Perkembangan Radikalisme di Kampus Harus Dilawan


JAKARTA– Penanggung Jawab Aliansi Relawan Jokowi (ARJ), Haidar Alwi mengatakan, perkembangan radikalisme di kampus-kampus sudah sangat parah. Hal itu juga diperkuat dengan kajian BIN dan BNPT, bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia mendukung radikalisme. 

“Bahkan, Setara Institute mengabarkan, ada 10 kampus negeri yang sudah terpapar radikalisme. Lebih parahnya lagi, sasaran utama mereka adalah kampus-kampus negeri yang punya nama besar dan sering kali menjadi idola anak-anak kita untuk berkuliah di sana. Mulai dari UI, ITB sampai ke Unair,” kata Haidar Alwi melalui siaran pers, Senin (7/10).

Dia mengatakan, radikalisme di kampus-kampus bukan lahir dengan tiba-tiba, mereka sudah masuk sejak tahun 1981 melalui kampus negeri yang ada di Bogor. Dan di sana, kelompok itu terlebih dahulu menguasai masjid dan membuat pengajian eksklusif. Proses pengkaderan pun berjalan dengan menempatkan kader-kader mereka di posisi strategis. Mulai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi kemahasiswaan terutama bidang rohani, para Dosen sampai Rektor mereka kuasai.

“Dari sini, mereka mulai menyebarkan kadernya ke banyak Perguruan Tinggi sampai ke pemerintahan, di BUMN dan kementerian. Mereka menguasai beasiswa untuk anak-anak pintar dan mulai melakukan pengaderan melalui kegiatan rohani Islam di sekolah menengah. Mereka memberi fasilitas kepada siswa pintar dari daerah mulai dari kos gratis, sampai dikawin-kawinkan dengan kader wanita mereka,” ujarnya.

Jadi, menurut Haidar Alwi ketika melihat demo mahasiswa di Ibu Kota, dirinya sudah menduga kelompok radikal ini mulai mengaktifkan sel-sel mereka di perguruan tinggi untuk membuat kerusuhan termasuk membangun propaganda aksi yang mirip tahun 1998. Menurut dia, mereka sukses menggerakkan massa karena sudah menguasai BEM di banyak Perguruan Tinggi. Mahasiswa lain yang tidak terpapar hanya ikut-ikutan demo tanpa tahu ada persoalan apa.

“Meskipun perwakilan mahasiswa membantah hal ini, tak dapat dipungkiri dan tak terbantahkan bahwa mereka telah ditunggangi. Apalagi, tiga tokoh utama penggerak demo mahasiswa beberapa waktu yang lalu merupakan alumni jama’ah pengajian yang ada di Bogor,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan, kini pilihan ada di tangan warga masyarakat. Apakah akan berjuang mempertahankan NKRI dan Pancasila, atau malah tunduk tak berdaya di bawah panji radikal dan khilafah. Menurut Haidar, kesempatan hanya ada di lima tahun yang sangat menentukan ini, saat Jokowi masih memerintah dan sedang berjuang melawan mereka.

“Kita harus ada di sampingnya, mengawalnya sampai masa jabatannya berakhir. Dia adalah Panglima Perang terbaik yang pernah ada,” tandasnya. (ami/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *