Soegi Bornean Membahasakan Perjalanan Jiwa

SEMARANG – Sepuluh bulan, dimulai pada 21 April 2019, grup musik yang mengusung aliran musik pop-folk asal Semarang, Soegi Bornean, memperkenalkan diri sebagai pendatang baru. Mereka membawakan lagu karya sendiri.

Lagu-lagu itu rupanya digemari. Panggung dalam kota maupun luar kota mengundangnya untuk tampil. Mereka lalu menggulirkan karya selanjutnya. Hingga kini, enam lagu sudah dimilikinya. Dikemas dalam album pendek dengan tajuk Atma. Sebuah cerita untuk membahasakan perjalanan jiwa.

”Atma adalah kata dalam bahasa Sanskerta, artinya jiwa,” kata Manajer Soegi Bornean, Erick.

Soegi Bornean digawangi oleh tiga personel yakni Fanny Soegiarto (vokal), Aditya Ilyas (gitar), dan Damar Komar (gitar). Nama grup diambil dari nama belakang vokalisnya. Dan Bornean memiliki arti yang sama dengan Borneo. Di tubuh Fanny, mengalir darah Suku Dayak.

Meskipun menggunakan iringan dua gitar akustik, musiknya tidak bisa dibilang sederhana. Trio tersebut menawarkan dinamika emosi di setiap karyanya. Perpaduan vokal dan dua gitar akustik menjadi penyusun karya lagu yang padat, sekaligus mudah dinikmati.

Di dalam album pendeknya berisi lagu ”Haribaan”, ”Kala”, ”Saturnus”, ”Bait Perindu”, ”Asmalibrasi”, dan ”Pijaraya”. Rangkaian komposisi musik, olah vokal, dan lirik mereka, menggambarkan bermacam cerita. Mulai dari kerinduan tentang rumah, rasa jengah menjalani hidup, kehilangan orang disayang, asmara yang sudah berpadu, rindu kepada ayah dan berbagai hal yang dicintai.

”Refeleksinya ada di lagu ”Pijaraya”. Membahasakan jiwa yang tenang. Kedamaian dalam menghadapi keadaan. Ketenangan bisa menjadi kunci mengenal jiwa, untuk melangkah di kehidupan,” paparnya.

Dalam pengerjaan album pendek, Soegi Bornean bekerja sama dengan desainer asal Semarang, Fendi, dalam bentuk sampul album. Ada empat arsiran berbeda arah membentuk persegi, di tengahnya terdapat simbol segitiga berekor tanda positif, serta terdapat empat segitiga lagi di masing-masing sudut. Semuanya memiliki tipe warna soft.

”Segitiga di tengah itu diambil dari simbol ilmu Alkimia, berarti belerang. Digunakan sebagai gambaran tentang jiwa. Empat arsiran adalah bentuk dinamika jiwa. Serta segitiga di masing-masing sudut memiliki arti api, bumi, air, dan angin. Tipe warna soft itu ketenangan,” ungkapnya.

Album pendek tersebut saat ini bisa dinikmati dalam laman digital khusus suara seperti Spotify, Joox, dan lainnya. Perekaman dikerjakan selama dua bulan oleh sound engineering, Erwin Hadinata.

Penggarapan lagu dibantu Dimas Tirta Franata dan Erick. ”Video musik yang sudah diluncurkan ada dua yaitu lagu ”Asmalibrasi” dan ”Saturnus”. Rencananya kami buat video musik dari semua lagu itu. Bekerja sama dengan videografer asal Semarang. Setiap lagu, berbeda videografer.

“Kami ingin karya tersebut menjadi ruang berkarya juga,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, personel Soegi Bornean sedang mempersiapkan konser tunggal untuk peluncuran album secara fisik pada akhir Februari 2020. Dikemas dalam bentuk kaset pita, bersama kaus, dan jam tangan kayu, dalam satu paket.

”Kami cetak terbatas sekitar 50 paket. Konsepnya nanti diiringi orkestra. Termasuk dengan pertunjukan dramatik, seperti olah gerak dan monolog,” pungkasnya. (akv-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *