Merayakan Kebingungan Faozan Rizal.

Jakarta, Suaramerdeka.News – Saat logika diolok-olok, sebelum kemudian nalar dilipat, maka bersiaplah berpakansi ke dunia fantasi milik Faozan Rizal.

Dalam film berjudul Abrakadabra yang ditulis dan disutradarai Faozan Rizal, dunia fantasi dihadirkan dengan caranya sendiri. Cara sukasuka, sesuka dan semerdeka kanakkanak bermain-main dengan dunianya. Yang sesak dengan fantasi. Mengatasi logika dan nalar, yang kadung dicitrakan musti tertib dan patuh norma.

Film produksi Fourcolurs Films yang diproduseri Ifa Isfansyah ini, bukan semata mengalir di luar mainstream film Indonesia kebanyakan. Yang galibnya menjunjung tinggi genre drama dan memedi (baca: horror). Agar raihan penontonnya diharapkan mendatangkan rezeki.

Tapi alihalih hanya berpikir persoalan “jualan”, film ini malah berani (mungkin nekat) menawarkan tontonan warna baru (?) bagi film Indonesia. Yang dewasa ini itu-itu saja coraknya.

Bahwa ada tone, corak, warna, frekwensi atau apapun namanya yang mengingatkan kepada sejumlah film manca, itu dua hal yang berbeda. Dan tak terhindarkan.

Seperti tone film The Grand Budapest Hotel (2014), salah satunya. Tapi abaikan film The Grand Budapest Hotel. Kita bicarakan saja Abrakadabra.

Yang dalam bahasa Aku Sutradara dibuat untuk, “Merayakan Kebingungan”. Karena berupaya melaraskan dunia film dan sulap dalam satu wadah. Dua dunia yang paling menarik hati Faozan Rizal ini, memang dibuat dengan semangat gembira ria. Bahagia.

Pendukung Film Abrakadabra. (SMNews/Benny Benke).

Jika efeknya membingungkan karena alur ceritanya surealis, juga cara penyajiannya mengaduk logika dan mencelat dari pakem. Tersebab penuh fantasi, dan dekat dengan dunia mainmain, maka nikmati saja.

Toh realitas kehidupan kita, mungkin juga Anda pasti lebih surealis dari film ini. Maka, sekali lagi, selamat datang di dunia fantasi versi Faozan Rizal. Yang secara visual sangat teater banget settingnya. Apik, asyik.

Ifa Isfansyah mengatakan, film yang akan rilis mulai pada Kamis 9 Januari 2020 ini, dibuat semata dengan semangat dan niat untuk memberikan ke-be-ra-ga-man. Ya, agar keberagaman terjadi dalam film Indonesia yang seragam temanya dewasa ini. Dan untuk itu film ini ada dan dihadirkan.

“Jadi (film ini) tidak melulu berpikir tentang pasar. Meski marketnya tipis, kami tetap menghitung (pendanaannya). Ya rugi ngga sih. Tapi ngga untung juga,” kata Ifa Isfansyah usai pratayang Abrakadabra di Plaza Indonesia, Rabu (8/1/2020), sembari mengakui film Abrakadabra tidak terlalu besar pasarnya.

Untuk itu Ifa bekerjasama dengan beberapa wilayah peredaran di luar Indonesia, seperti pasar Singapura.

Reza Rahadian bercerita, dari mulai ide film ini menurut dia sudah out of the box. Yang visualnya bahkan belum terlihat pada awalnya. “Dari awal saya dapat draft kasar skenario dari Pao (panggilan FR) tahun 2014-an, sampai akhirnya konsep yang tidak biasa film ini berjalan, ” katanya.

Perayaan kebingungan itu, juga diakui Jajang C. Noer. “Waktu diajak Pao dan Ifa, saya langsung OK. Bahkan saat di lokasi syuting saya juga bingung, jadi apa dan akan dialog apa. Pas dikasih dialog, ama jalannya ke mana waktu syuting, saya juga tetep bingung. Tapi bagus nggak (akting saya)? ” tanya Jajang C. Noer sembari mendaku di film ini dia tak perlu melakukan observasi.

Segendang sepenarian, Dewi Irawan juga mengaku sempat “halu” (mengacau) saat mendapatkan peran yang dilakoninya. Meski saat awal dihubungi Ifa Isfansyah langsung menyanggupinya. “Bingung tapi asyik, ” katanya.

Selain Reza Rahadian, Jajang C. Noer, Dewi Irawan, film ini juga diperani oleh Butet Kartaredjasa, dan sejumlah nama lainnya.

Ifa Isfansyah mengakui, eksplorasi visual film Abrakadabra sangat tidak baru sama sekali, jika dikomparasikan dengan film manca. “Karena industri film di luar jauh lebih maju dari Indonesia,” katanya.

Akhirnya, sejatinya Abrakadabra sangat tidak membingungkan ceritanya. Tentang pesulap yang hendak menjemput waktu pensiunnya. Tapi disilapkan oleh trik sulapnya sendiri.

Selebihnya, cerita mengalir dengan merdeka. Semerdeka merdekanya. “Yang pasti visi sutrdara merdeka di film ini. Saya sebagai produser hanya memberikan mainan kepada sutradara, sembari tetap memberi pagar dan (sesekali) njewer, ” kata Ifa sembari berharap film drama fantasinya berlatar dunia entah berantah ini, tetap didatangi penonton film Indonesia. (benny benke-69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *