Supaya Petani Kopinya Makin Bertaji LPDB Perkuat Modal Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayan Takengon.

TAKENGON,Suara Merdeka.News.- LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir)-KUMKM( Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah) menyalurkan dana pinjaman Rp 10 Milyar ke Koperasi Baitul Qiraadh (KBQ) Baburrayan Takengon Provinsi Nanggro Aceh Darussalam.(NAD).
KBQ Baitul Qiraadh merupakan satu dari 4 koperasi yang cukup besar di Kabupaten Aceh Tengah yang khusus bergerak dalam bidang penanaman kipi dengan 5500 anggota tersebar di 2 kabupaten yakni Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 
Hal itu dikatakan Ketua Koperasi Baitul Qiraadh (KBQ)  Baburrayan Rizwan Husen didampingi Manajer Koperasi Mochammad Charis dan Humas Iwanitosa Putra di Kantor sekaligus pabrik pengolahan kopi KBQ,Jl Takengon -Isaq Kampung Wih Nareh Pegasing Takengon Aceh Tengah,Rabu,(12/2/2020).
Dukungan dana LPDB tersebut membuat kinerja Koperasi Baitul Qiraadh(KBQ) Baburrayan makin baik yanh dibuktikan oleh naiknya hasil kopi yang dihasilkan para petani anggota koperasi tersebut. KBQ Baitul Qiraadh menerima pinjaman dana dari LPDB senilai Rp 10 Milyar pada tahun 2019. Kucuran dana tersebut,menyebabkan pihaknya memiliki dana yang cukup untuk pembayaran kopi kepada petani semakin lancar. Pinjaman ini merupakan kali kedua,sebelumnya tahun 2003 ,KBQ Baburrayan juga pernah mendapat pinjaman senilai Rp 2 Milyar.
” Pinjaman dari LPDB sangat mendukung kami,karena bunganya kecil 6 persen.Bandingkan dengan bunga perbankan yang mencapai 12 persen,” kata Rizwan.
Adanya kucuran ini semakin memacu koperasinya untuk lebih produktif  dalam meningkatkan kinerja. Sekarang ini, KBQ Baitul Qiraadh mempunyai  beberapa UKM binaan yang dibantu secara manajemen tanpa harus membayar kepada koperasi tersebut. Langkah membantu UKM tanpa mencari profit ini sesuai peran koperasi sebagai lembaga yang harus punya peran sosial.
” Hal ini wajar mengingat sebagai sebuah koperasi, tentunya kami  rela berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan beberapa lembaga yang mempunyai misi serupa dengan kami seperti UKM-UKM .  Selain itu kami juga ingin masing2 petani dari anggota koperasi ini bisa lebih meningkatkan produksinya,” papar Rizwan.
Lebih lanjut Rizwan mengungkapkan, bagi KBQ Baitul Qiraadh  sendiri, dukungan dari LPDB tersebut , disamping makin memperkuat modal juga kian melancarkan likuiditas keuangannya. Sehingga koperasi tersebut mampu membeli kopi dari anggota dengan harga ” terbaik “,( harga tertinggi pada saat musim panen kopi,- sesuai pasaran dunia. 
” Jadi kalau harga tertinggi saat musim panen itu Rp 50.000 per kilo,ya nila itu pula yang jadi acuan,”kata Rizwan.
Adanya dukungan dana dari LPDB ini juga membuat pembayaran kepada petani maupun kolektor dilakukan seketika,baik dibayar secara tunai maupun transfer.
Dari data tercatat,KBQ selalu membeli kopi dengan harga “terbaik”,sehingga rata2 petani kopi  yang menjadi anggota koperasi tersebut bisa mengantongi uang penjualan kopi sekitar Rp 40 juta bersih per tahun  dari setiap 1 hektar ladang kopinya.
sementara itu 2 mitra binaan KBQ Baitul Qiraadh Takengon,Aceh Tengah,Sofyan Amal dan Harsono mengaku, KBQ Baitul Qiraadh merupakan  koperasi yang mempunyai kinerja sangat baik yang dibuktikan oleh besarnya omzet, jumlah anggota dan pembayaran.”Bagi saya,mungkin KBQ Baitul Qiraadh ini yang terbaik dalam pengelolaan.Pembayaran selalu cepat,contohnya kalau kita masukin kipi pagi siang sudah dibayar,” kata Sofyan Amal,mitra yang memiliki 200-an petani terbagi dalam 4 kelompok dengan omzet rata-rata 200 ton setiap tahun.
KBQ Baitul Quraadh juga banyak memberikab konseling dan bimbingan terkait perawatan tanaman kopi.
Penilaian serupa diungkapkan oleh mitra lainnya Harsono yang juga selalu menjual kopi kepada koperasi tersebut sebanyak 200 an ton per tahun.
“Proses penerimaan kopi yang kita jual cukup canggih dan teliti,namun pembayarannya sangat lancar,”jelas Harsono yang tinggal di Batu Lintang,20 kilometer dari kota Takengon. Baik Sofyan Amal maupun Harsono,sudah sejak 10 tahun lalu jadi mitra KBQ Baitul Qiraadh.

khusus kopi

 KoperasiI Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayyan yang bergerak khusus dalam bidang  pemasaran komoditi kopi terletak di Jalan Takengon Isaq Weh Nareh Pegasing Takengon Aceh Aceh Tengah, Provinsi NAD. Koperasi ini merupakan salah satu koperasi berskala besar nasional yang telah berdiri sejak  1995. Inisiatornya adalah Tarmizi A Karim dari Kampung Pondok Gajah, Aceh. Saat terbentuk, modalnya sekitar 6 jutaan rupiah, urunan beberapa orang.
Melalui proses panjang dan keinginan kuat untuk memberdayakan ekonomi masyarakat, koperasi ini mendapat kepercayaan masyarakat dan terus menunjukkan geliatnya dalam perdagangan komoditas kopi. Omzet koperasi ini mencapai 100 milyar setiap tahun. Koperasi ini memiliki anggota sekitar 5000 anggota yang tersebar di 2 kabupaten yakni Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Dalam laporan tahun buku 2016, aset koperasi ini disebutkan sebesar Rp 13,9 miliar dengan omzet Rp 109,7 miliar. Anggotanya sebanyak 3.527 orang yang terdiri dari petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. 
Menurut Rizwan, diakhir 2019 lalu,jumlah kopi yang dihasilkan mencapai 2000 ton setiap tahun, bahkan untuk 2 tahun ke depan, koperasi tersebut menargetkan hasil 4000 ton setiap tahun.” Cuma untuk target itu,kita mungkin masih membutuhkan dukungan berbagai hal antara lain dukungan finansial,” ujarnya.
Dalam usahanya untuk eksis sebagai lembaga ekonomi masyarakat terutama para petani kopi, koperasi ini sempat terkena dampak dari konflik Aceh sehingga sempat ditutup pada tahun 2000. Saat itu bentuknya masih prakoperasi yaitu lembaga keuangan mikro (LKM). Pada 1 Agustus 2002, Rizwan Husen,Ketua Koperasi sekarang  memprakarsai kebangkitan kembali Baitul Qiradh Baburrayan dalam bentuk koperasi. Pada 2003, unit simpan pinjam KBQ Baburrayyan mulai beroperasi dengan memberikan pembiayaan kepada pedagang sayur di Takengon.
KBQ Baburrayyan saat ini mengekspor hasil bumi Gayo yaitu kopi ke beberapa negara antara lain Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, Singapura, Meksiko, dan Selandia Baru. Tiga perusahaan kopi kelas dunia yang mengimpor kopi dari KBQ Baburrayan adalah Starbuck, Inter Ter Continental dan Bennet dari Amerika Serikat.
Koperasi KBQ Baburrayaan menerima Greenbean dari petani, lalu  ditimbang, diuji kualitas baru negosiasi harga.
Koperasi menerima Greenbean dari kolektor. Kolektor yang mengumpulkan gabah dari petani dan mengolahnya menjadi greenbean.
“Jadi standar kualitas sudah diajarkan dari level petani hingga kolektor. Misalnya biji kopi yang dijemur diaspal itu tidak akan laku dijual karena mempengaruhi kualitas biji kopi,” ujar Rizwan.
Dia juga  menjelaskan koperasi  ini secara spesifik fokus kepada usaha kopi pada tahun  2005 dengan anggota hanya 500 orang.
“Sekarang anggotanya sebanyak 5.500 petani yang tergabung dalam 100 kelompok tani atau kolektor/pengepul. Sedangkan karyawan koperasi berjumlah 100 orang,” terangnya.
Semua kopi yang diproses pabrik koperasi adalah milik koperasi petani. Di mana Koperasi Baburrayyan mempunyai mesin Huller sebanyak 11 unit disebar ke sejumlah titik agar mudah dijangkau kelompok tani.
Sebanyak 90 persen kebun kopi yang ada di Gayo sudah ada organik. Sisanya masih belajar organik.
“Di sini kami memproses kopi dengan metode semiwash. Proses sampai pengemasan harus sangat teliti karena untuk diekspor. Biji yang terlalu kecil atau pecah akan dijual lokal atau juga ke Medan,” jelasnya.
Jumlah ekspor yang dilakukan koperasi ke Amerika Serikat dan Eropa sebanyak 110 kontainer per tahun. Harga satu kontainer mencapai Rp 1,5 Miliar.
Lebih lanjut dia mengatakan walaupun cuma fokus kepada kopi,kinerja koperasinya KBQ Baburrayan terus stabil bahkan mengalami peningkatan.Hal ini membawa kesejahteraan anggotanya hingga rata-rata setiap keluarga di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah mampu menyekolahkan anak2nya ke perguruan tinggi favorit di Bandung Yogyakarta,dan Medan.(budi nugraha/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *