Tebu Gelondongan Dijual ke Luar Sragen

SRAGEN – Banyak petani tebu di Sragen menjual tebu gelondongan ke pabrik gula di luar Sragen. Tebu yang dipanen dari lahan, dijual ke pabrik gula yang menerima tebu dengan sistem jual putus.

Manajer PG Mojo Teguh Agung Tri Nugroho, melalui Kabag Tanaman Rahmadi Ari Kurniawan, saat dimintai konfirmasi membenarkan banyaknya tebu asal Sragen yang dijual keluar wilayah kerja PG Mojo Sragen.

“Petani tertarik jual putus, karena butuh dana segar untuk membayar tenaga tebang, biaya angkut, dan biaya tanam,” tutur Rahmadi Ari Kurniawan saat ditemui di Kantor PG Mojo Sragen, kemarin.

Tebu petani Sragen itu banyak dijual di Gendhis Multi Manis (GMM) atau pabrik gula lain di luar Sragen yang menerapkan jual putus.

Bagi kalangan petani, jual putus berarti setelah menyerahkan tebu, petani dibayar tanpa ada perjanjian kerja lagi, sehingga muncul persaingan harga yang dinilai sebagai salah satu kendala bagi PG Mojo.

Meski demikian, Rahmadi Ari Kurniawan memahami banyaknya petani yang menjual tebu gelondongan, karena petani butuh dana segar. Petani harus segera membayar tenaga tebang dan truk angkutan.

Adapun sistem giling di PG Mojo tidak membeli tebu gelondongan. Namun dilakukan dengan pola kemitraan, bagi hasil PG Mojo dengan petani tebu. Petani menyetorkan tebu untuk diproses menjadi gula. Tebu digiling dengan patokan rendemen 7,23 persen. Setelah tebu diproses menjadi gula, dilakukan bagi hasil seperti yang disepakati.

Pola kerja sama ini membutuhkan waktu. Adapun petani tebu yang ingin cepat mendapat uang, menjual tebunya dengan sistem jual putus.

Ari menjelaskan, PG Mojo berencana menggiling 2,7 juta kuintal tebu. “Sampai saat ini yang tergiling baru sekitar 350.000 kuintal tebu,” tuturnya. Tebu yang digiling itu baru sekitar 13 persen dari jumlah yang akan digiling.

Diakui, mesin giling di PG Mojo yang sudah direvitalisasi belum dimanfaatkan maksimal untuk menggiling tebu sebanyak 4.000 TCD per hari. “Kami hanya menggiling 2.500 TCD per hari,” tuturnya.

Ketua APTRI Sragen Hadi Parwanto mengaku prihatin dengan terjadinya keterbatasan kemampuan giling tebu di PG Mojo Sragen.

Keterbatasan giling itu akan mempengaruhi kemampuan target giling tebu. “Kalau gilingnya terbatas, pasti target giling tidak akan terpenuhi,” tuturnya. Jika target tidak terpenuhi akan memberikan efek berantai, seperti gaji untuk karyawan terlambat dibayarkan.

Hasil pantauan, meski mesin PG Mojo hasil revitalisasi itu dirancang mampu menggiling 40.000 kuintal atau 4.000 TCD tebu per hari, namun dalam praktiknya kemampuan puncak mesin belum dicoba hingga 4.000 TCD per hari. (nin-51)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort