Perhimpunan Alumni Indonesia dari Jepang (PERSADA)


Jakarta,

Perhimpunan Alumni Indonesia dari Jepang (PERSADA) memperoleh penghargaan Japan Foundation Awards 2019 atas dedikasi yang tinggi organisasi ini dalam meningkatkan kerjasama dan pertukaran seni budaya, serta rasa saling pengertian antara masyarakat Jepang dan Indonesia. Penghargaan diterima langsung Ketua Umum PERSADA Rachmat Gobel dalam acara yang diselenggarakan Japan Foundation di Tokyo, Kamis malam (7 /11) waktu setempat.

“Kami bersyukur dan sangat menghargai apresiasi Japan Foundation yang telah memberikan penghargaan ini, atas dedikasi dan peran serta segenap alumni dari Jepang yang tergabung dalam PERSADA, dalam mendorong kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Jepang, melalui berbagai program pertukaran seni budaya,  kerjasama pendidikan dan pelatihan,” kata Rachmat Gobel yang juga adalah Wakil Ketua DPR-RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (2019-2024), usai menerima penghargaan (Kamis 7/11), di Tokyo. Sebelumnya, Rachmat beserta rombongan mendapat kesempatan menjadi tamu kehormatan Pangeran Putra Mahkota Akishinomiya dan Putri Kiko, di Istana Akasaka. 

Japan Foundation Awards adalah penghargaan bergengsi karena diberikan oleh satu-satunya lembaga nir-laba yang didirikan pemerintah Jepang. Japan Foundation didirikan pada 1972, yang didedikasikan khusus untuk mengenalkan budaya Jepang ke dunia internasional, dan menjadi lembaga administratif independen di bawah naungan Departemen Luar Negeri Jepang. 

Setiap tahun, sejak 1973  lembaga ini memberikan penghargaan Japan Foundation Awards kepada berbagai pihak, baik individu maupun kelompok masyarakat, yang dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat dan memperdalam rasa saling pengertian dan pemahaman di antara masyarakat Jepang dan berbagai negara. 

Pada 2019 ini, dari 73 individu dan lembaga yang masuk dalam nominasi, Japan Foundation memilih 3 nominator yang dinilai berhak mendapat penghargaan ini, yaitu : PERSADA, penyair terkenal Jepang Shuntaro Tanikawa, dan sejarawan yang juga cendekiawan Polandia, Profesor Ewa Pałasz-Rutkowska.

Berdasarkan catatan Japan Foundation, orang Indonesia belajar di Jepang sejak 1930-an, dan jumlahnya melonjak sejak Indonesia merdeka. PERSADA didirikan pada 5 Juli 1963 oleh para senior alumni Jepang, dan menjadi komunitas berkumpul bagi orang Indonesia yang pernah belajar atau dilatih di Jepang. Berdasarkan data saat ini PERSADA memiliki keanggotaan lebih dari 12.000 mantan siswa dan peserta pelatihan dari negara Matahari Terbit ini, baik dengan biaya sendiri, maupun mendapat bea siswa dana swasta, pemerintah Indonesia atau Jepang.   Mereka terlibat dalam berbagai bidang kegiatan mulai dari sektor perdagangan, industri, layanan medis, pendidikan dan politik, sebagaimana tujuan dari lembaga ini yaitu memberikan kontribusi kepada negara di bidang pendidikan, kesejahteraan sosial, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Bekerjasama dengan Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ), pada 1986 PERSADA mendirikan Universitas Darma Persada. Pendirian Universitas Darma Persada ini adalah wujud kontribusi PERSADA kepada rakyat Indonesia di bidang pengembangan SDM melalui jalur pendidikan formal. Kehadiran lembaga pendidikan tinggi ini, sekaligus menjadi simbol persahabatan antara kedua negara. 

Melalui Universitas Darma Persada, PERSADA mewujudkan misinya membangun SDM unggul di era globalisasi dan disrupsi. Para lulusan universitas ini diharapkan bisa menjadi duta perubahan global dalam mendorong peningkatan nilai tambah di berbagai bidang, terutama di bidang teknologi, ilmu pengetahuan dan budaya.

Untuk mencapai harapan itu, Universitas Darma Persada menerapkan program tiga bahasa (trilingual) yaitu  Indonesia, Inggris, dan Jepang, serta pendidikan tentang filosofi dan semangat Monozukuri, semangat kreatif ala Jepang dalam menghasilkan produk yang berdaya saing kuat. 

Monozukuri merupakan kata Jepang yang berasal dari kata “mono” berarti produk atau barang, dan “zukuri” berarti proses pembuatan, penciptaan atau produksi. Dalam pelaksanaanya, konsep ini memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada arti harfiahnya, dimana terdapat semangat kreatif dalam menghasilkan produk unggul serta kemampuan untuk terus menerus menyempurnakan proses. Pengajaran filosofi Monozukuri ini akan membantu mahasiswa untuk lebih percaya diri beradaptasi, dan diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu melakukan improvisasi secara berkesinambungan (continues improvent) dalam dinamika global yang semakin ketat dan kompetitif.

“Pengajaran monozukuri merupakan salah satu ciri khas Universitas Darma Persada. Pemahaman atas filosofi ini telah banyak membantu para alumni berkiprah di dunia industri karena mengajarkan semangat kreatif dalam menghasilkan produk unggul dan penyempurnaan proses produksi secara terus menerus. Semangat monozukuri ini pulalah yang  telah berhasil membawa Jepang sebagai negara industri maju,” kata Rachmat.

Sejak awal berdiri, Universitas Darma Persada telah menggalang kerjasama dengan  The Japan Foundation dan berbagai organisasi pemerintah Jepang maupun swasta dalam berbagai bentuk kegiatan yang menunjang kompetensi lulusannya. Kegiatan tersebut antara lain penyelenggaraan berbagai seminar internasional, ujian kemampuan bahasa Jepang, pameran pendidikan Jepang, dan berbagai kegiatan lainnya, termasuk dengan The Jakarta Japan Club Foundation untuk penyelenggaraan seminar Monozukuri.

Kiprah PERSADA melalui Universitas Darma Persada telah mendapat perhatian dari para petinggi Jepang, seperti Kaisar Akihito dan Pangeran Putra Mahkota Akishinomiya, serta mantan Perdana Menteri Takeo Fukuda dan Yasuo Fukuda. 

“Dalam lawatan ke Indonesia, Kaisar dan Pangeran, serta para mantan Perdana Menteri Jepang, khusus mengagendakan kunjungan ke  Universitas Darma Persada beberapa waktu lalu. Bahkan pada 2015, mantan Perdana Menteri Yasuo Fukuda melalui Asosiasi Jepang-Indonesia (JAPINDA) telah mendeklarasikan dukungannya, dengan menyatakan diri sebagai “Friend of Darma Persada”. Sebagai tindak lanjut, pada Oktober 2016 didirikan sebuah konsorsium yang beranggotakan 11 universitas Jepang untuk mendukung pengembangan Universitas Darma Persada. Perhatian dan kerjasama sama selama ini semakin meyakinkan kami, bahwa hubungan Indonesia-Jepang bukanlah didasarkan pocket to pocket semata, tapi hubungan dari hati ke hati,” kata Rachmat.

Di masa depan, dengan fondasi 60 tahun hubungan diplomasi Indonesia-Jepang, Universitas Darma Persada diharapkan semakin kokoh menjadi monumen hidup persahabatan Indonesia-Jepang di bidang budaya dan pendidikan.  Hal itu sangat mungkin dilakukan, karena sejak beberapa dekade Japan Foundation dan PERSADA telah menjalin kerja sama yang erat untuk memainkan peran penting dalam hubungan Jepang-Indonesia.  

PERSADA juga berperan aktif menggalangkan kerjasama dengan alumni dari Jepang di berbagai negara ASEAN. Pada 1977, PERSADA bersama organisasi alumni dari Jepang di Malaysia, Thailand, Singapura dan Filipina membentuk Asosiasi Alumni Jepang dari ASEAN (ASCOJA),  dan mendapat dukungan penuh dari PM Takeo Fukuda. Keanggotaan ASCOJA terus bertambah seiring masuknya Brunei, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar dalam organisasi ASEAN.(bn/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *