SLI BMKG Tingkatkan Hasil Panen Padi

TEMANGGUNG, Suaramerdeka.news – Sekolah Lapang Iklim (SLI) tahap 3 yang diselenggarakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Dusun Paladan, Desa Tegalsari, Kecamatan Kedu, menuai hasil memuaskan. Hasil demplot tanaman padi naik 9,7 persen per hektare dari rata-rata produktivitas di daerah lereng Gunung Sumbing-Sindoro tersebut.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, secara kuantitatif bahwa berdasarkan ubinan yang dilakukan BPS, diperoleh hasil terendah 6,2 ton per hektare dan tertinggi sebesar 7,8 ton per hektare. Adapun untuk rata-rata produktivitas mencapai 6,8 ton per hektare.

“Sekolah Lapang Iklim merupakan salah satu program prioritas nasional BMKG yang memberdayakan petani untuk melek iklim. Di sini hasilnya menunjukkan lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten yang sebesar 6,2 ton per hektare atau naik 9,7 persen dan rata-rata produksi kecamatan sebesar 6,1 ton per hektare atau naik 11,5 persen,”ujarnya usai panen raya di Paladan, Kedu, Temanggung, Selasa (9/7).

Menurut mantan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini beberapa kegiatan SLI tahap 3 secara nasional menunjukkan peningkatan produktivitas pertanian hingga 30 persen dibanding rata-ratanya. Bukti tersebut menunjukkan adanya manfaat pada kegiatan SLI pada aktivitas kelompok tani. Melaui SLI petani yang melek iklim bisa mamhami iklim untuk 3-6 bulan ke depan, sehingga bisa merancang atau memutuskan tanaman dan benih yang ditanam atau justru akan menundanya.

“Jadi apabila petani mengetahui iklim, petani bisa memutuskan untuk menunda, mempercepat, atau memodifikasi jenis bibit yang ditanam. Adanya pertumbuhan secara serempak ini ke depan juga ada harapan kita bisa ikut mengendalikan laju inflasi,”katanya.

Kepala BMKG Semarang Tuban Wiyoso mengatakan pada SLI tahap 3 ini diikuti kelompok petani unggulan di Kecamatan Kedu. Ada sejumlah 25 orang terlibat di dalamnya dan bertempat di Dusun Paladan, Desa Tegalsari, Kecamatan Kedu dengan 2 varietas padi yang ditanam, yakni situ bagendit dan ciliwung.

Dikatakan Tuban dalam proses budi daya terdapat beberapa hama penyakit, yakni belalang, walang sangit, blast, jamur, ulat daun, penggerek batang, wereng hijau, tikus, dan burung emprit. Akan tetapi hampir semuanya bisa teratasi, hanya hama tikus memang ada perlakuan khusus dalam pengendaliannya degan dipasangi trap barrier system berupa mulsa plastik yang dilengkapi perangkap.

“Hama burung emptit dengan jaring, kerusakan terbesar diakibatkan hama burung yang menyebabkan kerusakkan kehilangan bulir padi hampir 10 persen. Secara umum penyelenggaraan Sekolah Lapang Iklim di Temanggung ini berjalan dengan baik,”katanya.(K41-66)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort