Pola Asuh Anak Disarankan Diubah

— Kecanduan Gadget, Delapan Anak Masuk RSJ

SEMARANG – Tingkat kecanduan anak terhadap gadget (gawai) mulai mengkhawatirkan. Delapan anak kebanyakan dari pantura, harus menjalani rawat inap dan terapi di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo Semarang.
Psikolog Klinis RSJD Amino Gondohutomo, Sri Mulyani mengatakan, mereka merupakan anak yang kecanduan gawai dengan tingkat cukup parah. Jumlah itu belum bisa menggambarkan tingkat anak yang kecanduan gawai secara riil. Lantaran masih banyak orang tua yang belum menyadari jika anaknya kecanduan dan mungkin sudah ada, tapi memilih ditangani sendiri.
”Mereka marah ketika gawai diambil. Mereka sudah tidak bisa diajak komunikasi jika sudah sibuk dengan gawai. Mau tidak mau harus dengan obat untuk menenangkan,” kata Sri Mulyani pada FGD yang diselenggarakan Forum Wartawan Pemprov DPRD Jateng dengan tema ”Merumuskan Panduan Ber-smartphone yang Sehat bagi Anak-anak” di lantai IV Dinas Kominfo Jateng, Kamis (31/10).
Konsultasi
Selain Sri Mulyani, lima narasumber lainnya adalah Kadinkes Kota Semarang Abdul Hakam, Pakar IT Solichul Huda, jurnalis senior Teguh Hadi Prayitno, praktisi Homeschooling, Hanung Soekendro, pemerhati anak, Krisna Phiyastika.
Sri Mulyani mengatakan, usia anak yang kecanduan gawai tersebut mulai dari anak SD kelas IV sampai SMP. Delapan anak tersebut harus rawat inap dan menjalani terapi selama 21 hari, karena kondisi kejiwaannya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam mengatakan, kecanduan gawai atau game akan memicu hormon dopamin di otak. Karena itu, terjadi ganguan pemusatan perhatian.
“Ketika berlebih akan mengganggu kejiwaan dan ketika kurang bisa menimbulkan parkinson,” katanya.
Orang tua diminta tidak ragu berkonsultasi jika melihat tanda-tanda tidak wajar pada anak yang terlalu asyik dengan gawainya. Beberapa tanda yang mulai diperhatikan, antara lain anak akan marah ketika diminta berhenti bermain gawai, lebih memilih tidak mengerjakan tugas sekolah, bahkan memilih membolos sekolah.
Praktisi homeschooling, Hanung Soekendro mengatakan, di era sekarang gawai tidak akan bisa dipisahkan dari hampir semua orang, termasuk anak-anak. Namun, yang bisa dilakukan akan memberikan pemahaman penggunaan gawai pada anak agar tidak terlalu sering. Jika memang diperlukan, maka bisa dibuat aturan penggunaannya.
“Kita harus mengubah stigma bahwa gawai itu sesuatu yang menakutkan, tapi merupakan teman bermain anak-anak. Cuma bagaimana kita menyikapinya,” ujarnya.
Agar anak tak terlalu sering bermain gawai, maka konsekuensinya orang tua memberikan aktivitas permainan lain yang disukai anak. “Karena gawai menjadi permainan anak-anak, kalau dilarang maka orang tua wajib memberikan ganti dengan aktivitas lain yang juga disukai anak-anak,” ungkap Hanung. (H81-27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *