Subsidi Kuota dalam Pembelajaran

Oleh Udi Utomo

SALAH satu hambatan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada masa pandemi Covid-19 ini adalah beban pembelian kuota internet. Pembelajaran daring membutuhan kuota internet yang besar dan ini membebani siswa. Oleh karenanya muncul banyak keluhan dari orang tua siswa terkait banyaknya pengeluaran untuk membeli kuota internet anak. Adanya hambatan tersebut, berbagai pihak pun seperti organisasi profesional (orprof) guru, praktisi pendidikan, politikus mendesak agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan terobosan agar bisa menyediakan kuota internet gratis untuk pembelajaran daring.

Akhirnya, harapan adanya bantuan kuota internet terjawab. Pada rapat kerja dengan Komisi X DPR (27/8/2020), Mendikbud Nadiem Makarim menyatakan akan memberikan subsidi kuota internet. Nadiem Makarim menyatakan Kemendikbud telah menganggarkan dana sebesar Rp 7,2 triliun untuk subsidi kuota internet bagi siswa, guru, mahasiswa, dan dosen. Rencananya subsidi pulsa akan berlaku selama empat bulan. Perinciannya siswa mendapat subsidi kuota internet sebesar 35 GB per bulan, guru 45 GB per bulan, mahasiswa dan dosen 50 GB per bulan (Suara Merdeka, 28/8/2020).

Ketersediaan anggaran subsidi kuota internet ini diambil dari realokasi anggaran Program Organisasi Penggerak (POP) 2020. Kemendikbud telah menganggarkan POPsebesar Rp 596 miliar. Pelaksanaan POP ditunda hingga 2021. Penunandaan POP sebagai evaluasi akibat banyaknya penolakan dan kontroversi progam ini. Seperti kita ketahui, ada tiga organisasi penggerak keluar dari keikutsertaannya dalam POP yaitu NU, Muhammadiyah, dan PGRI. Dengan adanya penundaan dan evaluasi ini harapannya bisa menjadikan POP nantinya terlaksana dengan optimal.

Kebijakan Kemendikbud memberi subsidi kota internet ini merupakan suatu terobosan yang dinantikan banyak pihak. Kiranya kita patut mengapresiasi kebijakan Kemendibud ini. Adanya subsidi kuota internet akan dapat mengurangi beban pengeluaran anggaran keluarga. Kebijakan ini akan sangat membantu saat menurunnya pendapatan banyak keluarga pada masa pandemi Covid-19 ini.

Optimalisasi Guru

Adanya dukungan berupa kebijakan pemberian subsidi kuota internet ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, agar kebijakan subsidi kuota internet bisa optimal untuk mendukung keberhasilan pembelajaran daring, hal berikut ini harus menjadi perhatian yaitu: Pertama, teknis mekanisme pemberian pulsa. Subsidi kuota internet sebaiknya langsung dalam bentuk data kuota yang dikirimkan ke nomor ponsel siswa dan bukan berupa uang tunai. Selain itu, agar penggunaannya sesuai dengan peruntukannya, guru harus memastikan nomor ponsel yang diberi kuota harus nomor yang digunakan siswa untuk pembelajaran daring.

Selanjutnya guru bekerja sama dengan orang tua harus bisa mengontrol dan mengawasi penggunaan kuota subsidi oleh anak. Kuota subsidi harus digunakan untuk pembelajaran daring saja. Jangan digunakan untuk hal lain seperti bermain game onlinetik tok. Kita harus memastikan kuota subsidi sesuai peruntukannya dan benar-benar untuk menunjang pembelajaran daring.

Kedua, kesempatan guru mengoptimalkan pembelajaran daringnya. Kini, guru tidak ada alasan lagi mengatakan pembelajarannya tidak optimal karena terkendala kuota internet. Adanya subsidi kuota internet harus memacu guru untuk bisa meningkatkan kinerjanya.

Guru harus bisa melaksanakan pembelajaran daring yang lebih optimal. Guru harus bisa mengembangkan metode, strategi pembelajaran daringnya. Untuk itu, guru dituntut untuk kreatif dan melakukan inovasi-inovasi baru. Sebaiknya pelatihan-pelatihan pembelajaran inovatif bagi guru harus terus dilakukan. Jika ini mampu dilakukan maka pembelajaran daring akan bisa optimal dan juga bisa menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan menjadi urgen karena PJJ dalam jangka waktu yang panjang (telah berjalan lima bulan) ini, siswa telah dilanda oleh kejenuhan dan kebosanan. Oleh karena itu, dengan pembejaran menyenangkan merupakan salah satu cara memotivasi belajar siswa. Setelah nanti pemberlakuan pembelajaran tatap muka bisa menggunakan pembelajaran kombinasi (blended learning) yaitu tatap muka dan daring. Ini akan lebih menunjang keberhasilan pembelajaran.

Ketiga, melengkapi infrastruktur jaringan internet. Selain hambatan kuota, permasalahan lain dalam pembelajaran daring adalah masih ada wilayah-wilayah yang belum terjangkau infrastruktur jaringan internet. Siswa di wilayahwilayah tersebut terpaksa berjalan menaiki bukit bahkan ada naik pohon untuk mendapatkan sinyal. Persoalan ini juga harus mendapat perhatian Kemendikbud.

Kebijakan Kemendikbud dengan memberikan subsidi kuota internet akan dapat mengurangi beban pembelian kuota internet oleh siswa. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara menjamin anak untuk mendapatkan hak pendidikannya pada masa pandemi Covid-19. (34)

—Udi Utomo SS MPdguru SMP 5 Pati, alumnus Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort