Saya terpaksa harus melayani karena kalau tak dilayani, anak mudanya emosi. Jadi golek ini diem aja kan?,” kata Warsad. Warsad Darya belum bisa menebak hingga kapan dia situasi itu akan berlangsung. Namun ia juga menyadari bahwa seorang seniman wayang bisa bertahan sekadarnya. 

Di luar Warsad, jumlah dalang di Indramayu dan Cirebon bisa dihitung dengan jari. Itu pun dengan catatan memiliki jenis kesenian lain. Bila Warsad masih bertahan dengan wayang cepak dan Lamsijannya tentu karena kecintaannya sebagai seorang seniman.

Wayang Golek Cepak menampilkan cerita tentang kehidupan raja-raja dan sejarah seperti cerita Nyi Mas Gandasari, Wiralodra, Ki Tinggjl, Kuwu Sangkan, Bagal Buntung, dan lain-lain.(bn/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *