- Pariwista

Menikmati Wisata di “Dapur” Kopi

MENGHABISKAN waktu liburan di obyek wisata, tentu sudah biasa. Kenangan itu pun bisa didokumentasi dengan mengunggahnya di akun media sosial, seperti Instagram, Facebook, atau akun berbagi foto lain. Tapi liburan model itu menjadi tidak eksklusif ketika banyak orang mendatangi obyek wisata yang sama dan mengunggahnya di dunia maya.
“Ooh ke situ ya. Kemarin aku juga baru dari situ,” dan sebagainya.

Buat orang yang haus akan hiburan, obyek wisata tak semata-mata menjadi tujuan. Bagi mereka, pengalaman sebagai sebuah proses kadang lebih memberikan hiburan ketimbang menikmati produk jadi.
Itulah sebabnya channel dan program TV yang menggambarkan bagaimana proses pembuatan produk atau pengerjaan sebuah proyek banyak menarik pemirsa, di luar penyajian tentang produk dan proyek itu sendiri.

Nah. Berkaca dari sinilah, industri wisata kini mulai bergerak untuk mengubah paradigma, dengan tidak lagi semata menjual obyek, tetapi mulai menawarkan wisata experience. Seperti kampung wisata edukatif Cinangneng Bogor yang menawarkan pengalaman keluarga bercocok tanam, memandikan kerbau dan sebagainya, atau rumah keramik F Widayanto di Depok yang memberikan pengalaman anak-anak serunya membuat kerajinan mulai dari membentuk tanah liat, membakarnya di tungku oven, sampai produk jadinya yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Wisata alternatif inilah yang tampaknya coba dilirik manajemen Mesastila Resort & Spa Magelang dalam mempromosikan hotelnya. Alih-alih menjual Borobudur sebagai obyek tujuan wisatawan, mereka menawarkan pengalaman tinggal di hotel itu untuk menikmati kopi dan melihat proses pembuatannya, mulai dari panen biji kopi, pemanggangan hingga hasil akhir yang disajikan dalam secangkir kopi hangat.
MesaStila berlokasi di Desa Losari Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang dan hanya berjaram sekitar 1 kilometer dari jalan raya Yogya-Semarang. Berdiri di atas lahan seluas 22 hektar, 11 hektar di antaranya digunakan untuk perkebunan kopi. Karena sejatinya oleh pemilik pertama yang berkewargaan Belanda kawasan ini memang dikembangkan untuk perkebunan kopi. Separuhnya lagi untuk bangunan resort dan fasilitas pendukungnya.

Resor dikelilingi perbukitan indah dan diapit 7 gunung; yakni Andong, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sindoro, Menoreh dan Sumbing. Sebelum Sandiaga Uno mengambilalih dari pemilik kedua, Gabriella Teggia, pengusaha berkebangsaan Itali pada 2011, resort ini awalnya bernama Spa Retreat and Coffee Plantation.

Jalan Setapak

Karena itulah sekeliling areal ini dipenuhi jalan setapak yang kiri-kananya ditumbuhi tanaman kopi. Obyek inilah yang sengaja dijual ke wisatawan untuk dinikmati, termasuk kopi yang disajikan kepada para tamu. Tamu yang menginap di resor ini akan dibawa berkeliling kebun kopi, dan melihat dan terlibat langsung dalam proses pemanggangan biji kopi hingga penggilingannya menjadi kopi bubuk yang siap diseduh.

Selain menyediakan jasa penginapan dan coffee plantation tour, MesaStila yang sebagian besar bangunannya didominasi unsur kayu dan batu juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti pertamanan, relaksasi, tradisi, rekreasi, dan wahana pembelajaran tentang kebudayaan Jawa.

Salah satu keunikan MesaStila adalah bangunan lobinya. Pada saat merintis hotel ini, Gabriella sengaja memboyong bangunan bekas Stasiun Mayong, Jepara, ke lokasi resort dengan mempertahankan bentuk asli, termasuk loket dan tulisan “Mayong-Losari 905 M”.

Jadi kalau tertarik merasakan tinggal di bangunan lama peninggalan Belanda sambil menikmati sensasi mengolah kopi langsung dari dapurnya, Mesastila bisa menjadi salah satu pilihannya.(Fauzan Jayadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *