Teater Tari The Seen and Unseen, Bersiap Menghipnotis.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Film Sekala Niskala yang telah direlease di lebih dari 70 festival film Internasional, termasuk world premiere di Toronto Internasional Film Festival 2017. Dan berhasil mendapatkan penghargaan Grand Prix di festival film bergengsi Berlinale program Generation Kplus. Bersiap malih rupa dalam format teater tari.

Sutradara Kamila Andini akan menggubah cerita versi layar lebar itu, dalam format pertunjukan teater tari The Seen and Unseen yang didaptasi dari film karyanya Sekala Niskala (The Seen and Unseen).

Dalam versi filmnya, tercatat juga telah memperoleh 10 penghargaan International lain, yang setelah itu direlease di jaringan bioskop nasional pada tanggal 1 Maret 2018.

Sebagaimana dituturkan Ifa Isfansyah, suami Kamila Andini yang juga bertindak sebagai Produser, The Seen and Unseen adalah karya pertunjukan kontemporer hasil kolaborasi lintas budaya antara seniman dari Indonesia, Jepang dan Australia.

Gagasan teater tari ini dikembangkan di Bali bersama Komunitas Bumi Bajra. Sebuah komunitas anak-anak yang mempraktikkan tarian tradisional Bali, gerakan dan meditasi. “Pertunjukan ini akan menggabungkan tarian, musik, kidung yang menciptakan perpaduan antara gerakan tarian tradisional Bali dengan pendekatan teater kontempore,” kata Ifa Isfansyah di Jakarta, Rabu (13/6).

Dia menambahkan, ide dasar dari pertunjukan ini adalah filosofi Bali Sekala Niskala (yang terlihat dan yang tak terlihat). Struktur spiritual dualis fundamental yang menggambarkan apa yang tidak bisa kita lihat, memiliki nilai yang setara dengan yang ‘nyata’ atau apa yang dilihat di dunia. Keseimbangan antara yang tampaknya berlawanan kekuatan.

Bercerita tentang Tantri dan Tantra, anak kembar laki-laki dan perempuan (Kembar Buncing) yang lahir saat gerhana bulan. Saat mereka lahir, empat saudara penjaga mereka (Nyama Catur) juga terlahir di dunia yang tidak terlihat.

Suatu hari Tantra jatuh sakit. Saat ini terjadi, Tantri menemukan malam sebagai pelipur diri. Di bawah bulan purnama ia menari, Tantri menemukan dirinya diantara realita dan imajinasi, kehilangan dan pengharapan. Tantri mengalami perjalanan magis dan hubungan emosional melalui ekspresi tubuh seiring dengan kepergian Tantra.

Pertunjukan yang akan disutradarai oleh Kamila Andini (Indonesia) ini akan bekerja dengan tim yang sama dengan film Sekala Niskala, yaitu koreografer Dayu Ani (Indonesia-direktur artistik komunitas Bumi Bajra), komposer Yasuhiro Morinaga (Jepang) dan juga akan berkolaborasi dengan Set Designer Eugyeene Teh (Australia), Lighting Designer Jenny Hector ( Australia), Dramaturg Adena Jacobs (Asutralia-sutradara teater dan sutradara artistik dari Fraught Outfit).

“Ide ini tidak lain adalah tentang keinginan untuk mencari diri saya sebagai manusia Indonesia. Bagaimana kitai memilki koneksi yang begitu dalam dengan segala sesuatu yang kita percayai” ujar Kamila Andini.

“Sekala Niskala adalah sebuah cerita sederhana lewat beragam bahasa. Sebuah jalan panjang untuk mencari ke dalam diri. Pertunjukan ini adalah usaha kami untuk memeluk seluruh unsur dualisme kehidupan; yang baik dan yang buruk, sedih dan senang, hidup dan mati, siang dan malam, melalui perasaan anak-anak” imbuh putri Garin Nugroho itu.

“Koreografi dalam Teater Tari Sekala Niskala adalah kelanjutan perjalanan tubuh dari proses yang telah dilakukan untuk filmnya sejak tahun 2011,” kata koreografer Dayu Ani.

Dia melanjutkan, jika dalam film, detail gerak tari melalui sudut pandang kamera menjadi salah satu kekuatan sajiannya. Pada panggung tentu sudut pandang penonton secara langsung dan menyeluruh menjadi pertimbangan dan tantangan.

Mencoba menginterpretasikan dunia yang tampak dan tak tampak melalui kekuatan gerak, menggunakan media tubuh anak-anak, secara intensif dan dalam jangka waktu yang cukup panjang, “Bagi saya memberi ruang jelajah yang begitu luas untuk mengenali diri”, ujar Dayu Ani.

Dengan melibatkan 6 penari anak-anak dari Komunitas Bumi Bajra dan juga penyanyi dan actress Ayu Laksmi, Kamila Andini mengkolaborasikan karya pertunjukan ini dengan Ifa Isfansyah sebagai Produser dari Fourcolours Films. Sebuah rumah produksi yang juga memproduksi dan mendistribusikan film Sekala Niskala.

Pertunjukan ini juga mendapatkan dukungan dari commsioning partner Esplanade – Theatres on the Bay dan Asia TOPA: Asia-Pacific Triennial of Performing Arts. Serta hasil kolaborasi dari In Fourcolours Films, Komunitas Bumi Bajra, Fraught Outfit dan Komunitas Salihara.

Fourcolours selalu berkomitmen untuk proses-proses cerita yang memiliki kedalaman dan juga statement yang penting dari sutradaranya. Kali ini kami mencoba untuk mengadaptasi cerita yang kami punya ke dalam medium yang baru untuk kami, sebuah pertunjukan panggung,” ujar Ifa Isfansyah. Dia menambahkan, karya terkini adalah sebuah proses berkarya yang cukup menantang, Sepengakuannya, sudah setahun lebih pihaknya mengembangkan dan berproses bersama Komunitas Bumi Bajra di Bali. “Kami senang sekali sebentar lagi hasil dari proses panjang ini bisa segera kami presentasikan” imbuh Ifa Isfansyah.

Pertunjukan ini akan diproduseri oleh Performing Lines, sebuah lembaga seni pertunjukan yang berpusat di Sidney yang sudah 30 tahun ini berfokus pada produksi karya pentunjukan yang baru dan transformatif.

“Ketertarikan saya pada The Seen and Unseen terpantik oleh obrolan-obrolan antara Kamila Andini dan Adena Jacobs,” kata Marion Potts, Produser Eksekutif dari Performing Lines.

Potts menambahkan, percakapan antara Kamila Andini dan Adena Jacobs mendalam, ekspansif, dan kaya, seperti membuka lahan subur untuk penciptaan. Pentingnya imajinasi dan permainan, kebijaksanaan yang dalam dari anak-anak, cara budaya meritualkan kematian dan duka.

“Kolaborasi antar budaya ini mengeksplorasi apa yang bisa dikatakan sebagai pengalaman bersama yang umum dan datang ketika tidak ada yang lebih penting dari menyoroti emosionalitas bersama” imbuh dia.

Pertunjukan ini rencananya akan dipentaskan di Teater Salihara Jakarta pads tanggal 15 dan 16 Juni 2019 dan di Esplanade Theatre Studio Singapura pada tanggal 28 dan 29 Juni 2019. Untuk selanjutnya tahun depan akan dipentaskan di Asia TOPA: Asia-Pacific Triennial of Performing Arts Melbourne awal tahun 2020. (Benny Benke -69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort