Sugeng Kondur Mas Djaduk Ferianto.

Jakarta, Suaramerdeka.News-– Seperti pencuri. Demikianlah kematian menghampiri Djaduk Ferianto, pada Rabu (13/11) dini hari, 2019 atau pukul 02.30.

Menurut rencana, seniman ramah ini akan dimakamkan pukul 15.00 WIB di makam keluarga Sembungan, Kasihan Bantul. Setelah disemayamkan di Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo.

Gregorius Djaduk Ferianto lahir di Yogyakarta, 19 Juli 1964 sebagai bungsu keluarga Bagong Kussudiardja. Sejak umur enam tahun, musisi serba bisa ini, sudah belajar menari di PLT Bagong Kussudiardja hingga kemudian (pernah) menjadi pembina di padepokan tari tersebut.

Tahun 1972, tercatat bapak lima anak ini serius mempelajari musik tradisional (gamelan), khususnya menabuh kendang.

Tumbuh besar dalam ekosistem yang mendukung perkembangan dunia kesenimanannya, serta atmosfir budaya Yogyakarta, Djaduk mematangkan dirinya dengan melakukan pengembaraan kreatif di berbagai kelompok kesenian.

Djaduk banyak belajar soal musik untuk film dari dua tokoh perfilman legendaris, Teguh Karya dan Arifin C. Noer.

Almarhum juga pernah secara khusus pergi ke Jepang untuk mempelajari teknik olah pernapasan dalam memainkan alat musik tiup. Ilmunya di bidang musik semakin bertambah saat ia belajar musik di New York.

Mengutip pengakuannya, perjalanan karir Djadug sempat mengalami diskriminasi. Salah satunya adalah pembedaan antara seniman lokal dan nasional.

Djaduk baru bisa masuk industri musik nasional di tahun 1996. Meskipun frekuensi tampil di ibukota sangat tinggi, Djaduk memilih untuk tetap tinggal di Yogyakarta.

Dengan sederet karya dan prestasinya, seperti meraih kreativitas terbaik dalam Festival Akustik se-Jawa Tengah dan DIY (1982).

Seperti dinobatkan sebagai Penata Musik Terbaik Piala Vidia Festival Sinetron Indonesia (1995), pemusik Kreatif oleh PWI cabang Yogyakarta (1995), Nomine Festival Sinetron sebagai penata musik terbaik dalam film Di Balik Pusaran Awan (1996) serta memperoleh Grand Prize Unesco (2000).

Djaduk juga terlibat sebagai salah satu pemeran pendukung dalam film Petualangan Sherina pada tahun 2000.

Bersama berbagai kelompok kesenian Djaduk Ferianto telah menjelajahi berbagai kota di Indonesia dan di beberapa negara, antara lain: Belanda, Jerman, Swiss, Swedia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Amerika Serikat.

Sejak 2007 Djaduk Ferianto aktif sebagai Tim Kreatif Ngajogjazz, sebuah program perhelatan musik jazz bertaraf internasional yang diadakan setiap tahun di Yogyakarta.

Pada 2011 bersama Butet Kartaredjasa dan Agus Noor, Djaduk Ferianto menggagas program Indonesia Kita yang telah menggelar 34 lakon pertunjukan. Termasuk mementaskan lakon terkininya, “Pemburu Utang, ” di GBB TIM, Jakarta.

Bersama penulis pernah samasama menjadi anggota dewan juri Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2011. Sugeng kundur mas. (benny benke — 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *