SM/dok MENATA PRODUK : Anggota kelompok Primarasa dari desa berdaya Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo menata produk wedang sari salak, Rabu (8/5).(26)
- Regional Jateng

Rumah Zakat Dampingi Produsen Wedang Sari Salak

KULONPROGO – Bagi para pengelola Rumah Zakat, ikhlas mendampingi kelompok masyarakat hingga mampu berdaya merupakan suatu berkah. Terlebih jika kelompok yang mereka bina berhasil mengukir penghargaan, kebahagiaan terasa berlipat. 

Dari sekian desa berdaya yang didampingi Rumah Zakat, Desa Jatimulyo di Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo adalah salah satu potret keberhasilan itu. Dengan kerja keras anggota dengan pendampingan fasilitator Rumah Zakat, kelompok Primarasa dari Desa Jatimulyo sukses meraih juara pertama dalam Gebyar UKM 2019 tingkat kecamatan. Produk andalan yang mengantarkan mereka sukses meraih prestasi itu adalah wedang sari salak. 

“Alhamdulillah dengan pendampingan dari Rumah Zakat, satu tahun terakhir ini proses produksi di tempat kami berkembang pesat,” kata Ketua Kelompok Primarasa, Warnengsih.

Mulanya, pembentukan kelompok ini hanya memproduksi keripik dan makanan kering. Berbekal pelatihan dari mahasiswa KKN dan pendampingan intensif oleh Rumah Zakat, mereka mulai merintis pembuatan produk baru berupa minuman olahan wedang sari salak. Fasilitator Desa Berdaya, Murjiyati menuturkan di tahap awal butuh beberapa kali uji coba hingga diperoleh cita rasa wedang yang pas.

“Produksinya dimulai Februari tahun lalu. Kemudian memasuki bulan ketiga produksi atau sekitar Mei, didaftarkan PIRT dan mereka mulai belajar cara pengemasan yang bagus agar menarik pembeli,” ucapnya.

Gencar Promo

Menjelang perayaan Idul Fitri 2018 silam, order yang datang semakin banyak. Selain dari kalangan teman, warung-warung di sekitar lingkungan desa berdaya Jatimulyo juga banyak yang memesan. Seiring gencarnya promo, order pun terus mengalir. Produk wedang sari salak hasil olahan kelompok Primarasa bahkan kini eksis di sejumlah objek wisata di Jatimulyo.

Menurut Murjiyati, dipilihnya salak sebagai bahan baku produk unggulan bukan tanpa sebab. Pasalnya, tanaman salak mudah dijumpai di pekarangan milik penduduk Jatimulyo. Iklim dingin pegunungan Menoreh cocok untuk mendukung budi daya salak pondoh bahkan bisa dibilang, kualitas produk salak dari Kulonprogo hampir sebanding dengan Sleman. 

“Nyaris setiap hari disini ada buah salak, meski tidak sedang musim panen. Sementara dilain sisi harganya sering anjlok apalagi jika tiba masa panen, per kilogramnya hanya laku Rp 2.000-Rp 4.000,” tuturnya.

Hal ini lantas membuat warga berpikir cara agar harga salak stabil sekaligus bisa mengangkat kesejahteraan kaum petani. Harapan mereka disambut oleh pemerintah daerah setempat yang tengah fokus menjadikan produk lokal sebagai primadona.

Hasil kerja keras mereka akhirnga terbayar. Bukan hanya mendapat keuntungan secara ekonomi, produk kelompok Primarasa juga kian dikenal dengan pemberian penghargaan Gebyar UKM. 

“Semoga penghargaan itu bisa memotivasi anggota agar terus berkreasi,” tutupnya. (J1-26)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *