Penanaman Mangrove Perlu Dioptimalkan

-Luas Wilayah Abrasi Bertambah

SEMARANG – Luas wilayah abrasi di Kota Semarang mengalami peningkatan sejak sepuluh tahun terakhir. Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang menunjukkan luas abrasi di kota ini mencapai 1.406 hektare. Luasan itu meningkat dibanding 2014 (1.281 hektare).

Pada 2010, luas abrasi hanya 591 hektare dan dua tahun sebelumnya atau pada 2018 seluas 601 hektare. Fenomena itu salah satunya dipengaruhi oleh minimnya perkembangan tanaman mangrove untuk melindungi garis pantai.

Panjang pantai Kota Semarang diketahui 36,6 kilometer. Mencakup empat kecamatan di wilayah pesisir, yakni Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara dan Kecamatan Genuk.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono menilai, untuk menanggulangi abrasi air laut, Semarang perlu memiliki sabuk pantai berupa lahan konservasi di sepanjang pantai. Pemerintah diminta mengoptimalkan penanaman mangrove mulai Kecamatan Tugu hingga Genuk.

“Pemerintah berhak mengelola 100 meter dari garis pantai. Tanaman mangrove semestinya diprogramkan secara menyeluruh,” imbuhnya.

Dia mengapresiasi keberadaan hutan mangrove di wilayah Mangunharjo, karena dikelola secara mandiri oleh warga dan bekerja sama dengan pihak swasta.

“Harus ada perencanaan secara menyeluruh. Selain menanam mangrove, ke depan ada program tanggul pantai. Kalau itu bisa terealisasi tidak hanya mencegah abrasi, tetapi juga banjir dan rob,” imbuhnya.

Kerusakan Hutan

Kurnia Damaywanti dari Universitas Diponegoro, dalam kajian akademisnya tentang abrasi menerangkan sejumlah penyebab terjadinya abrasi. Umumnya penyebab pertama yaitu penurunan permukaan tanah.

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) DLH Kota Semarang memperlihatkan, permukaan tanah mengalami penurunan hingga 11 sentimeter tiap tahun.

Jika diklasifikasikan berdasarkan luasan, 7.496 hektare mengalami penurunan sampai 3 sentimeter. Kemudian 8.158 hektare turun 3-9 sentimeter serta selebihnya 2.745 hektare turun 9-11 sentimeter.
Penyebab abrasi berikutnya kerusakan hutan mangrove. Padahal hutan mangrove mampu sebagai pembentuk ekosistem utama di wilayah pesisir.

“Tanaman mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami pantai, karena mempunyai akar yang kokoh, sehingga dapat menahan gelombang,” papar dia.

Selain itu, abrasi juga tidak lepas dari kerusakan alam akibat aktivitas manusia seperti penambangan pasir, pembuatan bangunan yang menjorok ke laut hingga pembukaan tambak yang tidak memperhitungkan kondisi.
Berdasarkan catatan DLH, ekosistem mangrove di wilayah pesisir cukup memprihatinkan. Kondisi itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya perubahan tata guna alih fungsi lahan menjadi areal tambak, perumahan serta industri. (Eko Fataip, Erry Budi Prasetyo-48,58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *