SEMARANG -Siswa perlu diajak menciptakan karya digital di tengah kemajuan arus zaman. Langkah ini dipandang penting untuk menyalurkan kreativitas dan minat mereka sehubungan dengan teknologi modern dan terpaan arus informasi.
”SMA 2 Kota Semarang, misalnya, memberikan wadah penciptaan karya digital siswa melalui festival film sekolah. Sebagai generasi yang tumbuh dewasa di era milenial, siswa-siswi tidak akan bisa dipisahkan dari digitalisasi teknologi modern,” tutur Kepala SMA 2 Yuwana, didampingi Wakasek Kesiswaan, Teguh Wibowo, kemarin.
Mereka ditemui juga disela-sela menyaksikan pemutaran karya digital siswa, berupa produk film berdurasi pendek. Film besutan para siswa ini dipertontonkan di ajang festival film sekolah, Senin- Selasa (17-18/6).
Ratusan siswa, guru, dan karyawan dapat menyaksikan cerita film dokumenter ataupun fiksi yang disajikan murid-murid sejak pagi hingga siang hari.
Ruang Positif
Teguh Wibowo menambahkan, mewadahi karya siswa melalui festival film sekolah bagian dari memberikan ruang positif. Ajang ini juga untuk menyalurkan kreativitas, bakat dan minat siswa berkaitan dengan era digital.
”Kawula muda zaman sekarang rata-rata piawai dan memiliki konektivitas dengan alat ataupun aplikasi digital. Media sosial juga turut mengubah kebiasaan dan gaya hidup mereka. Alasan ini juga yang dibutuhkan ruang untuk menyalurkan kiprah dan ekspresi sehubungan era milenial,” tutur dia.
Hal ini juga diinginkan ikut membentuk karakter anak muda ke arah banyak hal yang berbau positif. Melalui penciptaan karya yang kemudian diperlihatkan di hadapan banyak orang, kaum muda akan belajar mengenai kerja sama tim, tanggung jawab, gotong royong, empati, hingga pemecahan masalah.
Terbukti model pembelajaran nonakademik semacam ini menguatkan mental, karakter dan semangat peserta didik.
Adapun film buatan para siswa yang diputar berjudul ”Canting”, ”Getun”, ”Kepungkur”, ”Kinanthi”, ”Ringut”, ”Sisi Lain”, ”Dradjat”, dan ”Koma”. Ada juga ”Tanggon, ”Rotasi”, ”Menjempu Senja”, serta ”Antara”.
Kepungkur misalnya, berkisah tentang romantisme alumni sekolah yang telah sukses menapaki karier. Dia kemudian teringat roti Ganjel Ril bikinan ibunya yang kerap dihidangkan semenjak kanak-kanak hingga beranjak remaja.
Tokoh dalam kisah ini suatu ketika mencoba membuat roti selepas kepergian almarhumah, ibunya. Namun untuk bisa membuat kudapan se-lezat yang pernah ibunya sajikan ternyata tak mudah dan butuh proses.(H41-34)