Tekuni Bela Diri

MESKI olahraga yang ditekuni banyak menggunakan fisik, itu tidak membuat Livia Pasha Ramadhanty (21) merasa takut. Bahkan gadis perparas cantik asal Batam, Kepulauan Riau (Kepri) ini sudah merasa enjoy dan menikmati olahraga Kempo yang ditekuni sejak kecil ini.

Sekarang ini Kempo ini sudah menjadi fashion, sehingga setiap hari harus melakukan latihan. Karena jika tidak latihan malah menjadi stres dan bisa membuat gerakan hilang.

”Menekuni Kempo itu sudah dari kecil. Sudah menjadi fashion, saya kalau tidak latihan malah stress,” ujar dia, kemarin.

Dia, menekuni olahraga Kempo dari ayahnya yang kebetulan mantan atlet dan pelatih Kempo Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Sehingga dari kecil bersama tiga adiknya sudah dididik dan dilatih Kempo oleh ayah. Waktu itu hanya sekedar untuk mengisi kegiatan saja, tapi lama-lama dan ikut pertandingan suka sampai sekarang.

Saat awal-awal ikut latihan itu terasa berat, namun lama-lama terbias dengan latihan berat.

”Adik-adik saya juga sekarang jadi atlet Kempo di Batam, jadi ada darah Kempo. Awalnya itu paksaan memang jadi lama-lama suka dan menjadi fashion,” imbuh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelah Maret (UNS) ini.

Dia, merasa mantap memilih cabang Kempo daripada cabang bela diri seperti karate, taekwondo atau silat. Dari segi keamanan kepala atau wajah itu bagian yang dilindungi, jadi saat pertandingan jika mengenai kepala malah pelanggaran. Berbeda dengan bela diri lainnya yang malah mengincar kepala, itu kalau buat perempuan bahaya.

”Jadi ini lebih aman buat perempuan meski latihannya itu berat. Selain itu peluang di Kempo lebih besar, jadi satu mengambil peluang disitu. Karena tidak banyak peminatnya jika dibandingkan cabang bela diri lainnya,” ungkap.

Saat ini, gadis kelahiran, 20 Januari 1998 ini tengah fokus latihan untuk tampil di ajang Pra-PON November nanti. Dia, mengincar satu tiket di tim Jawa Tengah (Jateng) untuk PON di Papua mendatang. Sekarang memang memperkuat Kota Solo tidak lagi daerah asalnya Batam, dulu sempat ikut Pra-PON tapi tidak masuk tim.

”Ini persiapan fisik dan teknik. Masuk Jateng itu saat ikut kejuaraan antar mahasiswa se Asia Tenggara membela UNS tahun 2016 lalu. Waktu itu dapat satu emas, satu perak dan satu perunggu, lalu dilirik,” sambung.

Dari keluarga tidak masalah meski memperkuat Solo dan Jateng. Bahkan bisa dimungkinkan ketemu dengan saudara di Pra-PON nanti. ”Optimis bisa masuk tim PON Jateng meski persaingannya itu ketat. Sebenarnya memperkuat Jateng sudah lama di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) di Makasar,” tandas dia. (wel-21)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort