- Politik

Panglima TNI: Perbedaan dalam Pemilu Harus Dihargai


KARAWANG – Perbedaan pandangan dan pilihan dalam Pemilihan Umum Serentak 2019 harus dihargai. Sehingga persatuan dan kesatuan Indonesia bisa dibangun.
​ “Jika Bhinneka Tunggal Ika bisa kita jaga, maka Indonesia akan menjadi negara yang kuat,” kata Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Pondok Pesantren Al-Baghdadi, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
​ Berbicara saat menghadiri Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani dan doa bersama, Panglima mengingatkan kuatnya negara karena bangsa dan rakyat memiliki jiwa korsa serta memiliki persatuan dan kesatuan bangsa.
​ “Pesta demokrasi ini adalah salah satu wujud keikutsertaan masyarakat luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu karena di dalamnya terkandung semangat dan kegembiraan berdemokrasi,” ujarnya.
​ Ia menambahkan, agar Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia seperti Cina, India dan Amerika Serikat, maka sumber daya manusianya harus unggul.

Menurutnya ada empat potensi yang dimiliki dan dapat dikembangkan untuk menjadi manusia unggul. Potensi Intelegensi​ Yang pertama, kata dia, potensi intelegensi antara otak kiri dan otak kanan. Otak kiri untuk menghafal ilmu pengetahuan dan otak kanan untuk inovasi. Ini merupakan kekuatan utama potensi pikiran.​

“Kedua, potensi emosi manusia yang harus dididik dengan baik dan saling menghormati dan menghargai antar sesama anak bangsa,” imbuhnya.
​ Sedangkan yang ketiga, potensi fisik manusia Indonesia yang harus dijaga.

“Apabila potensi kemampuan intelegensi, kemampuan emosi menjadi satu dalam tubuh, maka akan memiliki motorik dan badan tubuh yang bagus. Sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berpostur bagus,” sambungnya.

Adapun yang keempat adalah potensi ritual, agar bangsa Indonesia memiliki akhlak yang mulia,” tegasnya.
​ Apabila keempatnya sudah tercapai, menurut Panglima, maka Indonesia akan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Apalagi, pondok pesantren adalah samudera ilmu.
​ “Di pesantren, santri/santriwati digembleng dan dipersiapkan untuk menjadi umat yang berkualitas. Di pesantren, para santri juga memperoleh gemblengan, memahami ajaran agama, serta menjadi ujung tombak pembinaan umat di masa mendatang,” tukasnya di depan ratusan ribu jamaah.
​ Selain itu, acara tersebut juga dihadiri oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, santri/santriwati, alim ulama, pengasuh pondok pesantren, tokoh masyarakat Karawang dan personel TNI-Polri.(Saktia Andri Susilo/67)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *