Peternak Ayam Diprediksi Bakal Berkurang

SOLO – Peternak ayam ras, baik daging maupun petelur, terancam dan bakal banyak berkurang. Mereka menghadapi persoalan terkait lahan dan penolakan dari masyarakat sekitar lokasi peternakan. Demikian pula dengan proses produksi menyangkut pakan, bibit, dan persoalan lainnya, juga jadi masalah.
Hal itu mengemuka dalam rapat koordinasi dan halalbihalal Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Subosukawonosraten di kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Rabu (19/6).
Sejumlah pihak berharap persoalan itu bisa diselesaikan dengan baik. Sebab, harga telur dan daging ayam ras yang cukup tinggi akan sangat berpengaruh terhadap inflasi. Seperti pada Ramadan dan Lebaran, saat harga dua komoditas itu cukup tinggi.
Asisten Ekonomi Pembangunan Sekda Boyolali Widodo Munir mengatakan, belakangan ini banyak masyarakat atau kelompok masyarakat menolak peternakan ayam akibat polusi yang ditimbulkan, terutama polusi udara, meski jarak lokasi peternakan dan permukiman cukup jauh.
Menurut dia, mungkin peternak bisa membeli lahan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau RT/RW. Tapi, kalau sudah ada penolakan dari masyarakat, persoalannya menjadi repot.
Kalau peternakan besar, kata dia, mungkin bisa membeli alat pengolah limbah yang harganya mahal. Tapi, kalau peternak skala kecil atau menengah, kelihatannya sulit. Kalau tidak dicarikan solusi, dampaknya semakin meluas. Tidak hanya persoalan penolakan masyarakat, tapi juga pertumbuhan ekonomi daerah.
“Saya kira persoalannya tidak hanya di Boyolali, di daerah lain juga sama,” kata Widodo Munir ketika menyampaikan pendapat dalam rapat koordinasi.
Olah Limbah
Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pertanian Sukoharjo Netty Harjianti. “Tapi, di Sukoharjo tidak sampai ada gejolak. Untuk peternak skala besar, sudah sadar untuk mengolah limbah, bahkan untuk kebutuhan pembuatan pupuk kandang. Untuk peternak skala kecil dan menengah, ada pendampingan dari dinas,” kata dia.
Ketika diminta tanggapan, Analis Senior Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah Purwanto mengatakan, untuk menyelesaikan kasus peternakan ayam yang ditolak masyarakat, para peternak, masyarakat, dan pemda perlu duduk satu meja untuk mencari solusi.
“Saya kira perlu dibangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Purwanto mengakui, telur dan daging ayam ras memberi kontribusi cukup besar terhadap inflasi, selain komoditas lain seperti beras, bawang merah, dan bawang putih. Terutama saat Ramadan dan Lebaran, kebutuhan telur dan daging ayam meningkat.
Terkait pakan ternak, sebelumnya Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) Yudianto Yosgiarso mengatakan, ada ketidakseimbangan dalam menentukan harga telur atau daging ayam dengan pakan ayam dan jagung serta instrumen lainnya yang dilakukan pemerintah. Pemerintah menetapkan harga pokok produksi (HPP) telur dan daging ayam, tetapi tidak diimbangi harga pakan dan atau harga jagung yang normal.
Ia mencontohkan, kalau harga pakan normal, harga jagung tinggi dengan alasan stok terbatas. Ketika harga jagung normal, gantian harga pakan tidak mau turun. Bahkan, harga jagung dan pakan juga sama-sama tinggi. Demikian pula untuk harga bibit ayam maupun biaya transportasi, juga sangat berpengaruh.
“Ketika harga telur ayam di pasaran tinggi, kami diminta operasi pasar. Tapi, ketika harga telur anjlok, pemerintah seolah tidak mau tahu. Kami selalu dalam posisi sulit dan tidak ada pilihan,” kata dia. (G8-27)