Pollycarpus, Pahlawan atau Pecundang?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

GAJAH mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Pollycarpus mati? Meninggalkan pertanyaan: pahlawan atau pecundang?

Pria bernama lengkap Pollycarpus Budihari Prijanto ini dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, Sabtu (17/10), karena Covid-19 dalam usia 59 tahun.

Polly adalah mantan pilot senior maskapai Garuda Indonesia yang divonis 14 tahun penjara setelah dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus meninggalnya aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib pada 7 September 2004.

Setelah menjalani masa tahanan selama 8 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 26 Januari 1961 ini dinyatakan bebas bersyarat sejak 28 November 2014. Polly akhirnya dinyatakan bebas murni pada 29 Agustus 2018.

Pollycarpus, sesungguhnya pahlawan atau pecundang?

Bagi keluarga mendiang Munir, dan juga para aktivis HAM, serta mungkin juga “common sense” (perasaan umum), Polly tak lebih dari seorang pecundang. Polly adalah seorang pembunuh yang kemudian ditangkap dan akhirnya tak berdaya ketika dijebloskan ke penjara.

Sebagai seorang pecundang, menurut Suciwati istri mendiang Munir, Polly tak layak mendapatkan remisi atau pengurangan hukuman apa pun, apalagi pembebasan bersyarat yang menyebabkan Polly hanya mendekam di bui selama 8 tahun dari 14 tahun yang seharusnya ia jalani. Polly adalah “common enemy” (musuh bersama).

Sebaliknya bagi keluarganya, dan mungkin juga bagi negara, Polly adalah seorang “pahlawan”. Munir yang kerap bikin “ulah” dan merepotkan pemerintah Indonesia baik di ranah domestik maupun fora internasional, patut untuk “dibungkam” selamanya.

Ya, bagi negara, Pollycarpus mungkin adalah seorang “pahlawan”, meskipun dalam tanda kutip. Ini bila sinyalemen Suciwati benar bahwa ada dugaan keterlibatan negara dalam kasus kematian Munir.

Dalam catatan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), di mana Munir pernah menjadi koordinatornya, Munir Said Thalib adalah seorang pembela HAM yang memainkan peran penting dalam membongkar keterlibatan aparat keamanan dalam pelanggaran HAM di Aceh, Papua, dan Timor Leste. Ia juga merumuskan rekomendasi kepada pemerintah untuk membawa para pejabat tinggi yang terlibat ke pengadilan. Pada September 1999, Munir ditunjuk sebagai anggota Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM (KPP-HAM) Timor Timur.

Sebagai aktivis HAM terkemuka, Munir yang kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 itu menerima banyak ancaman sebagai akibat dari kerja-kerja HAM yang dilakukannya. Pada Agustus 2003, sebuah bom meledak di pekarangan rumahnya di Jakarta.

Pada 2002, kantor KontraS tempat Munir bekerja, diserang oleh segerombolan orang tak dikenal, yang menghancurkan perlengkapan kantor dan secara paksa merampas dokumen yang terkait dengan penyelidikan pelanggaran HAM yang tengah dilakukan oleh KontraS.

Munir ditemukan meninggal dunia di dalam pesawat Garuda Indonesia saat penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda, 7 September 2004, dalam usia 39 tahun. Otopsi yang dilakukan pihak otoritas Belanda menunjukkan ia meninggal karena diracun arsenik.

Dari catatan KontraS ini dapat ditafsirkan bahwa Munir adalah “musuh” negara, sehingga bagi kalangan tertentu, yakni yang selama ini mengancam Munir, Polly adalah seorang “pahlawan”.

Simak pula klaim Pollycarpus usai keluar dari LP Sukamiskin karena pembebasan bersyarat tahun 2014. Polly membantah dirinya membunuh Munir. Polly membantah memasukkan racun arsenik ke minuman/makanan Munir.

Waktu itu, kata Polly beralibi, tuduhannya, masuknya racun arsenik ke tubuh Munir dengan orange juice, tapi vonisnya dengan mie goreng, sedangkan mie goreng enggak ada dalam surat dakwaan. Polly juga membantah dirinya agen Badan Intelijen Negara (BIN).

Pengakuan “pahlawan” bagi Polly juga tersirat dari diamnya Presiden Joko Widodo terhadap desakan agar aktor intelektual kasus pembunuhan Munir ditangkap. Polly hanyalah seorang aktor lapangan.

Negara juga tak kunjung menetapkan pembunuhan Munir sebagai kasus pelanggaran HAM berat, sehingga bisa diproses dengan Undang-Undang (UU) No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

Tidak itu saja, berkas penyelidikan dari Tim Pencari Fakta (TPF) Munir, yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No 111 Tahun 2004, juga diketahui hilang tahun 2016. Padahal, menurut Johan Budi, Juru Bicara Kepresidenan saat itu, berkas tersebut telah diserahkan Menteri Sekretaris Negara saat itu, Sudi Silalahi, kepada Sekretariat Negara.

Tahun 2017, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta menganulir keputusan Komisi Keterbukaan Informasi yang mewajibkan pemerintah membuka dokumen hasil penyelidikan TPF Munir. Pada tahun yang sama, Mahkamah Agung (MA) memperkuat putusan itu dengan menolak kasasi yang diajukan KontraS.

Sekalian hal tersebut mengindikasikan bahwa Pollycarpus adalah seorang “pahlawan” bagi negara. Bila negara menghendaki asumsi Polly sebagai “pahlawan” berhenti, maka aktor intelektual pembunuhan Munir harus ditemukan.

Memang, pahlawan atau pecundang batasnya sangat tipis, bahkan setipis kulit ari. Nisbi. Relatif. Tergantung sudut pandang.

Bagi rakyat Aceh, Papua dan Timor Leste serta para pegiat HAM, dan mungkin juga bagi “common sense”, Munir adalah seorang pahlawan. Tapi bagi pihak-pihak yang merasa direpotkan oleh Munir, dan kemudian mengancamnya sesuai catatan KontraS di atas, Munir adalah seorang pecundang.

Begitu pun Pollycarpus. Bagi keluarga dan pihak-pihak yang pernah mengancam Munir itu, dan mungkin juga bagi negara, Polly adalah seorang “pahlawan”. Sebaliknya bagi keluarga mendiang Munir, para aktivis HAM, dan mungkin “common sense”, Polly adalah seorang pecundang.

Benarkah Pollycarpus seorang pecundang, atau justru seorang “pahlawan”? Polly sudah tak bisa bersuara lagi karena telah meninggal. Begitu pun Munir. Kini, semua tergantung negara, dan personifikasi tertinggi sebuah negara adalah Presiden. Apa kabar, Pak Jokowi?

Karyudi Sutajah Putra, pegiat media, tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort