Propam Lakukan Pemeriksaan

Tersangka Susur Sungai Mengaku Minta Digunduli

SLEMAN – Penggundulan ketiga tersangka kasus SMPN 1 Turi oleh kepolisian sempat disoal oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI).

Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto mengatakan, pihaknya telah menyikapi protes yang disampaikan oleh akun PB PGRI tentang tersangka yang dicukur botak.

”Propam sedang melakukan pemeriksaan di Polres Sleman untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan oleh anggota. Jika terbukti ada pelanggaran, petugas yang menyalahi aturan akan ditindak,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PB PGRI Unifah Rosyidi menegaskan, sejak awal peristiwa SMP N 1 Turi ini disesalkan dan menyisakan pilu mendalam pada orang tua, guru, dan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Pada penyataan yang diunggah di situs resmi PB PGRI dia menyatakan PGRI berduka dan amat sangat menyesalkan peristiwa ini.

”Program ekskul wajib Pramuka terutama outdoor sering kami kritisi agar dievaluasi dengan mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan peserta didik, guru, dan orang tua. Apalagi tugas guru sebagai Pembina adalah tugas tambahan yang tidak bisa dihindari oleh guru,” terangnya.

Dia juga mengungkapkan, pihaknya bakal mendampingi para guru yang menjadi tersangka pada kasus ini.

”Kesalahan para guru kami terima dan kami serahkan proses hukumnya untuk diberlakukan. Kami akan dampingi mereka, hak-hak mereka, dan sekaligus perlindungan dalam menjalankan tugas. Ini bukan apologia tapi mereka sebagai profesi wajib dilindungi dan tentunya hal ini tidak menghindarkan mereka dari kesalahan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Unifah menyesalkan perlakuan oknum aparat kepolisian pada tiga tersangka.

”Tetapi melihat perlakuan oknum aparat kepolisian yang membotaki, menggiring seperti residivis ini telah melukai hati, nurani, rasa kemanusiaan guru sebagai profesi. Seharusnya oknum kepolisian sebagai representasi masyarakat di bidang hukum bertindak profesional dan proporsional. Mengikuti protap yang ada,” tulis Unifah.

Pada sisi lain, dia juga sangat memahami kemarahan masyarakat terutama kemarahan orang tua korban. Dia kemudian menyampaikan permohonan maaf atas musibah tersebut.

”Kedukaan mendalam dan permohonan maaf apa pun tidak lah cukup mengobati rasa sakit mereka yang ditinggalkan anak-anak tercinta. Karena itu sekali lagi kelapangan hati orang tua kami mohonkan,” tambahnya.

Unifah lantas mengingatkan agar peristiwa ini harus jadi peringatan bagi semua dan tidak boleh terulang lagi di masa yang akan datang di dunia pendidikan.

”Bagi teman-teman guru, mari berdoa bersama sebagai bentuk dukungan pada keluarga yang ditinggalkan dan sebagai bentuk solidaritas bagi kawan-kawan yang tengah mendapatkan ujian dan musibah luar biasa. Tak usah bertindak di luar proporsi apalagi turun ke jalan. Mari kita semua dengan dingin bersikap. Dan menunggu penjelasan pihak aparat akan tindakan mereka ini,” tandasnya.

Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum PB PGRI, Ahmad Wahyudi mengatakan, untuk pendampingan hukum terhadap tersangka, PB PGRI telah menyiapkan empat orang kuasa hukum.

Upaya pendampingan ini sesuai dengan ketentuan UU Guru yang menyebutkan guru berhak mendapat perlindungan profesi.

Salah seorang tersangka, Isfan Yoppy Andrian (36) mengaku keadaannya selama berada di tahanan Polres Sleman baik.

Dia mengungkap polisi memperlakukannya dengan baik.

”Jadi di sini kami baik-baik saja, tidak ada tekanan apapun, kami diperlakukan baik,” kata Yoppy.

Dia pun meluruskan kabar terkait penggundulan dirinya. Yoppy mengatakan jika itu murni permintaannya.

”Jadi kalau gundul itu memang permintaan kami. Jadi pada dasarnya demi keamanan, karena kalau saya tidak gundul banyak yang melihat saya itu (mudah dikenali),” ujarnya.

Sebagai tersangka, lanjut Yoppy, dia tidak ingin dibedakan dengan tahanan lain. Sebab di dalam sel semua tahanan berpenampilan sama.

Menurut Yoppy, penyeragamanan penampilan itu juga berkaitan dengan keselamatannya.

”Kalau gundul kan sama-sama di dalam gundul juga jadi ini permintaan kami. Termasuk pakaian juga kami samakan kalau berbeda nanti saya juga takut. Tapi kalau di dalam sama-sama gundul, bajunya juga sama, jadi melihatnya nggak terlalu bisa spesifik ke saya,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan tak ada tekanan dari polisi kepada dia dan dua tersangka lainnya. ”Kami bertiga pasti di-support diberi dukungan moral sehingga hati kami semakin kuat,” beber Yoppy.

Sementara itu, Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah menyampaikan pada prinsipnya polisi telah melakukan penanganan hukum dengan hati-hati. Apalagi kasus tragedi susur Sungai Sempor yang menewaskan 10 sisiwi SMPN 1 Turi itu telah menjadi perhatian nasional.

Sementara itu, dari sisi ilmu sosiologi, menurut Kriminolog UGM, Suprapto, penggundulan adalah bagian dari teori antisipasi tindak kejahatan lanjutan dengan cara membuat situasi yang mudah dikontrol. Alasan digundul adalah untuk mempermudah identifikasi, dan mempersulit melarikan diri.

Selain menggundul rambut, pelaku tindak kejahatan-kejahatan juga diberi seragam warna biru atau oranye. ”Bahkan di zaman dulu, ditandai dengan mentato tubuh para narapidana,” jelasnya.

Sepengetahuannya, para napi memang selalu digundul. Namun dia tidak tahu apakah hal itu juga berlaku bagi tahanan yang masih berstatus tersangka.

Bukan Individual

Tim kuasa hukum Isfan Yoppy Andrian (37) alias IYA meminta kepada penyidik Polres Sleman agar melakukan penanganan kasus kliennya secara komprehensif.

Kasus tersebut dipandang sebagai suatu tindakan kolektif-kolegia berjenjang, bukan individual.

”Kasus ini harus dilihat dengan cermat. Ini adalah kegiatan sekolah, meski diklarifikasikan ekstrakurikuler,” kata anggota tim kuasa hukum IYA, Oktryan Makta saat jumpa pers, Rabu (26/2).

Sebagaimana diketahui, IYA adalah salah satu dari tiga tersangka kasus meninggalnya 10 siswa SMPN 1 Turi saat mengikuti susur Sungai Sempor yang merupakan rangkaian kegiatan Pramuka.

Selain IYA, penyidik juga menetapkan Riyanto (58), dan Danang Dewo Subroto (58) sebagai tersangka. Ketiganya adalah pembina Pramuka di sekolah tersebut.

Menurut Oktryan, susur sungai yang diadakan Jumat (21/2) lalu bukan kegiatan yang mendadak melainkan sudah terprogram. Agenda susur sungai itu juga sepengetahuan otoritas sekolah dan sudah dilaksanakan sejak 2019.

Karena itu, kata dia, struktural yang ada di SMPN 1 Turi juga ikut bertanggung jawab terhadap kegiatan kesiswaan yang dilaksanakan di dalam maupun luar lingkungan sekolah.

”Kegiatan itu dijalankan dengan sepengetahuan atasan. Tanggung jawab semestinya dilihat secara utuh dan berjenjang ke atas. Tidak hanya bicara bahwa ini adalah kegiatan Pramuka,” ujarnya.

Oktryan meminta semua pihak mengedepankan azas praduga tidak bersalah. Dia pun membantah tudingan bahwa kliennya melarikan diri dan tidak bertanggung jawab.

Saat kejadian, IYA datang ke TKP dan ikut membantu menyelamatkan para siswa. Namun, pihak kuasa hukum tidak memungkiri bahwa IYA sempat meninggalkan lokasi saat kegiatan susur sungai berlangsung.

IYA diketahui berstatus sebagai guru PNS di SMPN 1 Turi untuk mata pelajaran olahraga. Warga Caturharjo Sleman itu mengajar sejak 2015 dan setahun kemudian mengantongi sertifikat kemahiran dasar. Sementara itu, pihak keluarga IYA(37) menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat.

Perwakilan pihak tersangka justru meminta agar pendampingan psikologi terhadap keluarga korban yang meninggal maupun selamat dan mengalami trauma, diutamakan.

”Kami minta agar diutamakan (pendampingan) bagi keluarga yang kena musibah,” kata kakak sepupu IYA, Agus Sukamta (58), Rabu (26/2). Kondisi istri dan anak IYA sendiri diakui sangat terguncang.

Sementara waktu, mereka tinggal di rumah salah satu saudara sembari menenangkan diri. Untuk menjaga kondisi psikologis, mereka tidak diizinkan memegang ponsel.

Kedua anak IYA saat ini duduk di bangku kelas 5 dan 6 SD. Mereka sempat beberapa hari tidak masuk sekolah namun sejak Rabu (26/2) sudah kembali berangkat.

Selama berada di sekolah, mereka ditunggu oleh anggota keluarga. Untuk memulihkan kondisi psikis keluarga tersangka, ada bantuan pendampingan psikolog dari universitas.

”Pihak kami juga mengupayakan langkah (pendampingan) secara mandiri dengan meminta bantuan dari rekan. Istri IYA sekarang didampingi kakaknya dari Kalimantan,” kata Agus. Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan permohonan maaf dan bela sungkawa kepada keluarga korban.

Pihak keluarga sebelumnya juga telah mengungkapkan permintaan maaf secara langsung dengan mendatangi kediaman keluarga korban. Pada sisa lain, Agus meminta kepada pihak yang melakukan perundungan bisa melihat persoalan ini secara representatif.

Disinggung kemungkinan melaporkan akun yang melakukan perundungan, Agus berujar bahwa itu adalah kewenangan dari tim kuasa hukum. Namun pihak keluarga sendiri tidak ada rencana ke arah itu. (J1-56)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *