Semoga “Legenda” Itu Tetap Berkiprah

 

CUKUP Mengagetkan ketika dalam sambutan pembukaan Rapat Umum Anggota INSA,Johnson W Sutjipto itu mendadak mendeklarasikan dirinya bahwa dia tidak ingin dipilih lagi sebagaiKetua INSA Periode 2019-2024.
Selama lebih dari 30 tahun berkiprah di INSA,”Sang Pendekar” itu  berusaha meneruskan dan merajut gagasan besar para founding father INSA untuk menjadikan pelayaran sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Johnson  menancapkan visi INSA tersebut secara kuat. .
” Saya senantiasa   berupaya mencapai visi  besar tersebut melalui INSA,” ucapnya berulangkali.
Direktur PT Salam Bahagia tersebut menjelaskan selama berkecimpung dalam bisnis pelayaran, dia telah merasakan bagaimana susah dan senangnya menjalankan bisnis ini. Tetapi jika dicermati perkembangan industri pelayaran nasional dalam beberapa tahun terakhir, khususnya dalam enam bulan terakhir, industri pelayaran di Indonesia sedang berada pada periode kemunduran.
“Dalam sejarah, pelayaran nasional mengalami pasang surut, mirip dengan istilah habis gelap terbitlah terang. Sebagai gambaran, sejak Deklarasi Djuanda, pelayaran nasional  memasuki periode Habis Gelap, Terbitlah Terang. Saat itu, sekitar 70% muatan ekspor-impor Indonesia dikuasai kapal-kapal nasional,” ujarnya.
Namun, pada tahun 1984, pelayaran nasional memasuki periode Habis Terang, Terbitlah Gelap. Puncaknya adalah pada awal tahun 2005 dimana hampir 50% angkutan laut dalam negeri dikuasai kapal asing dan sekitar 95% muatan ekspor-impor Indonesia juga dikuasai oleh  pelayaran luar negeri.
Ia mengatakan, pada Maret 2005, pelayaran nasional mulai masuk ke periode Habis Gelap Terbitlah Terang sejalan dengan adanya Instruksi Presiden No.5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional. Tetapi, baru berjalan 10 tahun, ketika pelayaran belum mencapai puncak kejayaannya, kini sudah menunjukkan ke arah kemunduran.
Saat ini, banyak kapal-kapal niaga nasional anggota INSA yang lay off, kinerja industri pelayaran terus  melemah, iklim investasi kian memburuk yang diperparah dengan masalah defisit pelaut, permodalan usaha pelayaran, asuransi perkapalan, pembiayaan kemaritiman, ketidakpastian biaya dan lahirnya kebijakan-kebijakan sektoral yang tidak mendukung bagi program pemberdayaan industri pelayaran nasional.
Di sisi lain, tantangan industri pelayaran ke depan semakin berat, terutama dalam menghadapi persaingan di tingkat regional dan global. Kondisi ini membuktikan bahwa perusahaan pelayaran nasional saat ini sedang dalam keadaan sangat serius sehingga dibutuhkan kerja keras dan soliditas anggota INSA untuk menjawab tantangan tersebut.
Nawa Cita  melalui sembilan program prioritas, termasuk di dalamnya program Tol Laut dan agenda mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia cukup memberikan harapan bagi kemajuan industri pelayaran nasional ke depan. Akan tetapi, program tersebut membutuhkan dukungan semua pihak.
Penguatan sektor angkutan laut luar negeri (ekspor-impor) guna menciptakan kemandirian angkutan laut dalam dan luar negeri sehingga mampu bersaing secara global  juga sangat mendesak. Semua program tersebut akan mendorong meningkatnya kinerja industri pelayaran yang pada akhirnya dapat mengantarkan pelayaran nasional menjadi tuan di negeri sendiri.
INSA sebagai organisasi pelayaran niaga terbesar di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam membantu anggotanya untuk secara bersama-sama mengatasi masalah-masalah pelayaran dan mengubah kondisi industri pelayaran menjadi lebih terang dan cerah serta menjanjikan sesuai dengan visi dan misi INSA.(budi nugraha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *