Mulyo HP: Schumi Bukan Hakkinen.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Dua tahun setelah meraih gelar Doktorandus, atau Drs yang berarti “Ia yang akan dijadikan ilmuwan (doktor)”, pada 1992 dari Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, Semarang. Saya mulai bersiborok nasib dengan Drs Mulyo Hadi Purnomo M.Hum (53).

Saat itu, mas Moel — demikian kami para mahasiswa Fak Sastra Undip memanggilnya — adalah dosen debutan. Untuk mata kuliah Estetika atau apa persisnya saya lupa.

Yang tidak mungkin kami lupakan. Sebagai debutan, ayah dua putra ini, saat itu, lebih banyak memandangi whiteboard sambil menunjuk-nunjuk tulisannya sendiri. Sembari terus menerangkan sebuah permasalahan. Yang sejatinya permasalahan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kami.

Saya tidak tahu persis dengan psikologisnya sebagai dosen debutan, muda dan baik hati itu, sehingga lebih happy memandangi whiteboard daripada kami, para mahasiswanya.

Mungkin di papan tulis itu ada citra wanita dengan segala ketenangan, daripada alihalih melihat paras para mahasiswanya. Yang sangat bisa jadi, bikin rusuh perasaannya.

Mulyo HP di Kantor KPI Pusat. (SMNews/Benny Benke)

Oh ya, hanya sedikit informasi tambahan. Jika Anda pernah bersua dengan mahasiswa Fak Sastra di era awal tahun 90-an jangan harap keparlenteannya. Mungkin untuk mahasiswinya dandanannya sahaja. Tapi untuk mahasiswanya, Anda boleh hanya mengenakan kaos oblong dan sendal jepit, sekalipun.

Rambutnya, gondrong dan celananya, jeans belel tentu saja. Ini citra yang awam terjadi saat itu. Setiap zaman, katanya, melahirkan era dan modenya sendiri. Entah bagaimana era itu mengada saat itu.

Meski dalam beberapa kesempatan,  jika bertemu dosen yang taat azas,  tentu Anda akan ditegurnya. Ya,  hanya ditegur, tidak lebih dari itu, setelah itu baikbaik saja. Seperti tidak pernah terjadi apaapa.

Tapi sejak itupula, entah bagaimana caranya, saya dan kami malah makin acap bersua, sebelum pelan dan pasti, seiring berjalannya waktu,  menjadi karib.

Kekariban itu terjadi bukan semata saya dan kami, berupaya membuka pikiran dan hati kepada pribadipribadi terbuka seperti mas Moel. Mungkin lebih tepatnya, mas Moel lah tipikal manusia yang gemar menghampiri.

Termasuk menghampiri saya dan kami, sekumpulan anak kemarin sore yang baru saja menginjakkan kaki di bangku kuliah. Fakultas sastra lagi. Markas para “pemberontak, ” dan demontran yang paling gemar mengkritisi sekaligus musuh nomor satu rezim Orba.

Mas Moel bukan tipikal manusia menunggu disapa, baru menghampiri. Apalagi mendongakkan kepala sembari berlalu sok menjaga wibawa, tipikal dosen kebanyakan. Kemudian berjalan tergesa atau dianggun-anggunkan seolah hidupnya serba tergesa, dan tampak penting karenanya. Oleh karenanya pula, seolah keilmuannya penuh di kepalanya.

Mas Moel di Ruang Kerjanya di KPI Pusat, Jakarta. (SMNews/ Benny Benke).

Tidak, mas Moel bukan tipikal seperti itu. Justru sebaliknya. Dia akan menyapa siapapun yang dikenalnya terlebih dahulu. Tanpa pandang bulu. Apalagi mahasiswi ayu. Halah.

Mas Moel yang “bagus” kata orang Jawa,  dan dandanannya rapi,  lengkap dengan Honda Mega Pro – nya adalah tipikal dosen yang melting dengan mahasiswanya. Di luar atau di dalam kelas.

Cerita tentang betapa kikuk, kaku dan reragunya dia saat kali pertama mengajar kami, akhirnya mencair dengan sendirinya. Apalagi saat di luar waktu kuliah, kami biasa dan bisa meriung bersama. Kongkow di mana saja.  Juga ini yang paling utama: berbicara tentang apa saja. Tanpa terkecuali.

Bahkan kepada saya dan kami yang berseberangan pandangan politik,  tentang bagaimana seharusnya berhadapan dengan rezim Orba, dia tetap baikbaik saja. Apalagi sekedar berpunggungan dukungan tentang siapa lebih jawara antara Michael Schumacher dan Mika Pauli Häkkinen.

Mas Moel adalah die hard Schummi,  sedangkan saya makmumnya “The Flying Finn”. Pejah gesang nderek mas Finn,  daripada mas Schummi, bagi saya.

Tapi tidak buat mas Moel. Schumi, “Schuey” atau “Schu” adalah jawara sejati,  yang hanya dirinya sendiri yang mampu mengalahkannya. Schumi bagi mas Moel adalah citra ideal seorang atlit dengan tingkat kematangan emosi, dan ketepatan perhitungan pengambilan keputusan dalam hitungan jenak, dan simbol keberanian yang tak termermaknai. Mbohlah mas. Sakkarepmu.

Mas Moel Purapura Sibuk di Meja Kerjanya. (SMNews/Benny Benke).

Berbilang tahun kemudian, atas nama sirkus nasib, saya sempat mampir di sirkuit Monaco Monte Carlo di Monaco. Sepelemparan kayu atau hanya satu jam menggunakan kereta cepat dari tempat saya tinggal di Juan Les Pains. Yang terletak di provinsi Alpes-Côte d’Azur, selatan Prancis, untuk sampai di stasiun Monaco-KOCHI, atau stasiun kereta Monte Carlo di Monaco.

Begitu kita keluar dari stasiun kereta yang berbatasan dengan Italia ini, sirkuit balap mobil F1 Monaco, Monte Carlo sudang menjelang.

Sirkuit legendaris ini, sangat dipercaya adalah palagan paling dinanti Schumi dan Hakkinen. Di momen ini biasanya, para penghikmat balap darat dunia, akan turut sok-sokan setegang Schumi dan Hakkinen. Termasuk mas Moel dan saya.

Azis Samsudin, Mas Moel dan Mimah Susanti. (SMNews/Benny Benke).

Begitu kaki saya injakkan di tanjakan garis Start, dan bersegera berfoto ria, seketika dengan kidmat saya upload foto di FB dan mengetek mas Moel. Maka terbakarlah emosi mas Moel.

Hohohoho jangan salah sangka. Mas Moel bukan tipikal anak kemarin sore yang baru kenal kehidupan. Sehingga dengan demikian keelokan sirkuit F1 Monaco, Monte Carlo mampu dengan mudah memperdayanya. Dia bukan persona semacam itu.

Dia hanya terkekeh. Mangkel tentu saja. Sambil barangkali diamdiam bersegera membesarkan hatinya. Sembari secara bersamaan melempar memori kolektif kami,  saat samasama masih menjadi pemuja dua superstar yang berbeda di palagan yang sama.Yang kebetulan, saat itu, hanya saya yang bisa menjejakinya.

Bahkan dalam momen lainnya,  hanya mahasiswa kurang ajar seperti saya dan kami, yang bisa ngobrol sama dosennya juga karibnya seperti mas Moel, di luar jam kuliah, sembari mencekek Vodka, Mansion, Bir Bintang juga Yang Dipertuan Agung Cong Yang Bir.

Dan dengan santainya mas Moel menyilahkan kami untuk berkawan dengan berbagai merek minuman itu. Kalaupun ada kawan yang malumalu, ngga enak hati, hingga akhirnya menghentikan prosesi “ngunjuk” nya,  saat mas Moel. jelma. Saya hanya ketawa ketiwi,  sembari berujar sekenanya:

“Mas Moel iki malekat nyaru dosen. Tenang wae, bocae dewe. Aman, ” kata saya. Mas Moel gedeggedek. Lalu kami ngobrol lagi tentang apa saja. Dari filsafat, pergerakan, teater, susastra sampai tasawuf.

Mas Moel, Mimah Susanti dan Agung Suprio. (SMNews/ Benny Benke).

Pokonya, baru sehari nongkrong di perpustakaan kampus, lagaknya sudah kayak yang paling maklum nasiblah. Kurang lebih seperti itu. Dan mas Moel hanya ngekek. Mungkin geli dengan tingkah kami. Ndakik-ndakik tapi pas ujian, bablas semua.

Besoknya, dalam mata kuliah yang diampunya, saya malah dapat nilai AB. Ajaib kan. Malekat dilawan!

Ketika saya menulis naskah Arok dan kemudian sekalian didapuk jadi sutradaranya, mas Moel sempat didapuk menjadi Arok. Dan berbesar hati turut latihan teater di PKM Joglo Undip, Jl. Imam Bardjo bersama kami. Sebelum akhirnya mas Moel mundur karena kepadatan skedul mengajarnya.

Mundur ke belakang. Saat bersama kawan lainnya mengontrak sepetak rumah di Pekunden, dia sempat serumah dengan kami, lengkap dengan VW Beatle kelir hijaunya.

VW Kodok ini bisa dengan tanpa ijin ujugujug berpindah ke tangan saya,  dan seketika menemani saya mutermuter ngga keruan di kota Semarang. Dan mas Moel,  baekbaek aja. Ajaib. Padahal VW mau dibawa ngajar di kampus Hayam Wuruk. Si empunya pemilik VW bisa dengan santai berpindah ke moda transportasi umum, menuju kampus. Seperti tidak ada apaapa.

Sementara kami para mahasiswa dan temennya ini pecicilan ngga keruan. Sholat lima waktu tetap dilunaskan dengan amanaman saja oleh mas Moel.  Dan proses mengajar sembari sesekali pacaran, juga dilakukan dengan tak kalah lancar pula.

Mungkin bagi sebagian orang, atau kakak kelas mas Moel, senior kami juga, mas Moel dipandang kurang pas. Karena tidak revolusioner, tidak cekat ceket, dan condong memilih jalur aman, dengan an sich memilih menjadi pengajar. Sementara yang lain bersemuka langsung dengan rezim Orba. Sehingga menjadi kelaziman setiap Fak Sastra punya acara, “Indomie Telor” ada di manamana.

Tapi bukankah kita tahu. Ada seribu alasan untuk menjadi tidak suka dengan seseorang. Tapi ada sejuta alasan, mengapa kita tidak boleh menghilangkan keobyektifitasan kita kepada seseorang. Adil sejak dari pikiran, kata Pram.

Hingga akhirnya nasib memaksa saya dan mas Moel berpisah,  sebagaimana sunnatulah, demi melunaskan nasib masingmasing. Dan nasib pula yang mempertemukan kami kembali, saat dia dipercaya menjadi anggota Komisioner KPI Pusat.

Ya, buah dari ketekunannya menjadi pemikir, pekerja dan organisatoris yang tekun itu, menghantarkannya menjadi satu dari sembilan (9) anggota Komisioner KPI Pusat.

Tercatat empat (4) dari anggota KPI Pusat periode 2019- 2022 telah menjabat di periode 2016-2019. Yakni, Agung Suprio, Hardly Stefano, Nuning Rodiyah, dan Yuliandre Darwis. Sisanya adalah Mulyo Hadi Purnomo, Aswar Hasan,  Irsal Ambia, Mimah Susanti dan Mohammad Reza.

Bahkan raihan suara mas Moel tertinggi bersama Nuning Rodiyah, yang mendapatkan 49 suara. Tapi pucuk pimpinan KPI Pusat, atas nama harmoni disepakatkan ke tangan Agung Suprio, yang mendapatkan 44 suara.

Mas Moel dan Raihan Suaranya. (SMNews/ Istimewa).

Ini tipikal mas Moel banget. Mengalah atas nama kerukunan. Doi lebih suka memilih menjadi Sunan,  alihalih menjadi Sultan. Yang penting everybody happy kalau mas Moel mah. Turunannya,  dia baikbaik saja sebagai Wakil Ketua KPI Pusat periode 2019-2022.

Yang penting buat mas Moel, obyektifitas dan kredibilitas terjaga. Selaras pesan pak JK di akhir purna tugasnya, saat pembukaan Rapat Pimpinan Nasional KPI dan KPID se-Indonesia di Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, Kebon Sirih Jakarta Pusat.

JK menekankan, KPI harus obyektif dalam menegakan aturan penyiaran agar kredibilitas lembaga terjaga, kepercayaan masyarakat menguat, industri segan dan patuh.

Meski KPI juga sempat menjadi bahan olokolok saat menggulirkan wacana KPI akan mengawasi Netflix dan koncokonconya. Plus saat Joko Anwar juga sempat turut merisak KPI kerana persoalan band KPI pada dialog film Gundala.

Tentang kasus yang terakhir itu, mas Moel, Wakil Ketua merangkap Anggota Bidang Pengawasan Isi Siaran mempunyai jawaban mustahaknya.

“Ah itu bisabisanya si Jokan jualan filemnya. Pinterpinternya dia aja biar publik aware pada filem Gundala, yang saat itu sedang tayang,” kata mas Moel kepada saya dan Nurman Hakim, Selasa (26/11) di sesela penjurian Anugerah KPI 2019 di kantor KPI Pusat,  Jakarta.

Mas Moel Memberikan Arahan dan Tuntunan kepada Staffnya. (SMNews/ Benny Benke).

Yang pasti, dosen FIB Undip yang harus cuti tiga tahun, demi menjadikan lembaga pengawas penyiaran ini disegani oleh instansi lainnya, itu berjanji akan bekerja cerdas, dan keras. Selaras dengan prinsip hidupnya: “hidup untuk sesama”. Sunan banget kan. (Benny Benke, Murid dari mas Moel yang Mursyid).



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *