Perempuan UMKM Dilatih Pengembangan Usaha

SEMARANG – Perempuan yang menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu mendapat pendampingan intensif agar mendapatkan hasil maksimal. Persaingan usaha dan cara pemasaran yang semakin kompetitif membuat kreativitas perempuan mesti ditingkatkan.

”Berdasar observasi, dalam mengembangkan usaha, perempuan mengalami sejumlah kendala dalam mengembangkan bisnis, seperti permodalan, pengelolaan keuangan, sistem administrasi, teknologi pemasaran,” kata dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes), Ermi Dyah Kurnia, ketika memberi pelatihan yang diselenggarakan Unnes kepada kelompok perempuan di Kelurahan Ngijo, Gunungpati, Kota Semarang, belum lama ini.

Untuk itu, pelatihan dan pendampingan yang intensif perlu dilakukan untuk meningkatkan usaha perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Bersama dosen Fakultas Ekonomi Unnes, Kardiyem, Ermi melakukan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Usaha Kelompok Perempuan di Kelurahan Ngijo.

Menurut Ermi, usaha kelompok perempuan di kelurahan tersebut bergerak di bidang perekonomian, yang meliputi usaha fashion, kuliner, sembako, dan tempat pengasuhan anak. Pendampingan dan pemberian materi seputar kriteria UMKM dan golongan UMKM berdasarkan aset dan omzet. Setelah itu, materi lain yang diberikan mengenai kesalahan-kesalahan yang sering terjadi pada UMKM terkait perhitungan harga pokok produksi.

Berdasar temuan Ermi, tidak terdapat pemisahan antara kekayaan pribadi pemilik dan usaha. ”Dalam hal ini, prinsip business entity belum dipatuhi oleh pelaku UMKM,” kata dia. Pelatihan dilanjutkan dengan pemberian cara menyiasati hal tersebut.

Mereka juga diberi penjelasan mengenai konsep dasar persamaan dasar akuntansi, gambaran laporan keuangan UMKM, dan cara menyusunnya. Para perempuan pelau usaha lalu melakukan praktik pembukuan sederhana dengan kasus perusahaan yang bergerak dalam produksi roti untuk menentukan harga pokok produksi dan mencatat transaksi yang terjadi dalam perusahaan.

”Transaksi itu dicatatkan ke dalam klasifikasi buku kas, piutang, utang, penjualan, dan biaya produksi,” ujar Kardiyem. Adapun dalam pendampingan pembuatan media permainan edukatif bagi anggota usaha kelompok perempuan di Ngijo yang memiliki usaha pengasuhan anak, tim pengabdi melatihkan cara pembuatan media permainan edukatif sederhana.

Media permainan itu dapat dibuat dan dikembangkan oleh peserta denngan memanfaatkan kain flanel, dakron, kardus, dan kertas karton. ”Pemilihan bahan yang mudah didapat memungkinkan mereka mengurangi biaya pembelian mainan anak yang harus disediakan di tempat pengasuhan anak.

Permainan edukatif yang dilatihkan misalnya membuat boneka jari, boneka tangan, wayang boneka, dan kolase boneka sebagai media untuk mendongeng,” ujar Ermi. Agar kegiatan ini berkelanjutan, tim pengabdi memonitor perkembangan dalam mengaplikasikan materi pelatihan dalam usaha mereka. Pada pelatihan selanjutnya, peserta akan dilatih memproduksi jilbab.

Di samping itu, mereka juga dilatih membuat web dan media sosial untuk mempermudah akses penjualan. ”Dengan berinovasi di bidang teknologi pemasaran diharapkan pendapatan usaha kelompok dapat meningkat karena akses konsumen menjadi lebih fleksibel, mudah, dan cepat,” kata Kardiyem.(G9-45)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort