Pengembangan Usaha Jamu dan Obat Tradisional Masih Porspektif

CILACAP – Para pengusaha jamu dan obat tradisional memiliki peluang yang cukup cerah dalam mengembangkan hingga ke kelas industri berskala besar.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala LOKA POM Wilayah Banyumas, Suliyanto, dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan dan Revitalisasi Obat Tradisional Aman di Era Industri 4.0. FGD digelar di Villa Jaringao Majenang, Kabupaten Cilacap, Kamis (22/8). “Peluang masih terbuka lebar,” kata Suliyanto dihadapan ratusan peserta.

Dia menyampaikan, peluang itu dengan melihat ketersediaan bahan baku hingga perhatian pemerintah yang cukup mendukung dalam hal pengembangan tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan, ada 30 ribu jenis tanaman dan 9.500 diantaranya bermanfaat. Dari 30 ribu tersebut, ada 300 jenis tanaman yang bisa dijadikan bahan obat dan jamu.

Demikian juga dengan berbagai binatang maupun tumbuhan yang ada di lautan. Salah satunya adalah rumput laut yang mencapai 555 jenis dan tersebar di penjuru Nusantara. “Jadi untuk ketersediaan bahan baku itu masih melimpah,” kata dia.

Demikian halnya dengan dukungan dari pemerintah melalui regulasi, meliputi dukungan penelitian maupun pemasaran obat tradisional dan jamu. Satu contoh yang paling kentara, yakni mendorong agar jamu bisa dikembangkan lagi agar menjadi obat tradisional yang teruji secara klinis.

Namun demikian, peluang itu masih ada beberapa tantangan, seperti minimnya obat herbal terstandar dan terdaftar di BP POM. Demikian juga dengan kurangnya penelitan bahan obat yang bisa dipakai oleh industri hilir dan tertata baik.

Karena itu, pihaknya mendorong pengusaha jamu di wilayah eks karsidenan Banyumas bisa meningkatkan kemampuan diri, terutama mengurus izin hingga bisa berkembang dari skala kecil menengah menjadi industri besar.

Ketua Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI), Mukid menuturkan, pasar di wilayah Banyumas Raya masih sangat besar. Terbukti dari penggunaan obat oles atau minyak angin yang mencapai Rp 1 juta per bulan. “Pasar dalam negeri masih sangat terbuka,” ujarnya.

Untuk itu dia mengajak agar mulai sekarang para pelaku jamu di wilayah tersebut mulai mengambil langkah nyata, seperti menyiapkan obat tradisional yang dibutuhkan masyarakat dengan harga terjangkau.

Selain itu perlu dibentuk semacam sekretariat bersama diantara kalangan pelaku jamu alami. “Biar bisa dijadikan sarana memasarkan bersama-sama,” tuturnya.

Selain itu, dalam FGD juga disepakati mengenai pentingnya acara serupa untuk dilanjutkan. Termasuk melibatkan seluruh pihak terkait, mulai dari dinas kesehatan, lembaga pendidikan hingga kalangan apoteker.

FGD juga dirangkai dengan sejumlah lomba pada Jumat (23/8), dalam rangka memeriahkan HUT RI. Lomba yang diselenggarakan yaitu tarik tambang, memanah.(tg-60)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *