Tinggalan Purbakala Berkontribusi Dalam Pembangunan Nasional

Tinggalan Purbakala Berkontribusi Dalam Pembangunan Nasional

Jakarta,Suara Merdeka.News.-Hari Purbakala telah memasuki tahun ke-106. Dan pada 14 Juni 1913, awal berdirinya sebuah lembaga yang menangani penginggalan purbakala bernama Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie atau Jawatan Purbakala yang dipimpin oleh N.J Krom.
Lembaga inilah yang kemudian melakukan upaya pelestarian terhadap benda-benda purbakala. Dalam perjalanannya, lembaga ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama, akan tetapi tetap mengacu pada visi yang sama, yaitu melakukan upaya pelindungan peninggalan purbakala. Kemudian sesuai dengan perkembangannya visi pelestarian yang pada awalnya hanya menekankan pada aspek perlindungan keberadaan fisik peninggalan purbakala, kini telah berkembang sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor Nomor Il tahun 2010 tentang Cagar Budaya, di mana Pelestarian dimaknai sebagai upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya.
Menurut Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Fitra Arda, tinggalan purbakala dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan nasional. “Yang melampaui batas-batas pengelompokan etnis, ras, budaya, dan agama dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan falsafah negara Pancasila” kata Fitra dalam pidato sambutan HUT Purbakala 106, kemarin.
Agar pelestarian Cagar Budaya kedepan dapat lebih fokus, efektif, dan efisien perlu strategi pengelolaan yang tepat. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya yang berkaitan dengan Strategi Kebudayaan. Dalam penyusunan agenda Strategis Pemajuan Kebudayaan salah satunya telah ditetapkan langkah-langkah upaya untuk meningkatkan pariwisata berbasis pemanfaatan museum, Cagar Budaya, dan obyek pemajuan kebudayaan yang mengindahkan kaidah-kiadah pelestarian.
Capaian registrasi cagar budaya yang telah dihimpun dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya (sampai dengan 10 Juni 2019) adalah jumlah Obyek Yang Diduga sebagai Cagar Budaya (OYDCB) sebanyak 90.076 objek yang terdaftar, jumlah OYDCB yang terverifikasi sebanyak 45.034 objek, jumlah Rekomendasi CB sebanyak 1.518 objek, dan jumlah CB sebanyak 1.455 objek. Berdasarkan data statistik ini menunjukan capaian jumlah Cagar Budaya yang ada masih belum seimbang dengan jumlah obyek yang didaftar. Salah satu faktor penyebab utama adalah masih rendahnya kuantitas dan kualitas SDM Bidang Pelestarian Cagar Budaya..
Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan agar seluruh komponen bangsa untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfatkan Cagar Budaya Indonesia. “Harapan saya ke depan kita bisa bergotong royong, bekerjasama, menggunakan dan memanfaatkan Cagar Budaya sebagai ruang publik bagi interaksi seluruh komponen bangsa sehingga Bhinneka Tunggal Ika kita bisa terwujud dalam kenyataan” ujar Hilmar Farid. (Mahendra/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort