Strategi Percepatan Ekonomi Jateng

Oleh Saratri Wilonoyudho

BERDASARKAN Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2019 ada strategi mengembangkan Jawa Tengah (Jateng), yakni dengan percepatan pembangunan ekonomi kawasan Kendal-Semarang-Salatiga, Demak-Grobogan, Purworejo- Wonosobo-Magelang-Temanggung, dan kawasan Brebes-Tegal-Pemalang. Dari Perpres ini sangat jelas bahwa pembangunan daerah juga mesti berbasis industri kawasan.

Perpres tersebut juga sebagai salah satu jawaban untuk menurunkan angka kemiskinan di Jateng, yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, ada 14 kabupaten/kota dengan angka kemiskinan di atas provinsi dan nasional, 9 kabupaten di bawah provinsi dan di atas nasional, serta 12 kabupaten/kota di bawah provinsi dan nasional. Kedalaman dan keparahan kemiskinan ada di desa, jumlah tindak pidana menurun, namun konflik SARA meningkat, indeks demokrasi naik dan unjuk rasa turun.

Meskipun demikian, indeks pembangunan manusia (IPM) Jateng meningkat 71,12 namun di bawah nasional (71,39). Kemudian angka harapan hidup meningkat 74,18, angka harapan lama sekolah meningkat 12,63 tahun, angka ratarata lama sekolah meningkat 7,35 tahun, pengeluaran per kapita naik 10,78 juta, nilai tukar petani (NTP)naik 102,25, angka kematian ibu menurun 78,6, angka kematian bayi menurun 8,6 per 1.000 kelahiran, namun gizi buruk meninglat 1.200 kasus dan penyakit menular naik.

Suatu kebijakan jika ingin disebut pembangunan berhasil harus ada neraca perhitungan, tidak saja dari sisi ekonomi, tapi juga sosialbudaya- lingkungan fisik.

Harapan ini membenarkan pendapat Todaro (1996) yang mengatakan bahwa pembangunan setidaknya memiliki tiga inti: (1) Pembangunan harus meningkatkan kemampuan setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya; (2) Pembangunan harus memberikan penghargaan diri sebagai manusia dan tidak digunakan sebagai alat dari orang lain; 3) Pembangunan harus membebaskan manusia dari perhambaan dan ketergantungan akan alam, kebodohan, dan kemelaratan.

Menambah Kesejahteraan

Dengan kalimat lain, pembangunan akan menambah kesejahteraan bagi manusia bila manfaat yang diperoleh melebihi nilai gangguan atau kerusakan.

Kebijakan prolingkungan sangat penting karena menurut pendapat para ahli: (1) Beban lingkungan dipikul oleh yang lemah (secara sosial ekonomi); (2) Kemiskinan akibat degradasi lingkungan terus terjadi, (3) Upayaupaya perlindungan lingkungan dapat berakibat pada sektor tertentu, namun di sisi lain menguntungkan sektor lain; (4) tidak seluruh anggota masyarakat memiliki akses yang sama dalam pencegahan dini. Dari titik itulah biaya lingkungan dan sosial-budaya harus diintegrasikan ke dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penggunaan sumber-sumber alam.

Singkatnya, agar pembangunan berkelanjutan, maka harus ada desain kebijakan pembangunan yang pro-lingkungan. Harus dihitung bahwa keuntungan ekonomi dari pembangunan harus jauh lebih besar dari kerugian kerusakan lingkungan, baik langsung maupun tidak, bukan hanya lingkungan fisik dan sumber daya alam (SDA), namun juga lingkungan sosialbudaya, kesehatan, dan sebagainya.

Mengapa pembangunan kawasan industri di Jawa harus dipertimbangkan? Fakta menunjukkan bahwa luas Jawa hanya delapan persen dari luas Indonesia, namun Jawa menampung 60% penduduk Indonesia. Untuk Jateng, memang rata-rata berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, dan dalam empat tahun terakhir cenderung meningkat. Sektor dengan andil terbesar dalam mendorong pertumbuhan Jateng adalah industri pengolahan, perdagangan, dan kontruksi.

Kontribusi Jateng terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2019: Sektor industri pengolahan (12,7 %); sektor pertanian (9,4 %); sektor konstruksi (8,5%); sektor perdagangan besar dan eceran (8,0%); sektor jasa pendidikan (11,1%). Kawasan Industri Kendal memberikan kontribusi cukup signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sektor industri di Jateng. Namun sekali lagi, Jateng harus hatihati karena ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan degradasi lingkungan.

Penelitian Smyth dkk (2008) di Tiongkok ditemukan hubungan antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kerusakan lingkungan yang tinggi pula, banyak kota besar di Tiongkok menderita karena rusaknya lingkungan. Karena itu disarankan kebijakan pembangunan ekonomi di Jateng dikembangkan lewat industri pariwisata saja yang relatif lebih bersih. Provinsi ini memiliki alam yang indah selain tradisi budaya.

Selain itu, sektor agribisnis bisa jadi pilihan, agar lahan subur di Jateng dapat dikonservasi. Tuntutan ini didasarkan atas hasil penelitian Pangarso (2019) di Kabupaten Semarang yang menunjukkan bahwa aglomerasi industri cenderung di perkotaan, penyerapan tenaga kerja tinggi, namun penanaman modal asing (PMA) besar (footloose industry), dan banyak memunculkan masalah lingkungan. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan antarwilayah tinggi, alih fungsi lahan tinggi, mobilitas tinggi yang memunculkan masalah transportasi, potensi konflik buruh juga tinggi, dan biaya sosial lainnya.

Untuk itu, jika agribisnis dan pariwisata bisa diandalkan, maka akan ada multiplier effect di ekonomi kreatif, misalnya mengembangkan sub-sektor industri pengolahan makanan di perdesaan dan periurban dengan mengolah produk holtikultura dan peternakan lokal, mengembangkan komoditas pertanian kompetitif berorientasi ekspor seperti susu, daging, buah, sayur, herbal, dan lainnya. (45)

— Saratri Wilonoyudho, Sekretaris Dewan Riset Daerah dan Ketua Koalisi Kependudukan Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort