PT JEL Sudah Bertindak Sesuai Undang-undang

JAKARTA- PT Jurong Engineering Lestari (PT JEL), anak perusahaan dari Jurong Engineering Limited (JEL) yang berbasis di Singapura, mendapat gugatan dari salah satu karyawannya, Trisna Gunawan. Sebab, JEL dinilai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. Kini, kasus tersebut ditangani Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kuasa hukum PT JEL, Edwin mengatakan, JEL tak pernah melakukan PHK atau memecat Trisna Gunawan. Menurut Edwin yang berasal dari Edwin & Partners Law Office ini, PT JEL hanya menerbitkan SP3 terhadap Trisna Gunawan. Sebab, sebelum surat peringatan itu dikeluarkan, Trisna telah melakukan tindakan yang tidak baik di lingkungan perusahaan. “Namun SP3 itu dimaknai lain sebagai pemecatan. Padahal perusahaan berhak mengeluarkan SP3 terhadap karyawan yang attitude-nya tidak baik,” ujar Edwin di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Setelah SP3 itu diberikan, perusahaan masih menanti kehadiran Trisna Gunawan untuk hadir ke kantor. Namun selama lima hari berturut-turut setelah itu, Trisna yang kali terakhir menjabat sebagai salah satu manager di perusahaan tak datang juga. “Bahkan perusahaan sudah kirim surat ke rumah Trisna yang isinya meminta datang ke kantor untuk kembali bekerja, tapi tidak pernah direspons. Begitu datang, tiba-tiba membawa kuasa hukum dan menggugat perusahaan,” ungkap Edwin.

Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 168 disebutkan, pekerja yang mangkir selama lima hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh pengusaha dua kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri.

Menurut Edwin, Undang-undang tersebut dijadikan acuan perusahaan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Trisna. “Jadi berdasarkan undang-undang itu, artinya Trisna telah mengundurkan diri karena lima hari berturut-turut tidak masuk kerja,” tegas alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Tangerang (UMT) ini.

Saat menggandeng kuasa hukum untuk menggugat perusahaan, menurut Edwin, penggugat mengajukan tuntutan senilai Rp 500 juta. Namun belakangan tuntutan berubah menjadi Rp 2,2 miliar karena meminta hak lembur yang dinilai tidak dibayarkan.

Menurut Edwin, status Trisna saat itu sebagai manajer. Dan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, disebutkan bahwa yang berhak mendapatkan upah lembur adalah pekerja golongan satu dan dua. Sedangkan golongan Trisna di atas itu karena levelnya adalah manajer. Hal itu juga sesuai dengan Keputusan Menteri bahwa mereka yang memiliki tanggungjawab sebagai pemikir, perencana, pelaksana dan pengendali jalannya perusahaan tidak dapat upah lembuh. “Manajer itu levelnya pemikir dan perencana, kalau pekerja atau worker golongan rendah baru dapat upah,” ujar Edwin yang pernah menangani nasabah berhadapan dengan AJB Bumiputera ini.

Edwin menerangkan, selama Trisna bekerja, perusahaan tak pernah melalaikan hak-hak yang seharusnya diberikan. Bahkan pada persidangan di PHI pada Senin, 10 Februari 2020, pihaknya membawa 112 bukti tentang data keuangan berupa bukti transfer gaji, pembayaran BPJS dan yang lain. Pada persidangan pekan depan, pihaknya juga akan memberikan 50 tambahan bukti terkait keuangan. “Kami berharap majelis hakim mempertimbangkan bukti-bukti dari pihak kami sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan terhadap karyawan,” kata Edwin. 

Menurut Edwin, Trisna juga mengajukan gugatan ke Polisi terkait masalah ini. Namun, pihaknya tak mau melakukan gugatan balik karena melihat Trisna tak hanya dari sisi buruknya. “Apapun itu, Trisna juga pernah mengabdi di perusahaan selama tujuh tahun. Jadi, kami tidak akan membuat laporan polisi,” tandasnya.

PT JEL sendiri merupakan anak perusahaan milik Jurong Engineering Limited, perusahaan rekayasa dan konstruksi yang berbasis di Singapura. Sedangkan PT JEL berkantor di Jalan Gunung Sahari, Jakarta.

Didirikan pada tahun 1995, PT JEL menyelesaikan proyek pertamanya pembangkit listrik Paiton fase 1 untuk unit 7 dan 8. Perusahaan ini menyediakan berbagai layanan termasuk teknik, pengadaan, konstruksi, fabrikasi dan layanan pemeliharaan. (ami/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *