xpornplease.com pornjk.com porncuze.com porn800.me porn600.me tube300.me tube100.me watchfreepornsex.com

Puisi Adalah Roh, Harga Hidup, Nilai-nilai Baru.

Lomba Baca Puisi Khusus untuk Jurnalis se – Indonesia dalam rangka HUT Partai Golkar ke-56.

JAKARTA, Suaramerdeka.NewsPangeran Negara, Putu Fajar Arcana, dan Baiq Mutia ditetapkan sebagai juara pertama, kedua dan ketiga dalam ajang Lomba Baca Puisi Khusus untuk Jurnalis se – Indonesia dalam rangka HUT Partai Golkar ke-56.

Sedangkan pemenang harapan satu, dua dan tiga adalah Dheni Kurnia, Ramon Damora dan Sabrina Fadilah Az-Zahra.

Keenam pemenang tersebut terpilih menjadi yang terbaik, setelah secara estetika bertarung dengan 30 peserta lainnya, dari seluruh Indonesia.

Yang masing-masing peserta mengirimkan dua rekaman sajak yang dibawakan. Yaitu sajak wajib milik penyair Chairil Anwar, WS. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Dan Puisi bebas milik siapapun, juga karya sendiri.

Ajang yang berpuncak Auditorium Abdul Muis, Gedung DPR, RI, Jakarta, sebagaimana dijelaskan anggota Dewan Juri yang terdiri dari Sutardji Calzoum Bachri, Lola Amaria, Wina Armada Sukardi, dan Benny Benke mengembalikan penilaiannya pada Nilai Rasa.

Sutardji Calzoum Bachri, Lola Amaria, Wina Armada Sukardi, dan Benny Benke. (SMNews/Ist).

Nilai Rasa seperti dikatakan Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (80) adalah kiat superjitu dalam menimbang dan menilai pembacaan karya Puisi, dengan cara paling adil dan berkeadilan.

Alihalih bersandar pada angka, atau tabulasi yang kemudian dimatrikkan dalam sebuah tabel, Anggota Dewan Juri bersepakat mengembalikan penilaian pembacaan karya Puisi ke rumahnya yang paling purna dan purba; perasaan.

“Nilai rasa tidak bisa diangka-angka,” demikian dikatakan Sutardji Calzoum Bachri saat mengumumkan pemenang, Kamis (15/10/2020) siang.

Sutardji menambahkan, inti paling utama menilai pembacaan Puisi, baik deklamasi juga musikalisasi Puisi adalah; Penampilan.

“Nah, dari penampilannya, kita akan mendapatkan semuanya, atau sebagian, atau tidak sama sekali,” katanya lagi.

Maksudnya, bagaimana dia (pembaca puisi) menafsirkan Sang Puisi, untuk masuk ke rumah penghayatan, untuk kemudian membunyikan puisianya via artikulasi (vokal, dan ritme), juga bahasa gambar (sinematografinya) yang harmonis.

Yang keseluruhan unsur pembangun penampilan itu, akankah menghasilkan kebaruan. Atau justru menimbulkn kebosankan, atau kalau beruntung, menghasilkan kebagusan.

“Penampilan itu diharapkan akan segar, unik dan menimbulkan kebaruan atau tidak. Karena dalam pembacaan Puisi, ada
pertemuan kepribadian antara penyair dan sang Puisi,” katanya lebih lanjut.

Atau dalam penjelasan yang mangkus dan mustahak dikatakan, “Penampilan Auteur — artis tunggal yang mengendalikan seluruh aspek karya kreatif kolaboratif, dalam hal ini pembaca sajak — terikat kuat dengan penampilan inner-nya. Bagaimana penghayatan dari dalamnya. Apakah over atau under karena terlalu kering,” katanya lagi.

“Membaca Puisi tidak harus memekik-mekik. Kadang bisa gemulai, kadang sarkasme, kadang malah penuh ketenangan. Atau bisa jadi pembacaan dari sisi humoristik, atau romantika. Yang penting semua menyergap kita,” tekannya.

Terma “menyergap” ini sangat subyektif sekali. Apa yang menyergap (perasaan) seseorang, juga anggota Dewan juri lainnya, belum tentu menyergap perasaan orang lain. Demikian sebaliknya.

Keluarbiasaan di mata seseorang, sangat bisa jadi “ecek ecek”, recehan di mata Sutardji. Demikian sebaliknya.

“Karena itulah lomba pembacaan Puisi sebenarnya tidak bisa diangka-angka, karena itu persoalan hati,” katanya mengulang.

Oleh karena Itu, ditambahkan Wina Armada Sukardi, penilaian tidak parsial, tapi in toto (menyeluruh). Atau angka belakangan, karena angka menunjukkan relativitas belaka. Meski parameternya sama.

Turunannya, masih menurut Wina Armada Sukardi, tiap anggota Dewan Juri, hanya menggradasikan penilaiannya. Kemudian tinggal dicocokkan 10 nama dari masing-masing pilihan Anggota Dewan Juri. Dari 10 nama yang dikumpulkan, itu akhirnya ditemukan irisan pemenangnya. Yang sebelumnya kembali diuji nama-nama puncaknya.

Lomba yang telah digulirkan sejak beberapa Minggu lalu itu, paling banyak diikuti sejumlah penyair cum wartawan dari Sumatra. Teristimewa dari Sumatra Barat, Jambi, Lampung, Palembang, dan Riau. Sisanya dari Sulawesi Tenggara hingga Makassar. Sisanya dari Jatim, Jateng dan DKI Jakarta.

Lola Amaria dalam Catatan Anggota Dewan Juri mejelaskan, ada kecenderungan dan sayangnya, diam-diam menjadi kesadaran publik, dewasa ini membaca sajak biasanya dilakukan dengan dramatisasi yang berlebihan.

Akibatnya, pembacaan sajak justru menjadi artifisial, berlebihan (lebai) dan menjadi tidak wajar. Karena banyak yang membaca sajak dengan cara marah-marah.

“Hal ini menjadi makin memprihatinkan, karena pembaca sajak justru seperti kehilangan orientasi atas sajak yang dibawakannya,” kata Lola Amaria.

Karena, ditambahkan Benny Benke, sajak cenderung dan hampir selalu dibawakan dengan cara, sekali lagi, dengan marah-marah, nyaris tidak ada kebijaksanaan (wisdom) di sana.

“Karenanya, Dewan Juri Lomba Baca Puisi untuk Jurnalis Se-Indonesia, dalam rangka Ultah Golkar ke-56, menyimpulkan, sebagian besar peserta lomba kali ini MASIH IN THE MAKING POINT. Atau berproses menjadi pembaca puisi,” kata Benny Benke.

Tersebab cara pembacaan dan pembacaan sajak masih jauh dari kebijaksanaan. Sehingga menemukan pembaca sajak yang selesai dengan urusan penghayatan yang benar dan laras, tidak mudah.

“Yang kita cari adalah pembaca sajak yang menyatu dengan penghayatan, sehingga menghasilkan KEMATANGAN,” imbuh Benny Benke, sembari mengatakan, dengan kematangan, persoalan teknis menjadi selesai.

Surprise.

Nurul Arifin, Wakil Ketua Umum Korbid Komunikasi dan Informasi Partai Golkar, dalam sambutannya mengaku terkejut dengan animo masyarakat, teristimewa sejumlah penyair di ajang yang kali pertama bergulir ini.

Surprise dengan animo masyarakat. Apalagi pesertanya adalah penyair yang juga wartawan. Intinya, Golkar ingin bersama media, kalau media maju, Indonesia kuat. Golkar ingin membuat negara ini establish,” kata Nurul Arifin yang hadir mewakili Ketum Partai Golkar Airlangga Hartato. Yang juga sempat membacakan sajak “Menatap Merah Putih”, Sapardi Djoko Damono via video tapping.

Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI, serta Ketua DPP Partai Golkar bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO), yang sekaligus selalu penggagas ajang ini berharap, gelaran luar biasa ini, akan menyempurna di tahun berikutnya.

“Yang masuk (puisinya) bagus-bagus. Jadi memang tidak mudah menilainya. Apapun itu, dunia politik harus dekat dengan dunia seni, agar kita sama sama dapat berkarya dengan rasa,” kata Meutya Hafid.

Apa yang dikatakan Meutya Hafid dibenarkan oleh Sutardji Calzoum Bachri. Mengutip John F. Kennedy, Sutardji mengatakan; “Jika politik bengkok, puisi akan memperbaikinya,” katanya.

Sutardji menerangkan, puisi (sebenarnya) tidak berindah-indah dan bercantik-cantik dengan kata-kata.

“Kalau mau berindah indah dengan kata-kata, (pergi) ke iklan saja. Puisi adalah roh, harga hidup, nilai-nilai baru. Karena Puisi memberikan tambahan makna pada katakata. Ada pemberdayaan pada katakata. Perbedayaan terjadi karena imajinasi hanya bisa dilakukan dengan katakata. Tuhan mengawali semua dengan kata, kun…..,” pungkasnya sebelum membacakan sajaknya sendiri berjudul “Tanah Air Mata”, yang diawali dengan menembang “Summertime” milik George Gershwin, dengan stamina dan daya pukau yang masih luar biasa. (Bb-39).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

izmir escort
php shell
denizli escort bayan düzce escort bayan bolvadin escort denizli escort banaz escort escort ısparta escort çankırı afyon escort bayan escort balıkesir escort bolu
istanbul escort ilanlari istanbul escort istanbul escort bayanlarla sevgili tadinda etkilesimler. istanbul escort bayanlar istanbul escort istanbul escort hizmeti icin ideal web sitesi.