Setelah 989 Hari Teror Novel

Oleh: Sumaryoto Padmodiningrat

NOVEL Baswedan, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), diserang orang tak dikenal pada 11 April 2016 usai salat subuh di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setelah 989 hari berlalu, Polri menangkap dua orang tersangka pelaku penyerang Novel dengan air keras itu. Kedua tersangka adalah oknum anggota Polri aktif dari kesatuan Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, yakni RM dan RB.

Kini, setelah tersangka penyerang Novel ditangkap, so what gitu lho? Pertanyaan demi pertanyaan pun berseliweran.

Pertama, mengapa kedua tersangka baru ditangkap setelah ada pergantian Kepala Polri dan Kepala Badan Reserse Kriminal dengan yang baru? Apakah Tito Karnavian tidak mampu, dan Idham Azis baru mampu setelah menjadi Kapolri, sedangkan saat menjadi Kabareskrim Idham tidak mampu? Mengapa itu bisa terjadi? Apa kasus Novel ini sengaja diulur-ulur untuk menyusun sekenario tertentu?

Kedua, apa motif RM dan RB meneror Novel? Disebut motifnya dendam. Mengapa mereka dendam? Bukankah mereka tidak pernah bersentuhan langsung dengan KPK atau Novel? Apakah mereka melampiaskan dendam elite-elite tertentu di Polri mengingat KPK pernah berkonflik dengan Polri, di antaranya “Cicak versus Buaya” jilid 1 dan 2?

Bila demikian, berati mereka sekadar pion atau bidak catur belaka, ada yang menggerakkan mereka dari atas atau belakang. Aktor intelektual inilah yang juga harus dicari Polri, jangan berhenti hanya pada RM dan RB saja.

Tercatat KPK pernah mentersangkakan Djoko Susilo dan Budi Gunawan. Djoko Susilo divonis bersalah oleh pengadilan dalam kasus korupsi proyek Simulator SIM semasa menjabat Kepala Korps Lalu Lintas Polri, dan kini sedang menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Sedangkan status tersangka Budi Gunawan yang saat itu calon Kapolri digugurkan melalui sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan kini Budi menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Masih segar dalam ingatan kita, Novel pernah menyebut ada jenderal yang diduga terlibat dalam kasus teror yang menimpanya. Siapa oknum jenderal itu?

Ketiga, mengapa Polri memberikan pendampingan hukum bagi kedua tersangka, RM dan RB? Lalu apa motif Polri, apakah untuk mengarahkan penyidik agar pertanyaan-pertanyannya tidak merembet ke mana-mana? Mengapa RM dan RB tidak didampingi pengacara independen saja, bukan dari Polri?

Untuk pihak Novel, dengan dalih demi keadilan dan equality before the law (kesetaraan di muka hukum), juga mencuat pertanyaan, kapan kasus penganiayaan dan pembunuhan tersangka pencuri sarang burung walet di Bengkulu yang diduga melibatkan Novel Baswedan dilanjutkan proses hukumnya?

Kejaksaan Agung pun diminta fair dan profesional untuk melimpahkan kasus tersebut ke pengadilan.

Kasus pembunuhan itu diduga dilakukan Novel saat menjadi penyidik di Polda Bengkulu. Diberitakan, Novel memimpin penangkapan terhadap sejumlah tersangka yang diduga sebagai pencuri sarang burung walet. Akibat para pelaku tidak mau mengakui perbuatannya, Novel diduga melakukan penganiayaan dan menembak tersangka hingga satu tersangka tewas dan empat lainnya cacat permanen. Keluarga korban sudah bertahun-tahun mencari keadilan atas peristiwa ini, tapi hingga kini tak kunjung mendapatkannya.

Kasus ini sudah dideponering Presiden Joko Widodo. Tapi keluarga korban memenangkan prapradilan atas deponering itu. Ironisnya, hingga saat ini, Kejaksaan Agung tak kunjung melimpahkan kasus itu ke pengadilan.

Sesuai prinsip equality before the law, kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Novel memang harus dilimpahkan ke pengadilan. Biarlah nanti pengadilan yang memutuskan sepupu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan itu bersalah atau tidak.

Sebaliknya, kasus teror yang menimpa Novel juga harus diusut sampai tuntas. Jangan hanya pion atau aktor lapangan saja yang ditangkap. Aktor intelektualnya pun harus (69)

Dr Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM: Mantan Anggota DPR RI / Chief Executive Officer (CEO) Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *