xpornplease.com pornjk.com porncuze.com porn800.me porn600.me tube300.me tube100.me watchfreepornsex.com

Teknologi Digital Berlari, Film Analog Menolak Mati.

Perubahan Teknologi Dalam Pembuatan Film Dengan Segala Kemudahannya.

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdeka.News — GARIN NUGROHO, dalam beberapa kesempatan, sambil lalu pernah bercerita, proses syuting pada zaman dahulu, atau tiga dekade lalu, sangat penuh perjuangan dan doa. Berdarah-darah. Dari proses awal penggarapan sebuah proyek film hingga proses syuting, sampai editing. Semua membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang panjang. Juga melibatkan stamina yang spartan, layaknya prajurit bertandang ke medan perang.

Teristimewa selama proses syuting, yang biasanya akan melibatkan mesin diesel yang berisiknya tidak ketulungan. Oleh karenanya, mesin diesel selama proses syuting ditempatkan di jarak seaman mungkin, agar tidak terlalu menjadi polusi suara, sekaligus merusak mood dan konsentrasi kru film, tertistimewa sutradara dan pemainnya. 

“Padahal kita sampai ngubur mesin dieselnya ke dalam tanah, dengan harapan berisiknya ilang. Tapi masih kenceng aja suaranya,” kata Garin Nugroho dalam salah satu sesi penjurian Jogja-NETPAC Asian Film Festival, saat mengenang penggarapan proses film Cinta Dalam Sepotong Roti (1991).

Akibatnya, semua kru, tanpa terkecuali, harus berdamai dengan mesin diesel yang ngeselin tapi sangat penting dan esensial keberadaannya itu. Tapi seiring waktu berjalan, kiwari mesin diesel sudah mulai menggunakan teknologi kedap suara, soundproof diesel generators. Dan cerita kebisingan proses syuting di masa lalu, tinggal cerita lucu, untuk didongengkan kepada anak cucu.

Itu belum semua, waktu syuting film masih menggunakan pita seluloid dalam wadah kaleng/can “raksasa”. Cara memperlakukan can film berjarak sebenang dengan merawat bayi. Salah menyimpan can film berarti malapetaka. Karena rekaman gambar adegan film yang diambil dengan cara berdarah-darah ada di sana semua. Padahal Garin juga pernah kehilangan beberapa can film saat proses pengiriman can film via kereta dari Yogyakarta, saat proyek film Daun di Atas Bantal (1998), ke Jakarta. Tahu apa akibatnya? Syuting ulang! 

Sedikit gambaran betapa berat, berliku, sesak “tanjakan” dan onak selama proses syuting film di zaman dahulu, untungnya sudah tidak lagi terjadi kiwari.

Mundur ke belakang sedikit. H Firman Bintang, Ketua Dewan Pembina Persatuan Perusahaan Film Indonesia  (PPFI), saat memproduseri film Zig Zag (1991) yang disutradarai Putu Wijaya, juga mempunyai kenangan “manis” memproduksi film saat itu. “Yang tahu hasil gambar selama proses syuting cuman sutradara. Karena saat itu belum ada camera monitor seperti saat sekarang,” katanya. Jadi, semua bergantung kepada kejelian estetika sutradra sepenuhnya. Produser film, minggir saja. Kalau gambar akhir hasilnya ternyata tidak berbanding lurus dengan harapan? “Banyakin doa saja,” katanya.

Hal itu diamini Adisurya Abdy. Mantan Ketua Sinematek Indonesia (Periode Tahun 2013-2016, dan 2016-2019), itu bercerita, saat dirinya menjadi sutradara film Ketika Cinta Telah Berlalu (1989), hal yang dirasakan Garin dan Firman Bintang dialaminya semua. “Mesti teguh hati kita, kalau nggak, ya bubar,” katanya. Meski pada saat bersamaan, nuansa humanismenya menurut Adisurya jauh lebih kental zaman itu. Karena zaman sekarang, sepemahamannya, saat menunggu syuting ada kecenderungan para pemain sibuk dengan gadgets-nya masing-masing. “Dulu, kita main kartu saat nunggu skedul,” katanya.

Adisurya menambahkan, proses menunggu kelengkapan dan kesiapan keseluruhan (kru tim film) untuk mulai take menjadi bagian yang menyenangkan. Karena itu adalah waktu yang sangat bernilai untuk lebih mengenal dan mendekatkan chemistry (kimiawi) crew dan pemeran yang terlibat dalam skedul kerja produksi. Sehingga suasana menjadi sangat akrab dan penuh rasa kekeluargaan. “Semuanya berharap dan berdoa, hasil kerja pengambilan gambar adegan dengan pita seluloid tidak bermasalah,” kata Adisurya yang kali terakhir menyutradarai film Sara & Fei: Stadhuis Schandaal (2018).

Bahkan menjadi rahasia umum, keselamatan can film jauh lebih penting dari nyawa manusia sekalipun. Hal itu paling tidak dialami Adisurya Abdy saat membawa beberapa can film dari Lampung ke Jakarta, via perjalanan darat di tahun 1987.

“Aku pernah shooting di Lampung, balik Jakarta untuk setor can film exposed ke Inter Studio untuk cuci cetak. Di (Kota) Serang mobil yang aku kendarai tabrakan dan terbalik. Aku ga mikirin diriku. Yang pertama aku selamatin adalah film can. Sekitar 9 can, sementara yang tabrakan sama aku mobilnya terbalik dengan sekitar tujuh penumpangnya, dan tiga (diantaranya) masuk rumah sakit. Aku mau dibacok namun diselamatkan warga. Alhamdulillah aku dan film can expose selamat. Padahal kalau aja ada yang bocor (dengan can film) maka bisa dipastikan shooting ulang lagi,” kata Adisurya ihwal proses pembuatan film berjudul Biarkan Aku Cemburu. Yang dibintangi Nicky Astria, Dede Yusuf, dan Betharia Sonata. Dengan kameramen Rudy Kurwet. Adisurya sendiri bertindak selaku eksekutif produser, dari film yang disutradara Chris Helwerderi.

Saat itu, imbuh dia, keselamatan can film lebih penting dari diri sendiri. Adisurya mengenang kecelakaan yang melibatkan Taft GT-nya itu, tidak akan dilupakannya hingga kini. “Yang nyariin aku bawa golok salah satu dari (penumpang) mobil yang terbalik itu. Aku diselamatkan warga, diumpetin di kamar mandi rumah penduduk di sekitar,” katanya terkekeh.

Hal senada diamini Slamet Rahardjo Djarot. Saat berproses dalam film Cinta Pertama (1973) arahan Teguh Karya, yang saat itu, tentu saja masih menggunakan (pita) seluloid, Slamet bercerita betapa berhitungnya almarhum Teguh Karya, sebelum take sebuah adegan.

Turunannya, semua pemain harus berlatih keras atas adegan yang akan diambil dan dilakoninya. Agar saat take adegan, tidak membuat kesalahan, sehingga menghemat seluloid yang digunakan. Bukan semata satu can seluloid mahal harganya, tapi demi menemukan efektifitas kerja. “One take itu enggak akan terjadi kalau enggak ada latihan panjang,” kata Slamet dalam banyak kesempatan.

Sehingga menjadi kegaliban bagi anak-anak Teater Popular yang dilibatkan dalam sejumlah film garapan Steve — nama asli Teguh Karya — harus mematangkan diri dan terus berlatih akting terlebih dahulu, demi meminimalisir retake atau pengulangan dalam pengambilan gambar.

Dengan mematangkan kemampuan akting, cerita mas Memet — panggilan Slamet — produser film terhindar dari kerugian, karena tidak harus terlalu banyak belanja can film.

Hal serupa juga dialami Roy Marten. Saat berproses produksi film Cintaku di Kampus Biru (1976). Sepeceritaan Roy, semua peralatan di lapangan analog semua. Tidak berlebihan jika gambar adegan syuting sebuah film, baru dapat disaksikan beberapa bulan kemudian. Karena teknologi monitor kamera belum ada pada waktu itu. 

“Tiga bulan kemudian baru kelihatan hasilnya….luar biasa ya orang-orang di zaman saya. Mempunyai kesabaran dan keteguhan yang tak terbantahkan,” katanya sembari membandingkan dunia digital kiwari yang memberikan segala kemudahannya.

Serta memungkinkan sutradara mengambil take adegan sesuka hatinya, tanpa berpikir efek bujet, karena harus membela can film. Meski efeknya, saat itu, aktor dan aktrisnya harus mematangkan, memantapkan dan memantaskan kemampuan aktingnya. Tanpa terkecuali, demi meminimalisir kesalahan yang tidak perlu.

Namun, sebagaimana hukum alam, waktu berubah, dan manusia ikut berubah di dalamnya. Tempora mutantur, nos et mutamur in illis. Demikian juga dengan perubahan yang terjadi dalam dunia teknologi perfilman.

Kerepotan yang dulu dirasakan Garin Nugroho, H.Firman Bintang, Adisurya Abdy, Roy Marten dan Slamet Rahardjo Djarot, tinggal cerita. Karena teknologi hadir dengan konsekuensi logisnya memudahkan penggunanya. Meski dalam banyak perkara, membuat para pembuatnya berkecenderungan kehilangan sentuhan magic-nya. Karena terlalu banyak kemudahan yang diterimanya.

Seperti halnya banyak industri lain, teknologi telah sepenuhnya mengubah industri perfilman. Mulai dari cara pembuatan film, cara pengeditan, cara menjual hingga cara penonton menonton filmnya, juga ikut berubah semua. Apalagi di era pagebluk Covid-19 seperti sekarang. 

Perkara menonton film telah bergeser, tidak melulu berada di wilayah gedung bioskop. Ditambah, dengan berbagai penggabungan teknologi terkini lainnya, yang semakin canggih. Yang membuat semua orang dapat membuat film. Tanpa terkecuali. Bahkan menggunakan kamera genggam sekalipun. Lalu mendaku dirinya sebagai sutradara film. Itu persoalan turunan dan sampingan.

Yang pasti, apakah ada era dimana membuat dan mengedit film, lalu menawarkan sebuah produk film dalam platform digital, semudah zaman sekarang?

Apalagi sejak era digital cameras mengambil alih era kamera film seluloid pada tahun 2003, lalu setahun kemudian, di tahun 2004 kamera SLR (Single-lens reflect) atau kamera refleksi lensa tunggal, dan kamera DSLR (Digital Lens Reflex) mulai diproduksi massal. Bahkan setelah tahun 2006 CIPA (Camera & Imaging Products Association (Ippan-Shadan-Hōjin Kamera Eizō-kiki Kōgyōkai), asosiasi produser kamera yang berbasis di Jepang, merilis laporan yang mengatakan, sudah tidak ada lagi catatan penjualan produk kamera film (seluloid). Kalaupun tetap ada penjualan, itupun hanya untuk keperluan klangenan atau penghobby belaka. Atas nama barang antik dan retropeksi.

Dalam bahasa sederhana, teknologi berlari terlalu cepat. Sehingga sangat membantu produser film dan sutradara film dalam memproduksi karya kreatif. Teknologi film seperti  motion-capture dan computer-generated imagery (CGI) bahkan menjadi sahabat karib sejumlah pekerja film sejak lama. Membuat teknologi kamera seluloid seperti barang purbakala, layaknya Dinosaurs saja.

Analog atau Digital?

Apakah dengan demikian dapat diartikan teknologi film digital lebih unggul dibandingkan teknologi film analog? Belum tentu. Bisa ya bisa tidak, jawabnya. Sebagian orang berpendapat, film analog tetap memiliki keunggulan dibandingkan film digital dari sisi cahayanya yang tampak alami. Sedangkan dalam teknologi film digital, semua serba artifisial, tidak natural tapi pada saat bersamaan kualitas gambarnya lebih benderang. Dan yang paling utama, pengoperasian kamera film digital, jauh lebih gampang. Ringkas dan kompak. Tidak merepotkan penggunanya.

Yang pasti, dampak berlarinya teknologi dalam industri film, sangat terasa, dan membantu sekali dalam industri ini.

Karena, seperti halnya banyak industri lain, teknologi perfilman telah sepenuhnya, bahkan dapat dikatakan berubah dengan sangat semena-mena. Dan telah mengubah secara paksa industri film. Bukan semata dari cara pembuatan film, cara pengeditan, cara menjual produk film, hingga cara penonton menonton produk filmnya. Juga berubah semua.

Akibat “buaian” teknologi ini, publik mendapatkan produk film yang makin beragam dan kaya. Karena produksi film seperti tidak ada matinya. Bahkan di era pandemi, seperti sekarang. Produser film, baik dari dalam maupun luar negeri, tinggal menjual produk film mereka di aplikasi OTT (over the top) dan format lainnya. Yang dapat ditonton di format TV langganan /berbayar, juga handphone pintar. Penonton, tidak perlu lagi repot-repot pergi ke gedung bioskop untuk menonton pemutaran film. Semua dapat dilaraskan sesuai permintaan, dan selera. Menonton film favorit dapat dilakukan kapan saja, dan di mana saja. Suka-suka. 

Dengan bahasa lain, teknologi telah menyederhanakan hidup semua orang yang terlibat dalam proses produksi pembuatan film. Juga penikmatnya (baca; penonton film). Siapa yang membayangkan jika beberapa dekade lalu, pengoperasian sebuah kamera harus melibatkan banyak kru. Dan berkecenderungan hanya dapat dilakukan perusahaan film besar saja. 

Bahkan saat kita ingin mengambil gambar dari udara, juga harus membutuhkan kamera yang dapat dipasang di badan pesawat terbang, atau helikopter. Dengan berat kamera yang Masya Allah bebannya. Atau dalam bahasa bercanda, berat kamera melebihi beratnya beban hidup kita, bahkan melebihi beban pesawat/ helikopter yang membawanya.

Tapi hari ini, kamera dengan teknologi baru jauh lebih ringkas  dan ringan bobotnya, dengan kualitas gambar jauh lebih cerlang. Dengan pengoperasian jauh lebih sederhana. Dan pengambilan gambar dari angle manapun tidak pernah tidak menjadi tidak mungkin. Bahkan ada drone dengan segala kecanggihannya.

Sebelum teknologi modern ditemukan. Kerepotan juga berlanjut di sesi editing. Karena mengedit, setelah film diproses, dilakukan dengan memotong dan menempelkan film seluloid secara fisik. Saat ini, mengedit bisa dilakukan via komputer jinjing (laptop) yang dapat dibawa ke mana saja. Setelah itu masuk ke pengisian suara. Yang sepenceritaan Indro Warkop, saat mengisi suaranya sendiri di banyak film Warkop DKI, “Gerak bibir kita harus sama dengan dialog yang dikatakan,” katanya. Itulah salah satu alasan Roy Marten belum pernah mendapatkan Piala Citra di masanya, karena pengisi suaranya, bukan dirinya sendiri. Melainkan orang lain. Sekarang tidak ada lagi proses pengisian suara, karena semua suara sudah direkam pada saat proses syuting.

Ya, teknologi, tanpa terasa, seperti kedipan mata, telah membawa industri film, dari film bisu hitam-putih ke film high divinition (HD), berlari seperti cahaya. Bahkan mampu membuat penonton merasa seolah-olah berada di dalamnya. Mungkin pada saatnya, teknologi perasa, teristimewa teknologi pembauan ada di dalamnya.

Yang pasti sinematografi digital, dengan sistem kerja atau proses menangkap gambar film menggunakan sensor gambar digital, telah mengambil alih teknologi film seluloid. Teknologi film digital telah mengucapkan selamat tinggal kepada teknologi film analog.

Hingga tak terasa, selaras kemajuan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir, sejak pertengahan 2010-an, sebagian besar film di seluruh dunia diambil alih dan didistribusikan secara digital pula.

Termasuk dengan sistem pendistribusian film. Jika pada sebuah masa gulungan film (can) tradisional harus dikirim ke bioskop, — yang kemudian pernah diceritakan dengan jenaka oleh Joko Anwar dalam film Janji Joni (2005) –, saat ini film digital dapat didistribusikan ke bioskop dengan cara lebih simpel dan cepat. Atau via Internet, tautan satelit khusus atau dengan mengirimkan hard drive atau cakram optik seperti cakram Blu-ray.

Setidaknya ada tiga macam ukuran film yang diproduksi secara massal untuk kepentingan syuting film. Yaitu 35mm, 16mm, dan 8 mm. Angka-angka menunjukan lebarnya pita seluloid. Semakin lebar pita seluloid, diyakini, semakin baik kualitas gambar yang dihasilkan.

Ada juga lebar pita film 65mm dan 70mm, yang digunakan demi mencapai estetika gambar tertentu. Pada tahun 2019, Harga satu kaleng / can pita seluloid berkisar di angka Rp. 1.300.000,- sampai Rp.1.600.000,-. 

Sepenceritaan Adisurya Abdy, harga satu (1) can pita seluloid, sekitar Rp. 350.000 – Rp. 1.500.000,- dan pernah sampai angka Rp. 2.500.000,-. itu terjadi pada periode tahun 80 sampai 2000 an. “Waktu krisis moneter tahun 1998 malah harganya gelap,” kata Adisurya sembari menambahkan, durasi maksimal 5 menit per can. Dan satu (1) film minimal membutuhkan 45 can, dan maksimal 200 can. Tergantung take rationya. Biasanya sutradara yang punya nama pada saat itu, rata-rata membutuhkan di atas 100 can. “Seperti Teguh Karya, Sjumandjaja, dan beberapa lainnya membutuhkan di atas 100 can,” imbuh dia.

Kalau rasio 1 shoot banding 3 take, dengan durasi final 85 menit, maka diperlukan sekitar 40 an can. Tahun 80 an harga satu can film sekitar Rp. 350.000,- sampai Rp. 500.000,- ribuan. Tahun 90 an sudah mendekati sejutaan harganya. “Ada juga yang lebih panjang durasinya, sekitar 10 menit, tapi di Indonesia yang lazim digunakan 400 feet per can film,” terangnya.

Atau jika merunut laman jual beli aneka barang, pada tahun 2019, harga Tungsten 35 MM FF 6063 F.C Neg Eterna VVD160/8543 dijual di harga Rp. 1,600,000, FF 6038 F.C Neg F125 T/8532 ( Rp. 1,400,000), FF 6051 F.C Eterna 250 T/8553 (Rp.1,600,000).

Lalu Daylight 35 MM FF 6037 F.C NEG F64 D/8522 dijual Rp. 1,550,000, FF 6049 F.C Eterna 250 D/8563 (Rp. 1,650,000), Tungsten 16 MM FF 6062 F.C ETERNA 160 VIVID/8643 (Rp. 900,000).

Dari cerita Adisurya Abdy kita akhirnya paham, mengapa sebisa mungkin produser film meminta sutradara film harus bijaksana  menggunakan can filmnya.

Meski demikian, sebagaimana ditulis Hollywoodreporter.com di awal tahun 2020 ini, di era yang semakin digital, banyak sutradara masih lebih memilih untuk membuat film dengan film seluloid. Dengan demikian, film tradisionalis dapat bernapas lega.

Lima studio besar, yaitu Disney, NBC Universal, Paramount, Sony dan Warner Bros telah menandatangani kesepakatan baru dengan Kodak. Lima produsen film legendaris ini, berkomitmen untuk membeli seluloid film dalam jumlah yang dirahasiakan. Dengan demikian menjamin penggunaannya yang berkelanjutan di masa mendatang.

Pakta pertama antara Kodak dan studio dibuat pada awal 2015, kira-kira 18 bulan setelah produsen film tersebut keluar dari perlindungan kebangkrutan. Pada saat itu, penjualan filmnya anjlok karena penggunaan teknologi pencitraan digital meningkat, dan perjanjian itu dirancang untuk menjaga bisnis manufaktur film Kodak tetap berjalan.

Kesepakatan belum lama ini, diyakini telah mencakup dua tahun (masa berlakunya sejak disepakati) dan pakta terbaru, yang ditetapkan untuk secara resmi diumumkan di Kodak Film Awards, diyakini berlangsung lebih lama (masa berlakunya). Sutradara penerima banyak penghargaan seperti Quentin Tarantino dan Auteur Award Greta Gerwig, serta Noah Baumbach masing-masing sepakat merekam film yang mereka sutradarai, yaitu film Once Upon a Time di Hollywood, Little Women dan Marriage Story, dengan film seluloid. Hal yang sama dilakukan J.J. Abrams untuk film Star Wars: The Rise of Skywalker dan Martin Scorsese, yang mengandalkan kombinasi film dan digital untuk film The Irishman.

Tarantino dan Abrams adalah pendukung vokal penggunakan film seluloid, bersama dengan Christopher Nolan, yang film Tenet-nya baru-baru ini dirilis ke pasar. Bersama dengan film James Bond terkini, No Time to Die yang disutradarai Cary Joji Fukunaga. Sejumlah sutradara ternama dan legendaris di atas tampaknya ingin memastikan bahwa pengambilan gambar pada film (dengan menggunakan film seluloid) tidak akan hilang dalam waktu dekat. Mereka menolak mati untuk sementara.

Meski pada saat bersamaan, karena film digital saat ini diproyeksikan dengan menggunakan proyektor digital pula, menggantikan proyektor film konvensional. Akibatnya, telah banyak proyektor konvensional dan can film seluloid berubah fungsi menjadi barang antik. Karena teknologi digital, selain lebih canggih, ternyata jauh lebih ramah kantong atau secara ekonomi, jauh lebih murah.

Karena banyak pos belanja di masa lalu, dapat dihilangkan. Seperti misalnya, penyimpanan file tidak lagi menggunakan gulungan film (can), melainkan kartu memori yang harganya sangat terjangkau dan sangat ringkas. Serta ini yang paling utama, dapat digunakan berulang kali. Dengan hanya memindahkan file video ke komputer atau laptop, kamera kembali dapat digunakan untuk merekam adegan lain, dengan kartu memori yang sama. Super praktis.

Kiwari, bahkan ada teknologi kamera nircermin (mirrorless) yang didaku hasil akhirnya berjarak sebenang dengan kamera DSLR, dengan ukuran kamera relatif lebih kecil. Terkini, sejumlah handphone cerdas bahkan dapat merekam video berdefinisi tinggi, dengan kemampuan resolusi 4K (Resolusi 4K mengacu pada resolusi tampilan horizontal sekitar 4.000 piksel.TV digital dan sinematografi digital menggunakan beberapa resolusi 4K yang berbeda. Di TV dan media konsumen, 3840 × 2160 (4K UHD) adalah standar 4K yang dominan, sedang industri proyeksi film menggunakan 4096 × 2160 (DCI 4K). Nikmat mana yang kaudustakan!

Sinema digital sebagai catatan, berbeda dengan televisi dengan teknologi high divinition (HD). Dan tidak bergantung pada standar video definisi tinggi, rasio aspek, atau kecepatan bingkai.

Di bioskop digital, resolusi diwakili oleh jumlah piksel horizontal, biasanya 2K (2048 × 1080 atau 2,2 megapiksel) atau 4K (4096 × 2160 atau 8,8 megapiksel). Seiring dengan kemajuan teknologi sinema digital pada awal tahun 2010-an, sebagian besar bioskop di seluruh dunia beralih ke teknologi digital.

Meski kemudian ada pertanyaan turunan, apakah teknologi dengan segala kemudahannya otomatis membuat kualitas film modern menjadi berbeda? Atau berkualitas, paling tidak dari segi gambarnya? Jawabannya harus diuji dan melalui proses dialektika. Karena nilai rasa cerita betapapun, tidak bergantung dengan teknologi. Tapi kedalaman, dan kepandaian dalam menyampaikan dalam bahasa gambarnya. Betapapun, sebagaimana diyakini banyak sineas, film yang dijual tetaplah ceritanya. Faktor lain menyempurnakannya. Seperti teknis pengambilan gambar, editing, musik, kostum dan nilai rasa penyutradaraannya.

Bahwa kemudian ada pertanyaan susulan apakah pada saatnya bioskop tidak diperlukan lagi. Karena film baru di masa pandemi ini, langsung menghampiri kita, yang berada di jantung ruang rumah kita, atau di manapun telpon genggam menemani kita. Dan bioskop saat ini malah dicurigai atau ditakutkan sebagai tempat atau klaster baru persebaran Covid-19. 

Pendapat ini membuat masyarakat terbelah. Meski sebagian besar percaya, bioskop ada masanya, sekaligus pada saat bersamaan, pengalaman menonton di bioskop tidak akan pernah tergantikan. Tapi diyakini, meski bioskop telah masuk ke ruangan pribadi kita, bioskop konvensional tetap akan bertahan di masa depan. Dengan caranya sendiri.

Walau kita juga sangat paham. Ada perbedaan mendasar menonton film di rumah, dengan menonton film di bioskop. Yang pasti ada biaya tambahan, saat kita pergi ke bioskop. Jika dibandingkan saat menonton film di rumah. Selain kita juga harus menyediakan waktu khusus. Karena tetap ada harga yang harus dibayar di sana. Walau, sekali lagi, pengalaman dan sensasi menonton bioskop, tetap akan sulit digantikan jika dibandingkan saat kita menonton film di rumah. (Bb-39).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

izmir escort
php shell
denizli escort bayan düzce escort bayan bolvadin escort denizli escort banaz escort escort ısparta escort çankırı afyon escort bayan escort balıkesir escort bolu
istanbul escort ilanlari istanbul escort istanbul escort bayanlarla sevgili tadinda etkilesimler. istanbul escort bayanlar istanbul escort istanbul escort hizmeti icin ideal web sitesi.