• Kemarau

BLORA – Sisi barat Waduk Tempuran Blora diprediksi akan mengering beberapa bulan kedepan. Hal itu terjadi karena tidak adanya pasokan air. Selama ini, Waduk Tempuran mengandalkan pasokan air hujan.

”Air yang masih tersisa di Waduk Tempuran hanya sekitar dua persen saja dari kapasitas waduk,” ujar Giono operator Waduk Tempuran, kemarin.

Waduk Tempuran terdiri atas dua bagian, yakni sisi barat dan timur. Air di sisi timur waduk terbesar di Blora itu sudah kering seiring dilakukannya perbaikan yang dimulai November 2018. Perbaikan sebenarnya dilakukan pula di sisi barat. Namun perbaikan di sisi barat itu tidak disertai dengan dikeringkannya air.

Waduk yang mempunyai luas genangan 44,23 hektare ini dibangun pada masa kolonial Belanda pada 1918. Dalam kondisi normal sebenarnya air di Waduk Tempuran bisa mengairi persawahan warga sekitar mencapai 800 hektare. Namun lantaran daya tampung kurang optimal, yang bisa diairi hanya sekitar 450 hektare. Dalam kondisi normal Waduk Tempuran menampung air sebanyak kurang lebih 2.090.000 meter kubik dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air pada daerah irigasi serta sebagai air baku PDAM. Selain air hujan, air yang ditampung di waduk berasal dari sejumlah sungai.

Operator Waduk Tempuran Giono menggungkapkan, mulai berkurangnya debit air secara drastis di waduk tersebut terjadi sejak sebelum bulan puasa.

‘’Belum lagi selama musim hujan lalu tidak ada pengisian air, karena ada perbaikan waduk di sisi timur. Jadi tidak ada penampungan air,’’ tandasnya.

Akibat berkurangnya debit air di Waduk Tempuran, sejumlah petani tak lagi bisa bercocok tanam padi. Pasalnya, selama ini petani mengandalkan irigasi dari waduk itu. ‘’Dari sekitar 400 hektare sawah yang selama ini mendapatkan irigasi pertanian dari Waduk Tempuran, hanya tersisa 20 hektar saja yang hingga kini masih bisa dialiri air waduk,’’katanya. (H18-63)