Puasa, Idul Fitri, dan Manusia Baru

Oleh Ahmad Rofiq

BULAN suci Ramadan 1441 Hijriah segera meninggalkan kita. Rasulullah Saw mengingatkan: ”Sekiranya hamba-hamba memahami makna atau nilai apa yang terdapat di dalam bulan Ramadan, sungguh mereka berharap setahun penuh menjadi Ramadan semua.” (Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Menurut perhitungan, 1 Syawal 1441 Hijriah akan bersamaan pada Minggu, 24 Mei 2020. Penegasan QS Al-Baqarah (2): 183 menunjukkan bahwa syariat puasa adalah prosesi pencucian atau pembakaran dosa-dosa vertikal dan sosial manusia, agar saat selesai Ramadan, orang yang puasa, kembali pada alam fitrah atau kesucian, yang disebut ‘Id (dikembalikan) dan Fitri (kesucian) laksana manusia baru.

Bagaimana gambaran tentang fitrah manusia. Allah Azza wa Jalla menggambarkannya dalam QS An- Nahl (16): 78 menyatakan, ”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan daya nalar agar kamu bersyukur.” Ini dipertegas lagi oleh sabda Rasulullah Saw: ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Sebagaimana binatang ternak menghasilkan binatang ternak yang lain, apakah kamu lihat ada kelahiran anak yang rompang hidup?” (Lihat Shahih Imam Bukhari, dalam kitab al-Janaiz, hadits 1296). Karena itu dalam konsep Alquran, setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, tanpa membawa dosa pun, meskipun ia lahir tanpa bisa memilih, dan bahkan mungkin ada yang kurang mujur, kehadirannya di dunia, tidak dikehendaki oleh orang tuanya.

Muhammad Ali al-Shabuni, sebagaimana dikutip Syarifah Imail (Jurnal At-Taídib, Vol 8, No 2, Desember 2013) berpendapat bahwa kebaikan dan kesucian menyatu pada manusia, sementara kejahatan bersifat aksidental. Manusia secara alamiah cenderung kepada kebaikan dan kesucian. Lingkungannya, terutama orangtua, bisa memiliki pengaruh merusak terhadap diri, akal, dan fitrah anak. Fitrah sebagai sifat bawaan tetapi bisa rusak.

Kehendak Ketuhanan

Pemikir Islam kontemporer, Ismail Raji al-Faruqi, memandang bahwa kecintaan kepada semua yang baik dan bernilai merupakan kehendak ketuhanan sebagai sesuatu yang Allah Swt tanamkan kepada manusia.

Pengetahuan dan kepatuhan bawaan kepada Allah Swt bersifat alamiah, sementara kedurhakaan tidak bersifat alamiah. Ibnu Sina (980-1037 M) mengatakan, bahwa fitrah manusia hanyalah pada keinginan pada yang benar, baik, dan indah. Lingkungan yang memengaruhi fitrah manusia itu akan berubah ke arah yang tidak positif.

Setelah kita puasa satu bulan, laksana kita keluar dari ”pertapaan” karena telah mendisiplinkan diri, tidak makan, minum, hubungan suami-istri, menjaga lisan, dan indra kita, agar ”semerbak wangi” bak minyak misik.

Darah yang mengaliri hidup tubuh kita, berasal dari harta yang dipasok dari rezeki yang halal cara memperolehnya, dan juga fungsi sosial berupa kedermawanan yang wajib melalui zakat fitrah dan mal, maka dengan kegembiraan kita sambut datangnya hari fitri, dan kita laksana manusia baru yang baru saja dilahirkan dari rahim ibu.

Bawaan bayi lahir sehat, tentu adalah lengkingan suara tangis kegembiraan si jabang bayi, namun ibu yang melahirkan dengan perjuangan antara ”mati dan hidup”, orang tua, dan handai taulannya, menyambut dengan senyuman kegembiraan dan tangis kebahagiaan.

Idealnya, orang yang berpuasa selama satu bulan, menjadi manusia baru yang hanya memiliki angan, ingin, dan rencana untuk melakukan yang benar, baik, dan indah, seperti kata Ibnu Sina, ”Yang menjaga kesalehan ritual vertikal, dan terus memperjuangkan kesalehan sosialhorisontal”.

Para ulama bijak menegaskan, ”hari raya bukanlah bagi orang yang busananya baru, namun hakikat hari raya, adalah manakala ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah semakin meningkat”.

Sesuai kapasitas dan job kita masing-masing, marilah kita lanjutkan spirit Ramadan ini pada sebelas bulan berikutnya. Jangan ada dusta, jangan ada tutur kata yang menista, jangan ada niat dan prilaku tercela, jangan ada lagi korupsi, dan jangan ada lagi rekayasa dan usaha untuk merusak negara karena merasa kuasa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), adalah hasil dari cucuran darah dan sabung nyawa para pahlawan dan syuhada yang mendahului kita. Jangan sia-siakan nilai ibadah puasa, hanya untuk sekadar keinginan sesaat, apakah itu kepentingan kelompok apalagi negara lain.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, ja’alana Allah wa iyyaakum minal ‘aidin wal faaizin, wa antum kulla ‘aamin bi khair, taqabbala Allah minna wa minkum, taqabbal yaa kariim. Mohon maaf lahir dan batin, semoga sepanjang tahun kita dalam kebaikan, dan Allah menerima amal ibadah kita. Amin. (46)

Ahmad RofiqGuru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Penasihat Lembaga Amil Zakal Masjid Agung Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *