Tantangan Pendidikan Daring

Oleh Quatly Abdulkadir Alkatiri

SELAMA masa pandemi Covid-19, semua jenis pendidikan di semua tingkatan harus dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring). Upaya ini “wajib” ditempuh sebagai upaya agar pembelajaran bisa tetap berlangsung sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mencegah perkembangan virus korona.

Hal ini juga selaras dengan perkembangan jumlah pengguna internet di negeri ini yang terus meningkat menjadi sekitar 64% pada 2020. Ini menunjukkan internet memang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat kita. Karena itu, akan sangat efektif jika internet dimanfaatkan secara maksimal untuk pembelajaran.

Namun persoalannya, di balik manfaat dan efektivitasnya, internet juga memiliki sekian dampak negatif yang harus pula dipikirkan cara mengatasinya. Di antara dampak negatif itu misalnya, internet membuat anak menjadi penyendiri karena asyik dengan dunianya sendiri sehingga melewatkan waktu dan momen untuk bersosialisasi. Terlalu lama belajar dengan internet juga akan membuat anak miskin pengalaman secara langsung (mengalami) setiap proses dalam menemukan pengetahuan.

Selain itu, sebagai sumber pengetahuan, internet tidaklah memberikan contoh budi pekerti dalam setiap perilaku secara langsung yang dalam proses pembelajaran di sekolah bisa diperankan oleh guru. Di sinilah salah satu peran penting guru yang tidak akan tergantikan oleh internet, selain membimbing, mengarahkan, dan memotivasi.

The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) telah merumuskan empat prinsip pendidikan yang bisa dijadikan acuan dalam pembelajaran daring saat ini. Pertama, learning to know (belajar untuk mengetahui). Ini prinsip paling dasar yang sudah menjadi naluri dasar setiap manusia.

Kedua, learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu). Prinsip ini merupakan tingkatan kedua yang akan membuat setiap peserta didik terpacu untuk melakukan sesuatu sehingga dari situ akan tumbuh berbagai kompetensi yang memang dibutuhkan agar bisa melakukan sesuatu yang akan dicoba untuk dilakukan.

Ketiga, learning to be (belajar untuk menjadi sesuatu). Prinsip ini akan memacu dan melatih peserta didik mengidentifikasi dirinya untuk kemudian menjadi sesuatu seperti yang diinginkannya. Prinsip ini juga mengajari peserta didik untuk berlatih dan terus berlatih menemukan sesuatu sehingga dari proses itu, peserta didik akan selalu menemukan sesuatu yang baru.

Keempat, learning to live together (belajar untuk hidup bersama). Prinsip terakhir ini akan memacu peserta didik untuk belajar mempraktikkan atau mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari dan temukan dalam kehidupan bersama. Tentu saja prinsip ini tidak lantas menabrak rambu protokoler kesehatan yang selama pandemi Covid- 19 ini diberlakukan, namun sudah disesuaikan dengan kondisi yang memang tengah terjadi. Ini sekaligus bisa menjadi rumusan temuan terbaru sebagai solusi atas kondisi yang melingkupi.

Menata Arah

Para pemangku kepentingan dunia pendidikan, baik dari pihak pemerintah maupun pihak swasta, perlu duduk bersama untuk menata kembali dan merumuskan arah serta kebijakan dunia pendidikan agar bisa berlangsung sesuai dengan arah yang telah ditetapkan. Ini semua untuk menjamin agar proses pembelajaran yang berlangsung secara daring ini tidak kehilangan arah sehingga membuahkan hasil yang mendekati hasil pembelajaran secara luring atau tatap muka.

Karena itu, para praktisi pendidikan, khususnya akademisi, wajib meng-upgrade berbagai kompetensi agar selalu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang terus berkembang. Berbagai inovasi dalam pembelajaran pun harus terus diupayakan dengan tujuan agar peserta didik terus terpacu untuk melakukan pembelajaran meski mereka tetap berada di lingkungan rumah masingmasing.

Pembelajaran daring perlu dirancang berkesinambungan sehingga peserta didik tergelitik dan terdorong untuk melakukan tahapan demi tahapan hingga mendapatkan suatu hasil dari berbagai upaya uji coba dan penemuan yang dilakukannya. Untuk menjamin peserta didik melakukan setiap tahapan yang telah dirancang, komunikasi harus terus dijalin oleh guru sekaligus untuk memberikan bimbingan dan arahan.

Pemerintah, di semua tingkatan, harus memberikan semua dukungan, baik berupa sarana, dana, maupun kebijakan yang muaranya untuk memudahkan dan melancarkan setiap proses pembelajaran. Satu hal lagi, pemerintah juga perlu turun tangan secara langsung untuk mengatasi sebagian kecil peserta didik dari keluarga kurang beruntung secara ekonomi agar mereka juga bisa menikmati fasilitas internet dan gawai yang menjadi sarana utama demi mendapatkan pengalaman pembelajaran model baru ini. (46)

— Quatly Abdulkadir AlkatiriWakil Ketua DPRD Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort