Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia. (Suaramerdeka.News/Doc)
- Kolom Esai

Simulakra 2019: Jokowi, Prabowo dan JogjaROCKarta Festival.

Oleh Anas Syahrul Alimi (CEO Rajawali Indonesia).

“I heard a political message in rock music. A liberation message. A message of freedom. I heard it in Elvis’ voice.”
~ Bruce Springsteen.

Yogyakarta, Suaramerdeka.News — Apa yang membuat tahun ini menjadi terasa istimewa? Sebagai pegiat bisnis showbiz, tahun ini menjadi istimewa karena ada dua pesta yang maha kuat buat publik di negeri ini: Pilpres dan Pileg.

Dalam konteks politik, tahun ini menjadi awal dari rangkaian besar pesta demokrasi. Banyak pihak berasumsi, tahun politik ini telah memberikan kegaduhan teramat sangat bagi kehidupan bernegara. Lantas, akankah kegaduhan itu membawa negeri ini bergerak mundur dan menjauh dari cita-cita para founding father yang telah sejak lama memimpikan Indonesia sebagai negara kuat dan berdaulat? Inilah kegelisahan yang terus menyelimuti kita semua.

Di tengah kegaduhan kontestasi demokrasi yang tersaji, konser Guns and Roses (GnR) pada 2018 lalu bisa menjadi telaah positif bagi kontestasi politik di negeri ini.

Merujuk informasi yang diungkap lewat laman resmi band tersebut, tur bertajuk “Not in This Lifetime Tour” itu menjadi istimewa karena Axl Rose dan Slash telah tampil sepanggung. Sebelumnya, dua pentolan GnR itu pernah saling bermusuhan. Namun, setelah sempat saling membenci dan tak bertegur sapa, Axl dan Slash mampu melakukan islah.

Jika dikaitkan pada konteks politik sekarang, rujuknya Axl dan Slash itu tentunya menjadi pelajaran positif. Harus diakui, selepas Pilpres 2019 ini, polarisasi konflik politik di negeri ini terus menguat jelang memasuki iklim tahun politik. Polarisasi itu mengkutub pada dua kekuatan yang masih bersumbu pada sosok Joko Widodo (Jokowi) versus Prabowo Subianto. Hingga kini, adu pengaruh kedua tokoh tersebut masih menjadi kekuatan sentral saat negeri ini hendak merayakan pesta demokrasi di tahun politik.

Di level grassroot, kegaduhan begitu terasa. Utamanya di ruang-ruang dunia maya. Potensi konflik menjadi sistemik. Hanya tinggal menunggu pemantik saja maka konflik siap meledak. Sebagai sesama anak bangsa, sekarang ini kita menjadi lebih gemar bersilang kata hingga berujung tak bertegur sapa. Di dunia maya maupun pemberitaan media, kegaduhan itu makin terlihat menyesakkan dada ketika salah satu pihak berbuat alpa dan kekeliruan. Budaya luhur negeri ini yang mengedepankan tenggang rasa dan gotong royong seakan hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu saja. Tiada bekas yang tersisa.

Harmoni kehidupan antarsesama anak bangsa sudah menjadi barang langka. Para elite politik hanya sibuk mengurusi elektabilitas suara maupun popularitas golongan dan pribadi mereka saja. Sungguh sulit menemukan edukasi politik yang santun dan beretika dari elite-elite politik negeri ini. Lewat cerminan elite politik, di level grassroot, kita menemukan fakta kegemaran untuk saling menunjuk kesalahan dan mengumbar aib sesama, tapi sangat sulit untuk berinstropeksi diri.

Dalam konteks showbiz, kehadiran GnR di tahun politik ini tentunya memberikan pelajaran yang sangat positif. Polarisasi konflik politik yang kini terjadi harusnya bisa belajar dari perseteruan Axl dan Slash yang berujung islah. Permusuhan keduanya yang sempat berlangsung selama 19 tahun ternyata hanya memberi mudharat. Tiada karya yang bisa menghibur. Dan, ketika kebersamaan telah ditunjukkan kembali maka di sanalah hiburan tersaji.

Sesungguhnya, tak hanya momen sepanggung Axl dan Slash saja yang bisa dipetik sebagai pelajaran ketika GnR mentas pada 8 November di GBK Jakarta. Sejatinya, esensi musikalitas dari musik rock memberikan pula hikmah. Kegaduhan yang dimunculkan dari genre ini ternyata mampu memberikan spirit kepada para musisi maupun penggemarnya untuk tetap bersatu dan bersama dalam menikmati musik rock.

Spirit Kebersamaan

Spirit kebersamaan itu terlahir lewat harmoni yang diantarkan melalui musikalitas yang disajikan para musisinya. Dalam hal ini, tak ada dominasi di antara instrumen musik maupun vokal. Semuanya saling mengisi dan berbagi peran untuk menciptakan kebersamaan yang menggembirakan bernama musik rock. Unsur musik rock yang dipahami masyarakat awam sebagai kekerasan ternyata mampu menciptakan kebersamaan dan kegembiraan kepada para penikmatnya.

Filosofi itulah yang harusnya diterjemahkan ke dalam konteks politik praktis di tahun politik seperti sekarang. Perbedaan yang makin terpolarisasi itu harusnya menjadi medium untuk melahirkan harmoni baru.

Sebagaimana Leo Tolstoy berpendapat bahwa musik itu bagaikan stenografi emosi. Ya, musik — dalam hal ini musik rock — telah memberikan pesannya yang terselubung kepada panggung politik kita yang tengah gaduh. Sebuah pesan bahwa musik rock itu bisa menjadi sesuatu yang menghibur dan menyatukan lewat alunannya yang keras. Dengan menyapa emosi para pemujanya, musik rock — musik yang identik dengan keras — ternyata mampu melahirkan harmoni kebersamaan.

Bahkan, perjalanan Jokowi ke posisi puncak kepemimpinan negeri ini, salah satu faktornya terkait dengan citra dirinya sebagai penggemar musik rock. Beberapa kali pria asal Solo itu meluangkan waktunya untuk menikmati konser seperti GnR, Metallica, Linkin Park, Lamb of God hingga Judas Priest di Singapura pada 2012.

Lalu, kehadiran konser musik rock ini juga memberikan efek positif buat branding maupun stimulus geliat industri kreatif di daerah. Contoh itu bisa ditengok dari gelaran Volcano Rock Festival tahun 2018 di Boyolali, Jawa Tengah. Dengan menampilkan line-up utama band Europe, Boyolali telah menyedot perhatian media internasional dan nasional. Bahkan, 60 persen dari 15 ribu penonton yang memadati Stadion Pandanarang pada Mei silam adalah penonton yang berasal dari luar Kota Boyolali.

Lalu, getaran musik rock di daerah juga bertambah kuat dengan hadirnya gelaran JogjaROCKarta Festival (JRF) di Yogyakarta. JRF pada tahun 2019 yang dihelat tanggal 3 November ini menjadi gelaran tahun ketiga. Akan ada 3 band rock luar negeri papan atas yang akan kami hadirkan. Juga band-band rock penuh skill kebanggaan negeri ini.

Sebelumnya, tahun 2018 menjadi gelaran kedua dengan menghadirkan Megadeth pada tanggal 27 Oktober di Stadion Kridosono. Yang setelah tahun sebelumnya sukses menampilkan grup rock progressif asal Amerika, Dream Theater, dimana JRF tahun pertama ini menjadi fenomenal dengan adanya “Bandung Bondowoso”.

Festival musik rock yang saya gagas bersama Bakkar Wibowo dan Ahmad Sobirin ini menjadi sebuah ihtiar dari 3 anak muda yang bermimpi bahwa hingar bingar konser musik rock internasional di daerah ini akan menjadi branding positif kepada dunia internasional. Lewat konser tersebut disampaikan pesan bahwa Indonesia tak hanya sebatas di Jakarta saja. Lalu, gawean ini akan membuktikan kepada dunia bahwa negeri ini aman dan tetap tegak di tengah ancaman terorisme. Sedangkan dengan bergeliatnya konser musik rock di daerah tentunya menjadi selaras dengan semangat Nawacita yang ingin menghidupkan industri kreatif di daerah.

Manfaat semacam inilah yang hendaknya bisa menular ke panggung politik praktis kita yang tengah gaduh. Dan, boleh pula kiranya mengilustrasikan tahun 2019 sebagai sebuah simulakra, yakni tempat bertemunya politik dan musik rock. Semoga dalam pesta demokrasi tahun ini, elite politik kita mampu menangkap pesan yang pernah disampaikan oleh Leo Tolstoy.

Andai kepekaan elite-elite politik itu masih lemah, maka mulailah dari sekarang menjadwalkan waktu untuk sesekali menikmati konser musik rock.

Karena musik rock tak semata menyuguhkan kegaduhan tapi genre ini telah membuktikan banyak kearifan buat kehidupan bernegara.

So, keep in rock and stay cool at JogjaROCKarta Festival #Jogjarockartafestival2019. (Benny Benke – 69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *