Sidang Lanjutan Dugaan Rekayasa Bank of India Indonesia {BOII), Apraisal Villa Kozy-di-Maybank-ternyata-Rp-383 M dilelang-Bank-of-India-Indonesia-hanya-Rp-63 M

Jakarta,Suara Merdeka.Com. –

Satu orang saksi kembali dihadirkan dalam lanjutan sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana perbankan dengan terdakwa mantan Dirut Bank of India Indonesia (BOII) Ningsih Suciati di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2020).

Dalam persidangan tersebut, JPU juga menunjukkan sertifikat dan hak tanggungan Rp 35 miliar dan diakui oleh saksi.

Adapun saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum  tersebut adalah Berry, dari Maybank selaku kreditur PT. Aja Makmur Sentosa, perusahaan Budi Santoso dengan agunan Villa Kozy di Seminyak Bali, yang dilelang Bank Swadesi (BOII) senilai Rp 6,3 miliar.

Saat menjawab sejumlah pertanyaan,  Berry mengatakan pihaknya memberikan fasilitas kredit pada bulan September 2013 senilai Rp 25 miliar dengan jangka waktu 8 tahun.

“Jaminannya hanya Villa Kozy saja, tidak ada yang lain Pak Hakim,” jawab  Berry kepada Majelis Hakim pimpinan M. Sainal dengan hakim anggota IG.Eko Purwanto dan Kadarisman.

Dia mengakui bahwa nilai apraisal dari bank yang dulu bernama BII terhadap Villa tersebut sebesar Rp 38 miliar 350 juta.

” Ketika itu dilunasi dalam waktu 2 tahun pada 8 April 2015, tidak di Maybank lagi, sertifikat sudah atas nama Pak Budi Santoso,” jawab Berry, yang saat itu menjabat Acount Officer (AO).

Lebih lanjut dia  menerangkan, kredit diajukan oleh Budi Santoso setelah dianalisa manager kredit, setelah itu diputus oleh komite kredit secara kolektif. Menurutnya, kredit diberikan berdasarkan analisa perkembangan usaha, namun, pihaknya tidak mengetahui bila ada permasalahan.

“Pak Budi Santoso melunasi pakai dana sendiri,” kata dia.

Ketika JPU  menunjukkan sertifikat dan hak tanggungan Rp 35 miliar dan diakui oleh saksi. Di mana pada saat kredit sertifikat belum balik nama hanya AJB masih memakai nama Sugiarto Raharjo. 

” Survey dan verifikasi dilakukan oleh internal Maybank di Bali, bahwa apraisal layak,” kilah  Berry.

Di  akhir persidangan JPU mengatakan akan kembali menghadirkan 4 sampai 5 orang saksi termasuk saksi ahli.

Sementara Kuasa Hukum terdakwa Ningsih, Fransiska Romana berencana akan menghadirkan ada 1 orang saksi dan 1 saksi ahli.

“Silahkan baca Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.93 tahun 2010, yang menentukan lelang itu KPKNL, jadi tidak ada hubungan hukumnya dengan bank,” kata Fransisca, saat dikonfirmasi usai sidang.

Sedangkan Berry menolak dikonfirmasi, dia langsung bergegas meninggalkan ruang sidang seakan ingin menghindar dari pertanyaan  awak media.(bn/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *