Pemkot Semarang Bisa Contoh Italia untuk Gerakan Zero Waste

SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bisa mencontoh Italia untuk memulai gerakan zero waste sebagai solusi sampah plastik. Terlebih belum lama ini Pemkot mencanangkan gerakan “Semarang Wegah Nyampah”.

Hal ini disampaikan ahli toksikologi yang menetap di Amerika Serikat, Dr. Paull Connett Ph.D. Paparan dikatakan dalam diskusi publik bersama aktivis lingkungan, akademisi Unoversitas Katolik (Unika) Soegijapranata, dan kalangan pemerintah di Warung Penang, Semarang belum lama ini.

“Pada 2017, 40 dari 108 provinsi di Italia sudah memilah sampahnya. Bagaimana cara memulainya? Sepuluh tahun lalu mereka menolak pembakaran sampah, tapi memilih pada daur ulang. Ya, ya, dan ya, ini yang mereka katakan,” kata Paul yang pernah memaparkan dua presentasi mengenai gerakan Zero Waste kepada Komisi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan pada 2010 lalu itu.

Kata Paul, masyarakat Italia memilih tidak menggunakan calon sampah-sampah plastik. Mereka memilih menggunakan sesuatu yang bisa didaur ulang. Menghilangkan hal-hal yang tidak perlu.

Mereka sadar bahwa solusi pembakaran sampah yang ditawarkan negara-negara maju tetaplah bukan solusi. Teknologi yang baik menguras biaya yang mahal. Biaya itu bisa saja diambil dari pajak-pajak sampah yang wajib dibayarkan masyarakat.

“Eropa bukan berarti baik dalam pengelolaan sampahnya. Mereka masih banyak masalah. Tapi negara-negara di dunia sudah memulai. Di India, plastik sekali pakai di larang, Costa Rica melarang sterofom. Di Jakarta baru baru ini.Ddan kota ini (Semarang) baru memulainya,” lanjut lulusan Universitas Cambridge ini.

Sampai Oktober 2018, Paul telah mengunjungi Italia sebanyak 80 kali. Dia berbicara mengenai limbah/sampah di lebih dari 290 komunitas yang berbeda. Pada Oktober 2017, Paul ditunjuk menjadi Dewan Internasional untuk memberikan nasihat kepada Kota Roma mengenai rencana mereka untuk bergerak ke arah Zero Waste.

Solusi Ideal

Menurut Paul, Zero Waste sebagai solusi paling ideal di abad 21 ini. Membuat teknologi canggih untuk pembakaran sampah hanyalah sia-sia. Biaya yang mahal dan racun sisa pembakaran sampah berupa partikel nano tetap bisa lepas ke udara.

“Kamu tahu bagaimana kedai-kedai minuman memproduksi banyak plastik. Restoran-restoran itu. Sebenarnya kita harus menginggalkan (pemakaian plastik sebagai calon sampah) yang tidak perlu. Kita tidak memperbanyak sampah, kita tak tidak membuatnya,” kata pengajar Ilmu Kimia di St Lawrence University Canton, NY dengan spesialisasi dalam bidang Kimia Lingkungan dan Toksikologi ( 1983-2006) itu.

Paul juga mengemukakan penemuan yang tidak menggembirakan. Pada tahun 2.000 lalu, ada penemuan partikel-partikel berukuran nano yang memiliki kandungan logam berat dari teknologi pembakaran sampah.

Partikel nano tersebut memunculkan banyak masalah kesehatan. Partikel sisa pembakaran sampah itu amat sangat kecil dilihat dari sudut pandang manusia. Karena kecilnya ukuran itu, partikel bisa masuk dalam tubuh, jaringan darah, melalui sel-sel tubuh.

“Konsekuensinya pada 18 Desember 2019 ada riset, partikel nano itu masuk lewat pernafasan. Berakibat pada pembengkakan otak, kerusakan jaringan syaraf, kanker otak, hingga gangguan mental,” bebernya.

Sebuah riset juga telah dilakukan kepada ayam yang hidup dari radius tertentu tempat pembakaran sampah. Ayam-ayam mematok apapun serangga kecil dan makanan yang ada di tanah. Hasilnya dalam tubuh ayam itu memiliki kandungan racun dari hasil pembakaran sampah yang beterbangan berukuran nano. (daz-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *