Seni Gejog Lesung agar Dilestarikan

KLATEN – Kecamatan Polanharjo tampil sebagai penyaji terbaik I pada Festival Gejog Lesung 2019 yang berlangsung di Lapangan Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten, Minggu (21/7). Festival itu digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Klaten ke-215 dan HUT RI ke-74.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Seksi Publikasi, Dokumentasi dan Komunikasi Panitia Hari Jadi Klaten ke-215 dan HUT RI ke-74, Wahyudi Martono. Penyaji terbaik II dimenangkan Kecamatan Tulung, penyaji terbaik III Desa Barepan, Kecamatan Cawas, penyaji harapan I Kecamatan Manisrenggo dan penyaji harapan II Kecamatan Karangdowo. Pemenang lesung artistik dari Kecamatan Klaten Utara.

”Festival gejod lesung tahun ini diikuti 34 kelompok, 26 kelompok merupakan utusan kecamatan, dan 8 kelompok utusan Desa Barepan, Cawas. Tiap kelompok 11 orang terdiri atas penari, penyanyi dan penabuh lesung. Masing-masing tampil 10 menit,” jelas Wakyudi Martono.

Festival tahunan itu dibuka oleh Bupati Klaten Sri Mulyani yang hadir didampingi pejabat Pemkab Klaten. Dia berharap kesenian gejog lesung terus dilestarikan karena merupakan seni tradisi warisan nenek moyang.

Dikatakan Bupati, zaman dulu, lesung digunakan sebagai alat menumbuk padi. Saat alu mengenai lesung menimbulkan irama yang membawa keceriaan. Dulu biasa dimainkan ketika bulan purnama.”Kini, petani menggunakan alat penggiling padi modern, namun gejog lesung tetap lestari sebagai kesenian tradisional. Ini harus terus dilestarikan,” tegasnya.

Gejog lesung menjadi hiburan saat terang bulan, pengiring keceriaan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah. ”Seni gejog lesung memiliki muatan ungkapan syukur, penghormatan terhadap alam dan harmonisasi serta gotong–royong. Karenanya, Pemkab Klaten mendukung festival gejog lesung sebagai sarana untuk menggali, mengelola dan mengembangkan seni gejog lesung tanpa menghilangkan hakikat pembentukan nilai-nilai budi luhur di dalamnya,” kata Bupati.

Festival Gejog Lesung tingkat kabupaten sudah lima kali digelar. Camat Cawas Sofan mengatakan upaya melestarikan kesenian gejog lesung sekaligus pengembangan karakter para pemainnya. Seni gejog lesung perlu dihidupkan melalui gelaran festival agar para generasi muda memahaminya.

Ada tiga juri dihadirkan yakni dari ISI Solo, ISI Yogyakarta dan Dewan Kesenian (Wankes) Klaten. Penilaian meliputi tata gerak dan lagu, kekompakan, kemeriahan dan cara memainkan lesung. Panitia menyediakan hadiah total Rp 7,5 Juta. Setiap tahun diharapkan ada peningkatan kualitas dan kuantitas peserta.(F5-65)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort