Menjadi Relawan Internasional

Raden Aliyya Putri Kusuma (19) yang sering dipanggil Putri, menjadi relawan internasional adalah tantangan yang menarik. Karena itu ketika ada kesempatan untuk menjadi relawan internasional Global Volunteer dia lansung mendaftar.

Global Volunteer merupakan suatu program relawan internasional, dimana pesertanya bisa menjadi seorang relawan di negeri orang. Dengan Global Volunteer seorang exchange participant yaitu sebuah sebutan yang diberikan kepada peserta yang mengikuti program ini, diberikan kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam memperbaiki dunia.

Program ini dikembangkan dengan cara mengimplementasikan salah satu dari 17 Sustainable Development Goals yanga dibuat Persatuan Bangsa Bangsa. Korea Selatan selalu menjadi salah satu destinasi wisata yang ingin dikunjungi oleh banyak orang, termasuk Putri yang kini kuliah di Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed.

Dia tidak takut mengikuti program ini karena memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik. Putri pernah menjadi juara 2 Lomba Debate se eks Karisidenan Banyumas tahun 2016, dan Juara 2 English Line Competition tingkat nasional tahun 2018.

Putri bersyukur karena diberikan kesempatan untuk mengunjungi negara tersebut, bukan hanya sebagai suatu kunjungan wisata melainkan juga sebagai suatu kunjungan untuk belajar dan mengembangkan bakat serta kemampuan putri dalam bidang bahasa Inggris. Dia memilih Sustainable Development Goals yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan anak-anak di dunia.

Alasan Putri memilih program ini karena dia yakin bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan yang bisa meningkatkan taraf hidup dari seorang anak yang nantinya akan berpengaruh pada perannya untuk memperbaiki dunia. Hal ini terbukti dengan kunjungan Putri sebagai salah satu exchange participant ke negeri ginseng tersebut.

Di Korea Selatan, Putri diberikan sebuah tanggung jawab untuk menjadi salah satu pengajar di Winter Camp yang diadakan oleh salah satu kampus disana selama sepuluh hari, membimbing anak-anak usia 10 sampai 13 tahun.

“Kami diharuskan untuk menjadi seorang penanggung jawab dari masing-masing kelas,” katanya.

Kelas dibagi berdasarkan hasil akhir dari tes bahasa inggris yang diadakan satu hari sebelum pembagian kelas dilaksanakan. Putri menjadi seorang penanggung jawab dari kelas dengan nilai paling rendah pada saat tes bahasa inggris. Hal tersebut lantas tidak membuat dia kecewa. Sebaliknya, Putri merasa terhormat karena dipercayai untuk membimbing mereka yang dirasa belum cukup kemampuannya dalam bahasa Inggris.

Dalam kelas dia diberikan instruksi untuk membawakan presentasi mengenai kearifan lokal yang dimilik oleh Indonesia. Indonesia tidak pernah gagal untuk membuat para warga negara asing takjub dengan potensi budaya dan keindahan yang dimilikinya. Dia juga memiliki tanggung jawab untuk menemani dan menjaga anak-anak apabila pengajar lain yang diharuskan untuk memberikan materi kepada mereka.

“Dalam 10 hari tersebut, kami menjadi sangat dekat. Dan dengan kedekatan ini, proses belajar mengajar dapat berjalan lebih baik. Anak-anak menjadi lebih mudah diatur, mereka memperhatikan dan mendengarkan saat saya menjelaskan,” ungkapnya.

Pada suatu hari dia menugaskan anak-anak untuk menulis jurnal mengenai hal-hal yang mereka lakukan di kelas. Putri terkejut saat mengoreksi jurnal mereka setelah selesai kelas, karena menemukan sebuah jurnal yang didalamnya tertulis “I like Putri teacher”.

Belum cukup sampai disitu, anak-anak kembali mengejutkannya pada saat hari terakhir Winter Camp. Di hari terakhir ini setiap kelas diharuskan untuk mempresentasikan suatu karya. Kelas Putri memilih untuk mempresentasikan tentang keindahan negara Indonesia dan juga Irlandia.

Saat waktunya presentasi, anak-anak berdiri di depan kelas mempresentasikan tentang kedua negara tersebut secara fasih dan lancar tanpa melupakan setiap detail kecil mengenai kedua negara tersebut. Dia merasa terkejut sekaligus haru. Dengan hal tersebut dia sadar telah berhasil menjadi seorang guru yang baik bagi mereka.

Membimbing mereka from zero to hero, dari yang tadinya tidak berani berbicara sama sekali sampai pada akhirnya mereka dapat berbicara didepan kelas tanpa rasa malu sama sekali. Ternyata keberhasilan ini bukan hanya dirasakan oleh Putri, namun juga dirasakan oleh anak-anak.

Pada saat perpisahan mereka semua memeluk Putri bersama-sama sambil mengakatan, “Teacher don’t go, I like Putri teacher. Thankyou for teaching about Indonesia and English”.

Tangisan Putri tak lagi dapat terbendung, mereka mengatakan itu sambil menahan tangis dengan pipi gembil kemerahan akibat udara dingin yang ada di Seoul waktu itu. “Kami pun bertukar nomor telepon dan berjanji akan selalu terus berhubungan,” ujarnya.(Khoerudin Islam-60)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort