Remy Sylado: Tidak Ada Contoh Kritik Film Yang Memandaikan Pembaca.

Jakarta, Suaramerdeka.News —
Izin kepada segenap juri–Bre Redana, Niniek L. Karim, Wina Armada, Lola Amaria, Benny Benke dll.–bahwa saya tidak punya calon pemenang yang mustaid karya kritiknya untuk dibaca sebagai pengetahuan berpendapat bebas terhadap tafsir yang objektif atas hasil kerja terpadu kesenian film sebagai karya seni pertunjukan yang paripurna.

Saya tidak punya calon pemenang sebab, maaf, dari semua naskah kritik film yang saya baca, tampaknya memang tidak satupun yang memperkaya pengetahuan saya tentang seluk-beluk film (film sebagai wujud pemikiran-pemikiran keindahan yang dengannya dipertalikan dengan bilanglah diskursus estetika nan rumit, yaitu bahan paling dasar cerita menyangkut kewidyaan dramaturgi: 1,2,3,4 serta film sebagai piranti bisnis dengan modal miliaran rupiah yang karuan membuat banyak orang hidup dalam keseolahan dunia mimpi: kaya dan populer: dielu-elukan kerumunan khalayak).

Bukannya memperoleh kekayaan pengetahuan yang diharapkan dari membaca kritik tersebut, sebaliknya rasa tawar karena artikel kritik yang diharapkan sebagai tulisan analisis terhadap film yang dibuat oleh seorang ahli, yaitu jurnalis, dirasakan hanya sebagai awam yang bahkan tidak memiliki kecenderungan yang cukup untuk menerangkan seluk-beluk film tersebut, terutama dari sudut logika cerita yang dengannya berkaitan dengan keilmuan dramaturgi di satu pihak, dan di lain pihak kaitannya pada keilmuan sinematografis menyangkut teknikalitasnya secara terpadu.

Lain dari itu, cara jurnalis mengurai masalah yang diharapkan mesti dibaca sebagai kritikisme, banyak diganggu oleh pemilihan istilah-istilah bahasa Inggris yang “stel habis” sekaligus rancu.

Agaknya sudah jadi gaya sekarang–mereka menyebutnya “gaya milenial”, bahwa kalimat-kalimat naratif yang panjang dalam bahasa Indonesia diselang-seling dengan kata-kata bahasa Inggris macam “by the way”, “so far”.

Kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang dipenuhi dengan kata-kata bahasa Inggris tersebut, gerangan sudah jadi model yang gatal melalui lisan di banyak brodkas TV, contoh paling heboh adalah Trans TV.

Di sini ada acara bernama “Bikin Laper”. Dua orang pembawa acara ini paling suka menyeru-nyeru penontonnya dengan kata bahasa Inggris “guy” atau “guys”.

Ketika mereka berkata begitu, mulut mereka bergoyang-goyang mengunyah makanan. Bagi orang terdidik sopan santun makan–tradisinya dalam golongan terpelajar, adat bagus ini dipelajari dalam apa yang biasa disebut sebagai ‘table manners’.

Adat ‘table manners’ ini pernah menerima seorang menteri yang dikirim oleh Presiden SBY ke sekolah John Robert Powers untuk belajar tata krama makan di mejamakan.

Guru yang mengajar menteri tersebut adalah istri diplomat Prancis yang dengan sendirinya fasih berbahasa Prancis dan Inggris serta sedikit bahasa Belanda yang dipelajari dari keluarga ibunya yang berasal dari Minahasa.

Saking seringnya TV itu ber-guy dan guys, termasuk perempuan menyapa perempuan, membuat makin banyak orang salahkaprah memakai kata “guy” ini.

Mengira bahwa “guy” berlaku untuk perempuan. Padahal kalau kita baca Dictionary of English Language and Culture, di situ kita baca bahwa ‘guy’ adalah “a picture of man…” Atau, kalau kita baca The New Shorter Oxford English Dictionary, pada lema guy keterangannya adalah “An effigy of a man usually a crude one in ragged clothes which is a burnt on a bonfire on, or near 5 November the anniversary of the Gunpowder Plot.”

Celakanya dalam acara ‘Bikin Laper’ itu salahsatu pembawa acara yang perempuan, berseru dalam logat Manado “O dodoe, guy”.

Sementara lafal bahasa Manado ‘gai’ itu artinya ulat belatung dalam makanan-makanan yang sudah busuk. Jadi, bayangkan, orang di Manado mengartikan ‘gai’ di makanan-makanan yang sedang dibancak oleh kedua pembawa acara tersebut dikira sudah busuk berulat belatung.

Kedua pembawa acara tersebut pun rame sendiri memakan makanannya. Mereka berteriak-teriak, bukan seperti orang lapar, tapi seperti orang rakus, mirip seperti hewan-hewan berkelahi.

Namun contoh buruk itu malah ditiru meluas oleh anak-anak muda seperti terjadi di sebuah rumah makan Korea di Bogor: segerombolan anak muda makan di situ sembari memekik-mekik “Gusti!” dan “Cihuy!” sambil mengunyah-ngunyah makanan, lantas “Ini enak bener, guys!” bahasa centang perenang macam begitu justru mempengaruhi (saya tidak mengeja: ‘memengaruhi’) sejumlah jurnal belakangan ini yang konon disebut-sebut sebagai gaya milenial tersebut.

Dan, model begitu itu pula yang telah saya sebut di atas tadi sebagai tulisan-tulisan kritik yang tidak memperkaya pengetahuan saya Peri seluk-beluk film yang notabene merupakan wujud pemikiran-pemikiran keindahan dalam nomina bisnis dengan modal miliaran rupiah.

Dengan pernyataan itu, seakan-akan semua artikel kritik yang dibaca oleh puan-puan dan tuan-tuan juri seakan-akan seluruhnya cacat, dan boleh jadi puan-puan dan tuan-tuan pun mengira bahwa semua artikel kritik itu tidak berhasil mencapai standar (kalau memang ada standar untuk itu) mencakup kerangka-kerangka kritik antara evaluatif, apresiatif, ekspositoris, dan tentu dengan mukabalah yang teliti lewat contoh-contoh.

Untuk itu, saya rasa tidaklah bestari menyimpulkan bahwa seakan-akan dari kitaran penulis-penulis kritik angkatan milenial tersebut semua parah.

Dalam bahasan tentang contoh ideal kritik film yang dilangsungkan di Bandung pada tahun lalu, saya memuji kritikisme film yang dibuat oleh Shandy Gasella.

Malahan saya bilang, kalau kritik film yang menang pada FFI 1980-an karya Duduh Durahman dijadikan contoh standar, maka karya Shandy pada 2018 ini telah melampauinya, karena dua isyarat yang menurut saya mustahak, yaitu, bahwa kritik film tersebut seyogyanya memberikan kekayaan pengetahuan akan selukbeluk film bagi pembaca.

Tapi memang di luar itu, banyak jurnalis yang menulis kritik film tahun ini, sebagaimana yang telah dibaca bersama oleh para anggota juri yang nama-namanya sudah disebut di alinea pertama tadi, sayangnya abai pada bagian-bagian dari keterpaduan film.

Taroklah misalnya unsur musik dalam film. Dulu, pada 1990-an dalam film Fatahillah, ada adegan orang bermain kecapi.

Di telinga penonton instrumen yang dimainkan itu memang kecapi, tapi yang terlihat di mata penonton, instrumen yang dimainkan adalah rincik, yaitu kecapi kecil untuk tugas mengembangi (akompanimen) bagi kecapi.

Lalu, dua film yang beredar pada 2019 ini luput juga dari kejelian kritik untuk hal yang berhubungan dengan musik sebagai bagian dari keterpaduan film sebagai piranti budaya.

Dua film yang dimaksud ini adalah pertama Bumi Manusia yang diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer.

Manajer publisitas pada produksi film ini memuji-muji bahwa lagu tema yang dinyanyikan antara lain oleh Iwan Fals, Once, adalah yang hebat mewakili nasionalisme Indonesia. Sungguh suatu pujidiri yang sesat.

Sebab, lagu yang dimaksud, yaitu “Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah plagiat atas lagu hymnal Amerika, aslinya adalah “What a friend we have in Jesus” ciptaan Charles Converse dan Horatius Bonar.

Karya ini dicatatkan hakciptanya pada 1876 melalui Biglow & Main di bawah nama Philip Paul Bliss and Ira David Sankey di dalam Gospel Hymn No 2, hlmn 59.

Adalah sebuah zending dari Kanada, yaitu Christian and Missionary Alliance pada 1932 di Makassar yang pertama kali memasyhurkan lagu ini dengan judul terjemahan yang dibuat oleh P.H. Pouw sebagai “Isa ada Sobat Kita”.

Zending dari Kanada itu dipimpin oleh teolog bernama R.A. Jaffray, yang mendirikan sekolah teologinya di Jl. KEMA (sekarang Jl S. Pareman, dan di situ mahasiswa-mahasiswanya rajin menyanyikan lagu ini, kemudian sangat populer pada masa Perang Dunia II manakala Jaffray sendiri ditawan dan disiksa Jepang di Makassar.

Ia dibantu mendapat makan dari dua anak perempuan dari kampung yaitu Johana dan Jenny yang tiap hari melemparkan singkong bakar untuknya.

Setelah usai Perang Dunia II, lagu “What a friend we have in Jesus” tersebut menjadi sangat populer di antero kawasan Indonesia timur, mulai dari Manado dan Ambon, sampai Kupang.

Lantas pada 1960-an, sebuah grup anak perempuan dari Surabaya, Dara Puspita, mengubah kata-kata “What a friend we have in Jesus” menjadi “Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”.

Justru lagu plagiat ini yang sekarang dianggap sebagai salah satu lagu nasional, dipuji-puji oleh produser film Bumi Manusia, sebagai lagu nasional yang terhormat. Menyesal, kritik film tidak membuka kejahatan ini.

Film lain lagi yang beredar pada 2019, dan jurnalis film tidak cukup pengetahuan tentang musik sebagai bagian dari keterpaduan film, adalah Love for Sale 2 antaralain dimainkan oleh Ratna Riantiarno.

Di dalam film ini ada adegan anak Ratna menyanyi sambil bergitar. Di mata penonton sang anak memainkan gitarnya di akor D: dikocok (strumming), bukan dipetik (pizzicato).

Tapi yang didengar penonton adalah bunyi instrumen keyboard. Ganjil pula bahwa dalam cerita ini Ratna Riantiarno memerankan wanita Minang, tapi dalam berdialog ia melafalkan kata-kata dengan konsonan ‘b’, ‘d’, dan ‘g’ secara Jawa yang kental dan berat.

Kelihatannya tidak ada upaya untuk belajar yang elementer untuk tugas peran. Dalam hubungan ini saya ingat akan usaha Ferry Salim untuk belajar bercakap menurut cara Cina-Jawa, sementara latar belakangnya adalah Cina-Palembang.

Dia mengaku itu sangat sulit, tapi dia betul-betul ingin belajar. Seperti yang kita ketahui bahasa tutur Cina-Jawa itu sangat khas.

Misalnya kataganti yang menunjukkan pengertian milik, bentuknya menjadi ‘dianya’. Lalu dijawakan menjadi ‘diake’. Kemudian ada frasa begini: “Aku liak-liak diake, diake liak-liak aku.” Melayu-Pasarnya: “Aku lihat-lihat dia, dianya lihat-lihat aku.” Apa maksudnya? Ternyata itu berarti ‘cermin’.

Upaya Ferry Salim untuk belajar itu masih terbilang sederhana. Dia belum seperti aktor Jim Caviezel pemeran Yesus, yang harus belajar bahasa Aram (bahasa tua yang sudah tidak terpakai, dan dulu di awal Tarikh masehi merupakan bahasa yang dipakai oleh Yesus).

Melihat bahwa unsur musik sangat penting dalam bicara keterpaduan film, maka tak pelak dipikirkan oleh Wina Armada Sukardi dari kegiatan kritik film di bawah Dikbud ini, untuk membekali juga pengetahuan musik bagi jurnalis-jurnalis yang bertugas menulis kritik film.

Cendekia musik yang bisa diharapkan untuk itu misalnya Franki Raden, Dwiki Dharmawan, Tan De Seng, Otto Sidharta. (Benny Benke – 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *