Pikukuh Sapuluh, Konservasi Alam ala Warga Kanekes Suku Baduy

BANTEN – Suku Baduy selalu menarik untuk diteliti. Tim (Kreativitas Mahasiswa Penelitian Sosial humaniora) PKM PSH dari Unnes yang beranggotakan 3 orang, diketuai oleh Mega Halmahera, dengan anggota Anggi Septia Purnama, dan Fuad hasyim serta Dosen Pembimbing Andi Irwan Benardi SPd MPd, juga melakukan penelitian di ujung barat Pulau Jawa ini.

Tim PKM mengulik kebudayaan Suku Baduy yang masih kental dengan tradisi-tradisi yang memegang teguh aturan-aturan adat. Suku Baduy adalah kelompok etnis yang hidup berdampingan dengan alam, terletak di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa Kanekes terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Leuwidamar yaitu sekitar 17 kilometer. Secara geografis suku Baduy terletak pada koordinat 6027’27”- 6030’0” LS dan 10803’9”- 10604’55” BT.

Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes terbagi menjadi dua, yaitu Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Suku Baduy Dalam bertempat tinggal di tiga Kampung, yakni Kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Sedangkan Suku Badui Luar bermukim di beberapa kampung yang mengitari ketiga kampung Suku Badui Dalam.

Dalam segi pakaian, Baduy Dalam mengenakan baju berwarna putih yang disebut “zamang kurung” dengan ikat kepala berwarna putih. Sedangkan Suku Baduy Luar mengenakan ”jamang kampret” berwarna hitam dengan ikat kepala berwarna biru motif batik. Masyarakat Baduy memegang teguh nilai-nilai leluhur yang mencintai alam dan menjaga baik hubungan sosial.

“Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak,” ucap Jaro Saija, Kepala Desa Kanekes.

Kalimat tersebut yang berarti gunung tidak boleh dirusak atau dihancurkan dan lebak atau lembah tidak boleh dirusak. Selain prinsip, masyarakat Baduy juga mematuhi aturan adat yang berlaku, yaitu pikukuh sapuluh dan pikukuh karuhun. Pikukuh sapuluh merupakan aturan yang mengatur kehidupan sosial masyarakat Baduy, sedangkan pikukuh karuhun aturan tentang pelestarian dan menjaga alam.

Pikukuh sapuluh berisikan, tidak membunuh (moal megatkeun nyawa nu lian), tidak mencuri (moal mibanda pangaboga nu lian), tidak ingkar dan tidak bohong (moal linyok moal bohong), tidak minum-minuman yang memabukkan (moal mirucaan kana inuman nu matak mabok), tidak poligami (moal midua ati ka nu sejen), tidak makan pada tengah malam (moal barang dahar dina waktu nu ka kungkung peting), tidak memakai bunga-bungaan dan wewangian (moal make kekembangan jeung seuseungitan), tidak melelapkan diri dalam tidur (moal ngageunah-geunah geusan sare), tidak menyenangkan hati dengan tarian, musik, atau nyanyian (moal nyukakeun ati ka nu igel, gamelan, kawih atawa tembang) dan tidak memakai emas atau permata (moal made emas atawa salaka).(B15-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *