Setiap Orang Tua Adalah Guru

Oleh Widadi

SUNGGUH menarik menyimak pidato Mendikbud Nadiem Anwar Makarim ketika di depan forum Himpaudi yang mengatakan bahwa dia adalah guru PAUD. Sebagai orang tua dari dua putri umur dua tahun dan satu tahun, Mandikbud menyempatkan diri membacakan buku untuk mengantar tidur kedua putrinya. Setelah itu, baru dia kembali ke tempat kerja.

Usia dini adalah usia emas, masa-masa pembentukan karakter. Bila masa emas ini terlewatkan maka hilang peluang untuk membangun karakter emas anak. Banyak orang menginginkan mempunyai anak, namun belum tentu mereka sudah siap mengambil peran, fungsi, dan tanggung jawab sebagai orang tua, terutama tentu peran sebagai guru bagi anak-anaknya. Orang tua tipe apakah Anda?

Cara orang tua mendidik, membesarkan, atau merawat anak mengacu pada tipe tertentu. Adi WGunawan dalam Hypnotherapy for Childrenmenjelaskan tipe-tipe orang tua, yaitu over protective, over permissive, over demanding, rejection, dry cleaning,dan tipe ideal.

Tipe over protective adalah tipe orang tua yang sangat melindungi anaknya. Di permukaan tampak mereka sangat menyayangi anaknya. Namun yang terjadi sebenarnya orang tua sangat cemas. Orang tua berusaha menjauhkan anak-anaknya dari hal-hal yang bisa merugikan atau membahayakan anak-anaknya. Mereka cenderung berpikir negatif dalam melihat sesuatu. Kecemasan orang tua ini memengaruhi anak sehingga anak juga akan menjadi anak pencemas.

Orang tua tipe over permissive. Orang tua tipe ini tampak sangat baik di mata anak karena selalu mengiyakan atau membolehkan apa pun yang diminta anak. Hal ini akan memengaruhi perkembangan psikis anak. Anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah cenderung tidak menghargai usaha atau perjuangan. Anak juga tidak menghargai apa yang ia dapatkan.

Orang tua tipe over demanding adalah orang tua yang selalu menuntut anaknya untuk hidup dengan standar tinggi yang mereka tentukan. Misalnya nilai sekolah harus 10, makan harus rapi, bersih tidak berceceran. Harus berprestasi dan peringkat atas. Orang tua tipe ini beralasan melakukan hal seperti itu demi masa depan anak. Mereka mengabaikan perkembangan psikologi anak dan menuntut anak sesuai dengan standar orang yang mereka tentukan sendiri. Akibatnya, anak cemas, takut, dan tertekan.

Orang tua tipe rejection, yaitu tipe orang tua yang menolak anak secara fisik, verbal, atau emosioanal, secara sadar ataupun tak sadar. Mereka sibuk dengan diri sendiri dan anak diasuh oleh baby sitter atau asisten rumah tangga. Penolakan bisa juga dengan memberikan apa saja yang diminta anak. Tampak seperti orang tua over permissive. Bedanya, orang tua tipe rejection memberikan apa yang diminta anak agar anak bisa segera ”jauh” dari mereka dan tidak mengganggu.

Tipe dry cleaning adalah tipe orang tua yang tidak mau bertanggung jawab untuk mendidik dan merawat anak. Mereka menyekolahkan anak di sekolah terbaik dan menyerahkan sepenuhmya pendidikan itu kepada sekolah. Bisa juga ditambah dengan guru les. Perawatan anaknya juga diserahkan kepada baby sitter. Mereka akan menggendong atau bermain dengan anak kalau anaknya sudah bersih dan wangi. Bila sang anak bermasalah, orang tua akan membawa anak ke konselor, psikolog, atau terapis dan meminta agar anaknya dibereskan. Anak seperti baju, dibawa ke binatu untuk dicuci, diberi pewangi, dan diseterika, baru dibawa pulang. Orang tua tipe ini lepas tanggung jawab.

Tipe ideal adalah tipe orang tua yang tidak masuk kategori di atas. Tidak over atau tidak ekstrem. Orang tua yang bijak dan hati-hati dalam melindungi, tepat dalam membolehkan, menolak, meminta atau menuntut dan bertanggung jawab penuh pada proses pendidikan anak, terutama ketika di rumah.

Usia Emas

Ketika anak lahir, Sang Pencipta membekali berbagai potensi kemampuan agar anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia, makhluk termulia di bumi. Potensi terpenting adalah kemampuan berpikir. Saat dilahirkan, anak hanya mempunyai satu pikiran, yaitu pikiran bawah sadar. Pikiran ini terdiri atas dua bagian, yaitu modern memory area atau biasa disebut pikiran bawah sadar (subconscious mind) dan priminitive area atau pikiran nirsadar (unconscious mind).

Pikiran nirsadar berisi program yang telah diinstal oleh Sang Pencipta untuk mengendalikan fungsi tubuh yang bersifat otonom seperti pernapasan, detak jantung, mekanisme pertahanan hidup, perlindungan dari infeksi dan sebagainya. Berbeda dengan pikiran nirsadar yang sejak awal berisi program, saat anak lahir, pikiran bawah sadar masih kosong seperti hardisc komputer yang masih baru. Sudah diformat tapi belum berisi program apa pun. Lalu bagaimana proses instalasi program di pikiran bawah sadar?

Proses instalasi program terjadi melalui interaksi anak dengan pengasuh utamanya. Bisa orang tua, baby sitter atau lingkungannya. Fase paling penting adalah tahap instalasi ini sejak lahir sampai usia 12-13 tahun. Bahkan sebenarnya sejak usia tiga bulan dalam kandungan pikiran bawah sadar anak telah mampu menyerap kejadian yang dialami anak.

Pada umur usia dini itulah karakter anak terbentuk (kepercayaan, nilai, kebiasaan baik/buruk/ reflek, intuisi, persepsi). Pada saat itu anak membutuhkan rasa aman, cinta, dan penerimaan dari orang tua. Orang tua tidak hanya harus memenuhi kebutuhan fisik yang cukup (makan, minum) tetapi juga kebutuhan emosi dengan mengisi ”tangki cinta” anak agar tidak kelaparan emosi.

Kebutuhan ini berkaitan dengan perkembangan intelektual, emosional, dan sosial anak. Relasi yang hangat antara orang tua dan lingkungan terhadap anak menentukan motivasi anak untuk belajar dan menjadi fondasi utama membangun harga diri dan karakter anak. ”Saya bersyukur dipanggil guru ke sekolah saat anak saya bermasalah. Saya jadi tahu di mana letak kekurangan saya di rumah dan saya punya kesempatan belajar memperbaikinya.”

Alih-alih stres, marah, panik, menyalahkan sekolah atau guru, orang tua yang dipanggil ke sekolah anaknya tersebut malah bersyukur dan belajar. Orang bertanggung jawab menerima anak dalam kondisi apa pun. Mencintai tanpa syarat, tidak perlu berteriak, ”Saya sudah bayar mahal. Ini tanggung jawab sekolah!”

Sering kita fokus pada masalah dan mempermasalahkan masalah, bukan pada solusi dengan mencoba belajar ada apa di balik masalah tersebut. Ketika anak punya masalah itulah saatnya orang tua membuktikan cintanya.

Kita tidak bisa mengubah masalah (sudah terjadi, takdir). Tetapi kita bisa mengolah persepsi kita tentang masalah sehingga kita beroleh jalan mengatasinya dan belajar menemukan solusi. Apakah kita termasuk orang tua yang over atau yang bertanggung jawab?

Widadi,Ketua PGRI Jawa Tengah 2014-2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *