Realisasi Pabean dan Cukai Rp 10,48 Triliun

KUDUS – Hingga kemarin, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Kudus (KPPBC TMC) Kudus mencatat pemasukan pabean dan cukai mencapai Rp 10,4 triliun. Meskipun industri hasil tembakau masih lesu, target yang diupayakan pemerintah pusat diupayakan direalisasikan.

Kepala KPPBC TMC Kudus Iman Prayitno melalui Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi (PLI) KPPBC Kudus Dwi Prasetyo Rini memerinci target cukai tahun ini sebesar Rp 32,5 triliun dan terealisasi Rp 10,45 triliun. Adapun pabean, dari target Rp 81,7 miliar terealisasi Rp 23,4 miliar.

”Pencapaian pemasukan pabean dan cukai mencapai 32,09 persen,” katanya.

Tahun 2018, penerimaan pabean dan cukai melampaui target. Dari target yang dibebankan pemerintah pusat sesuai revisi terakhir sebesar Rp 31,256 triliun, terealisasi Rp 31,341 triliun atau 100,27 persen. Sebelumnya target penerimaan pabean dan cukai rokok 2018 di KPPBC TMC Kudus sebesar Rp 37,671 triliun.

Target direvisi menjadi Rp 31,256 triliun atau terjadi penurunan Rp 6,415 triliun (1,70 persen). Perinciannya, target cukai Rp 31,075 triliun, terealisasi Rp 31,261 triliun atau 100,60 persen. Adapun dari penerimaan pabean (bea masuk), target Rp 180,948 miliar hanya terpenuhi Rp 79,682 miliar atau 44,035 persen.

Penyumbang Terbesar

Minimnya realisasi penerimaan pabean tertutup oleh realisasi penerimaan sektor cukai. Kudus menjadi penyumbang terbesar dalam penerimaan cukai dari sektor rokok ke kas negara Tahun 2018, target penerimaan pabean dan cukai ditetapkan pemerintah pada APBN sebesar Rp 155,4 triliun, dengan cukai hasil tembakau (CHT) sebagai penopang terbesar mencapai Rp 148,23 triliun. Dari jumlah itu 20,11 persennya dibebankan KPPBC Kudus.

Tahun 2017, dari target penerimaan Rp 34.73 triliun, terpenuhi 100,01 persen. Dari sisi penerimaan lebih besar dari target, namun dilihat prosensentasi realisasinya sedikit lebih rendah dibanding penerimaan tahun 2018. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendongkrak penerimaan cukai yaitu dengan mengintensifkan pemberantasan rokok ilegal. Hal itu memberikan dampak positif bagi peningkatan produksi rokok legal. Apabila peredaran rokok ilegal tertekan, kekosongan daerah pemasaran dapat diisi rokok legal sehingga produksinya menjadi terdongkrak.

“Kalau produksi rokok legal naik, maka pembelian cukai juga akan meningkat,” terangnya. (H8-39)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *