Refleksi atas Asesmen Nasional Pendidikan

Oleh Mujiyono

PELBAGAI kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan Kemdikbud, salah satunya menghapus ujian nasional dengan menggantinya dengan asesmen nasional. Sebagai kebijakan evaluasi yang sangat memperhatikan keterukuran rasional, ini langkah bagus yang layak mendapat dukungan.

Asesmen nasional yang terdiri atas asesmen kompetensi minimun (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar merupakan instrumen yang dirancang untuk memotret mutu input, proses, dan hasil belajar yang mencerminkan kinerja sekolah dalam menjalan program pendidikan.

Hasilnya yang diperoleh secara berkala dapat digunakan sebagai umpan balik untuk mengevaluasi kinerja satuan pendidikan dan sekaligus menghasilkan informasi untuk perbaikan kualitas belajarmengajar.

Dengan begitu jelaslah bahwa tujuan asesmen nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Berani meniadakan ujian nasional dengan mengganti asesmen nasional merupakan sebuah cara yang menurut penulis lebih produktif, ideal, singkat, dan efisien dalam pengukuran kualitas sebuah pendidikan secara menyeluruh. Dalam perspektif ilmu penelitian kuantitatif, kebenaran tidak perlu dilakukan dengan cara mengukur semua populasi.

Untuk memperoleh gambaran yang bersifat menyeluruh hanya perlu penelitian terhadap sebagian dari populasi. Hasil kajiannya dianggap telah mampu dan bisa digunakan untuk generalisasi populasi secara umum. Meskipun hasil kajian, tidak memberikan akurasi seratus persen seperti dilakukan pada populasi tetapi hasilnya bisa dikatakan sangat valid untuk digunakan sebagai dasar pengambil kebijakan. Karena itu, asesmen nasional tidak akan diselenggarakan pada semua sekolah, tetapi hanya pada sekolah-sekolah yang ditetapkan dan terpilih dengan pertimbangan tingkat representasi atau keterwakilan dari beberapa atribut dan sifat populasi. Model representasi ini dilakukan melalui penggunaan jumlah sampel yang terbatas.

Jumlah tersebut harus mewakili karakteristik kelas, akademik sekolah, strata ekonomi siswa. AKM yang hanya terbatas dan proporsional menunjukkan cara kerja yang jauh lebih efektif. Hal tersebut sangat kontras dengan model ujian nasional yang menggunakan populasi dengan melibatkan seluruh siswa untuk hanya mengukur sebuah keberhasilan pendidikan secara nasional. Pemborosan kertas, waktu, tenaga, dan seluruh aspek lainnya yang terkait sungguh sangat tinggi. Hanya demi mengukur kualitas kemajuan, semua siswa harus diuji. Jikapun hasil ujian telah didapat, kenyataannya tidak mampu mengukur secara objektif kualitas pendidikan.

Visioner

Asesmen nasional memiliki perspektif yang bervisi jauh ke depan. AKM hanya mengukur kemampuan siswa dari aspek literasi dan numerasi. Asumsi-asumsi yang dibangun jelas menunjukkan bahwa untuk mengatasi ketertinggalan dengan negara lain dalam inovasi, model pengukuran pada konten materi tak relevan lagi. Era digital abad ke-21 menuntut kecepatan bagaimana memanfaatkan sebuah konten materi yang telah melimpah.

Konten tidak perlu dihafal, tetapi harus selalu disikapi dalam posisi untuk selalu dikombinasikan sehingga diperoleh modifikasi tanpa henti. Hasil modifikasi yang telah berhasil dikreasikan peserta didik ke dalam pandangan ideal perlu juga direlasikan dengan konten materi lainnya.

Dengan demikian, asesmen nasional sangat memperhatikan karakter siswa dan lingkungan belajar sebagai indikator keberhasilan pendidikan. Ujian nasional yang membanggakan kualitas pendidikan hanya dari aspek kognitif semata direfleksi secara tajam.

Pada kenyataannya, terjadi beberapa praktik ujian nasional yang tidak fair dengan adanya treatment awal sebelum ujian kepada siswa, yang semua itu hanya untuk mengejar hasil pendidikan untuk tujuan pencitraan. Dan memang tidak semua sekolah berani bersikap dewasa dan transparan dalam menghadapi ujian nasional. Dalam konteks ini, asesmen nasional bersifat progresif karena berani mengukur aspek karakter siswa dan kualitas suasana lingkungan belajar. Karakter siswa merupakan unit dari sebuah keberhasilan pendidikam yang harus dievaluasi. (37)

Mujiyono SPd Msn, dosen Jurusan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort