SM/ Maulana M Fahmi TERTUTUP PKL : Pengendara sepeda motor melintas di jalur lambat samping trotoar yang didirikan tenda PKL di Jl MT Haryono Semarang, Selasa (10/9). (48)
- Regional Jateng

Trotoar Tak Sekadar Percantik Kota

SEMARANG – Pembangunan trotoar kian berkembang dan meluas sejak beberapa tahun terakhir. Konsep pada jalur pedestrian tersebut mulai didesain lebih menarik, dengan adanya pelengkap seperti concrete ball (bola beton) dan tempat duduk.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Semarang (KPKS) Theresia Tarigan menilai, pembangunan trotoar cenderung bermula dari jalan di pusat kota. Dia berharap, tujuan yang ingin dicapai dari hal ini tidak sekadar untuk memperindah kota.

“Semula kualitas trotoar masih mengecewakan karena licin dan tinggi dibanding jalan aspal. Berikutnya trotoar semakin baik dengan ornamen tambahan dan hal itu saya kira perlu diapresiasi,” kata Theresia, kemarin.

Meski demikian, keberadaan ornamen itu perlu dilihat apakah sudah sesuai dengan peruntukannya atau belum. Bangku dan bola beton yang ada perlu dipastikan memberikan manfaat kepada pengguna torotoar atau pejalan kaki.

“Jangan sampai justru dimanfaatkan oleh yang bukan haknya. Misalnya, dipakai untuk pengendara sepeda motor yang berhenti di tepi jalan, sehingga keberadaan ornamen malah kurang sesuai,” ujarnya.

Alumnus Institut Teknik Bandung (ITB) itu mengemukakan, masih sedikit trotoar yang disiapkan sebagai jalur pedestrian yang aman dan nyaman.

“Bila perlu ornaman pelengkap itu tidak perlu. Bukan tidak mungkin justru polusi, karena peruntukannya bukan untuk pejalan kaki,” ucap Theresia.

Menurut dia, pejalan kaki tidak lepas dari pengguna angkutan umum. Mereka yang menggunakan moda transportasi massal sudah tentu merupakan pejalan kaki. Karena itu, pembangunan jalur pedestrian ada baiknya dimulai dari wilayah permukiman, kemudian berlanjut ke pusat kota.

“Masyarakat tidak perlu dilibatkan secara langsung, karena sudah ada akedemisi atau konsultan yang bisa merencanakan hal itu. Saya melihat perencanaan tidak dimulai dari permukiman, padahal perjalanan seseorang itu dimulai dari rumah,” jelasnya.

Gunakan Angkutan Umum

Kampanye dan dorongan kepada masyarakat agar menggunakan angkutan umum juga tidak kalah penting. Dengan upaya itu, polusi dan kemacetan di wilayah perkotaan bisa diminimalisasi.

“Saya berharap tidak hanya kepada masyarakat, unsur pemerintah juga mau untuk berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Upaya ini juga bisa mengurangi udara panas kota karena mesin,” papar Theresia.

Danoe Iswanto dari Universitas Diponegoro (Undip), dalam junal ilmiahnya tentang jalur pedestrian menyebutkan, fasilitas jalur pedestrian dibutuhkan di daerah-daerah perkotaan yang jumlah penduduknya tinggi, jalan pasar dan pada lokasi-lokasi yang memiliki kebutuhan/permintaan tinggi seperti stasiun bus, kereta api, sekolah dan rumah sakit.

Kemudian di daerah rekreasi dan lokasi yang memiliki permintaan tinggi untuk hari-hari tertentu. Sebagai contoh lapangan/gelanggang olahraga. (Eko Fataip, Pamungkas Suci Ashadi-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *