Menjadikan Indonesia Sebagai Laboratorium Kebencanaan di Asia.

Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO).

Jakarta, Suaramerdeka.News — Kita bisa selamat dari bencana kalau kita paham pada bahaya bencana itu, dengan segala kesiapsiagaannya. Atau dengan kata lain, kita dapat selamat dari segala macam bencana jika menguasai sistem mitigasinya.

Demikian dikatakan Ir.Ir. B Wisnu Widjaja, Deputi Sistem dan Strategi BNPB, dalam Seminar Nasional Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan ekosistem dalam Penanggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Senin (24/2/2020).

Wisnu menambahkan, kesadaran masyarakat Indonesia atas pentingnya atas penguasaan sistem mitigasi kebencanaan masih kecil sekali. Buktinya, jika terjadi bencana banjir di sebuah wilayah, 50 persen lebih korban meninggal, bukan karena banjirnya. “Tapi tersengat listrik. Ini membuktikan peta mitigasi masyarakat kita sangat rendah sekali,” kata Wisnu B. Widjaja menambahkan.

Sebelumnya, Lucia Lim, pemerhati kebencanaan, juga menyoroti hal yang sama. Menurut dia, ketidaktahuan masyarakat atas berbagai jenis limbah Bahan Berbahaya dan Beracun atau B3. Atau semua bahan/ senyawa baik padat, cair, ataupun gas yang mempunyai potensi merusak terhadap kesehatan manusia serta lingkungan akibat sifat-sifat yang dimiliki senyawa tersebut. Sangat membahayakan peri kehidupan masyarakat itu sendiri.

“Padahal B3 adalah silent killer di luar berbagai bencana yang akrab di sekeliling kita, ” katanya.

Oleh karena itu, melek bencana atau mitigasi menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia. Tersebab dengan melek mitigasi, peminimalisiran korban atas sebuah bencana dapat dilakukan. Lewat cara apapun, juga lewat sosial media. Oleh karena dari sekitar 268 juta penduduk Indonesia, terdapat 355 juta smartphone.

Lucia Lim. (SMNews/Bb).

Sehingga diharapkan dari telpon pintar itu, kesadaran mitigasi dapat dilakukan. Caranya dengan mengubah informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu mengambil keputusan berbasis media sosial.

Dalam catatan panitia seminar, berdasarkan analisis para ahli, bencana yang disebabkan oleh fenomena alam di seluruh dunia sekitar 45 persen terjadi di kawasan Asia.

Indonesia yang berada di kawasan cincin api (ring of fire) yang mengoleksi 500 gunung api dengan 127 di antaranya merupakan gunung api aktif, dan berada di titik pertemuan tiga lempeng bumi: lempeng Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia tak luput dari ancaman bencana.

Dan itu menjadikan Indonesia layaknya sebuah ‘laboratorium’ bencana di kawasan Asia.

Peristiwa bencana gempa dan tsunami di Banten (Selat Sunda) dan Palu (Sulawesi Tengah) pada akhir 2018 lalu? Tak hanya menelan korban lebih dari 1.000 jiwa, peristiwa itu pun menimbulkan kerugian sosial ekonomi bagi Indonesia.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) kerugian gempa dan tsunami di Palu ditengarai mencapai lebih dari Rp 18 triliun. Sementara kerugian dari bencana gempa dan tsunami di Banten ditengai mencapai lebih dari Rp 200 miliar.

Kelalaian manusia dalam menjaga ekosistem juga kerap menimbulkan petaka, semisal banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah menjelang pergantian tahun 2020. Jumlah korban jiwa akibat bencana itu ditengarai mencapai puluhan orang, dan menimbulkan kerugian sosial, lingkungan, dan materiil yang juga tak sedikit.

Bencana yang datang silih berganti itu sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dan juga negara lainnya di Asia, terkait mitigasi dan penanganan bencana. Dan untuk mengurai problematika terkait kebencanaan itu bukanlah semata tugas pemerintah, melainkan juga peran serta aktif seluruh elemen masyarakat.

Oleh karena itu, paradigma tentang kebencanaan harus dipahami secara kolektif bahwa “Bencana Merupakan Urusan Bersama’. Partisipasi aktif dari kelima unsur Pentahelix (pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media) pun menjadi faktor kunci terkait dengan manajemen bencana di Indonesia.
Terkait dengan banjir dan longsor misalnya. Dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mendisiplinkan diri tak membuang sampah di sembarang tempat. Atau meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut menjaga ekosistem dan kelestarian lingkungan. Demikian juga dengan pemerintah yang diharapkan mampu mengeluarkan regulasi dan kebijakan yang berpihak pada mitigasi dan penanganan kebencanaan.

Kompleksitas perihal kebencanaan itulah yang menginspirasi BNPB dan Expoindo Kayanna Mandiri untuk menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan Ekosistem Dalam Penanggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal”.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan wawasan seluruh elemen bangsa terkait pemanfaatan teknologi, dan menjaga ekosistem berbasis kearifan lokal dalam penanganan bencana.

Seminar Nasional ini merupakan rangkaian acara Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) yang berlangsung pada 20-22 Oktober 2020 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. ADEXCO sebagai pameran dan konferensi terbesar di dunia terkait kebencanaan, merupakan upaya untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat solusi kebencanaan di kawasan Asia.

Mengusung tagline ‘Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita’ ADEXCO diikuti oleh 300 exhibitor yang memamerkan hulu dan hilir industri kebencanaan.

Mulai dari Disaster Alarm & Warning System, Fire Protection Equipment, Power Device, CCTV, hingga Emergency & Rescue Equipment. Adapun jumlah pengunjung (potensial visitor) yang ditargetkan oleh penyelenggara sebanyak 10.000 pengunjung.

Pada sesi konferensi, ADEXCO menampilkan 20 pembicara yang akan memaparkan kebencanaan dari berbagai perpekstif, dari sisi politik, regulasi, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan juga kesehatan.

Beberapa tema yang dibahas diantaranya tentang Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana, Pengaplikasian Inovasi Teknologi Dalam Manajemen Bencana, serta topik terkait dengan Evaluasi Bencana Sebagai Bahan Analisa Risiko Bencana yang Akan Datang.

Dalam rangkaian ADEXCO juga terdapat beberapa workshop sebagai sarana para exhibitor untuk memperkenalkan produk dan inovasi dalam memberikan solusi perihal kebencanaan. Selain itu, guna meningkatkan wawasan dan kepedulian masyarakat terhadap bencana, penyelenggara juga akan menyajikan serangkaian program edukasi untuk masyarakat. (benny benke — 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *